Pemda TTS Lakukan Upacara Bersama Peringatan Harganas 2026, Dorong Peningkatan Peran Ayah
Oby Lewanmeru June 29, 2026 10:25 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok

POS-KUPANG.COM, SOE - Mengusung tema Ayah Wajib Hadir, Peringatan hari keluarga nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 dirayakan dengan upacara bersama seluruh ASN lingkup Pemerintah Daerah kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). 

Bertempat di Halaman Kantor Bupati TTS, pada Senin (29/6/2026), penegasan peningkatan peran ayah terus didorong dalam berbagai rangkaian kegiatan yang telah dijalankan sebelumnya oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten TTS. 

Hadir dalam upacara ini Bupati TTS, Wakil bupati TTS, Sekretaris Daerah Kabupaten TTS, Asisten Sekda, Staf Ahli, Pimpinan OPD, dan seluruh ASN. 

Dalam kesempatan ini, Bupati TTS, Eduard Markus Lioe membacakan sambutan Menteri Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga /Kepala bkkbn, dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd.

Baca juga: Harganas 2026, Dinas P2KB TTS Dorong Gerakan Ayah Teladan Indonesia, Sasar para Ayah dan Calon Ayah

Dalam pidato tersebut, ia menegaskan bahwa hari keluarga nasional menjadi sebuah jeda 
kultural dan refleksi nasional, untuk menengok kembali rumah  dan bertanya: Sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman, tangguh, dan siap melahirkan generasi pemenang?

"Kita berdiri di panggung peradaban modern yang bergerak cepat, sebuah Era VUCA— sebuah lanskap global yang dicirikan oleh gejolak/perubahan cepat (Volatility), ketidakpastian (Uncertainty), kerumitan 
(Complexity), dan kebingungan arah (Ambiguity)," sebut Eduard.

Ia melanjutkan bahwa hari-hari ini disrupsi teknologi digital dan pergeseran nilai sosial masuk tanpa permisi ke ruang keluarga melalui gawai di genggaman anak-anak. Jika institusi keluarga rapuh, arus zaman ini akan dengan mudah menggilas masa depan anak-anak. 

Hal tersebut maka menjadikan keluarga tangguh bukanlah pilihan alternatif, melainkan keharusan mutlak dan urgensi nasional.

Dimana Ketangguhan keluarga ini berkorelasi linear dengan masa depan Indonesia. 

"Kita sedang berada di jendela peluang historis yakni Bonus Demografi. Ini merupakan peluang yang bisa melesatkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia. Namun kondisi ini bisa berubah menjadi bencana demografi jika ledakan pengangguran dan runtuhnya stabilitas sosial, jika ledakan usia produktif ini tidak berkualitas," tutupnya. 

Menurutnya transformasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak boleh ditunda, dan itu tidak 
dimulai dari bangku sekolah atau dunia kerja, melainkan dari dalam rahim ibu dan pengasuhan keluarga.

Untuk mengapitalisasi bonus demografi tersebut, penting untuk memperkuat tiga pilar utama 
pembangunan keluarga, yaitu kesehatan, pendidikan karakter dan ketahanan mental. 

Pertama, Kesehatan. Kita harus menuntaskan stunting. Anak yang terhambat perkembangan 
otaknya akan kesulitan bersaing di era kecerdasan buatan.

Pemenuhan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan harus menjadi gerakan nasional di setiap dapur keluarga.

Kedua, Pendidikan Karakter. Jadikan rumah sebagai madrasah abad 21. Di sinilah integritas, kejujuran, dan kedisiplinan ditanamkan untuk mencetak manusia adaptif dan kolaboratif.

Ketiga, Ketahanan Mental. Jadilah pelabuhan emosional yang stabil di tengah era yang penuh 
tekanan, agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang resilien dan tidak mudah menyerah.

"Perbaikan kualitas SDM ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di pundak Ibu. Kepada para Ayah di seluruh Indonesia, kehadiran fisik dan kedekatan emosional Anda adalah penentu kestabilan struktur kepribadian anak," tegasnya. 

Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country—di mana Ayah hadir secara fisik, namun absen secara psikologis. Kekosongan ini sering kali digantikan oleh musuh di dalam rumah, seperti handphone dan sebagainya. 

Jangan biarkan masa depan dan pola pikir anak-anak kita dikuasai oleh algoritma digital 
yang tidak bermoral. Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. 

Wahai para Ayah, letakkan gawai Anda di rumah, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog, dan batasi waktu layar (screen time) mereka pada hal-hal yang produktif.

Kelalaian pengasuhan dan absennya figur orang tua ini memiliki dampak langsung pada meledaknya patologi sosial yang mengerikan hari ini.

Tawuran antarpelajar, perundungan (bullying), pergaulan bebas, hingga cengkeraman narkoba adalah alarm darurat bahwa fungsi keluarga sedang malafungsi. 

Anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba sering kali adalah mereka yang kurang kasih sayang di rumah, sehingga mencari pelarian semu di jalanan.

"Oleh karena itu, saya mengimbau seluruh orang tua: Tangkal semua ancaman ini dari dalam rumah kita sendiri! Jangan tunggu sampai anak kita menjadi korban atau pelaku. 

Benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan, sehingga ke mana pun anak kita melangkah, magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka pulang ke jalan yang benar," tutupnya. (any)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.