TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kesuksesan penyelenggaraan Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 di Makassar tak hanya memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada dunia.
Tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas.
Forum berlangsung pada 25-26 Juni 2026 itu dihadiri 41 delegasi dari 28 negara.
IGS adalah program strategis Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang memanfaatkan kekayaan kuliner atau gastronomi Nusantara sebagai instrumen diplomasi.
Forum ini bertujuan memperkuat promosi daerah, mendorong sinergi antara kuliner, budaya, investasi, dan pariwisata.
Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kota Makassar, Andi Zulfitra Dianta mengatakan penjajakan memang belum sampai pada tahap penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Namun, antusiasme para delegasi menunjukkan besarnya ketertarikan terhadap berbagai potensi yang dimiliki Makassar dan daerah lain di Sulsel.
"Ada sekitar delapan negara membangun komunikasi dan ke depan tertarik untuk kerja sama," kata Zulfitra, Senin (29/6/2026).
Baik melalui skema sister city, investasi, pendidikan, perdagangan, hingga pertukaran budaya.
"Sebenarnya, banyak delegasi melihat Makassar memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama," katanya.
Delapan negara yang tertarik dengan potensi Makassar adalah Kosta Rika, Fiji, Polandia, Malaysia, Kamboja, Ukraina, Tunisia, dan Belanda.
Zulfitra mengatakan, masing-masing negara menunjukkan minat kerja sama pada sektor yang berbeda sesuai dengan keunggulan dan kebutuhan masing-masing.
Baca juga: Pemkot Makassar Gandeng 55 Sekolah Swasta, Siswa Tak Lolos Negeri Tetap Gratis Sekolah
Delegasi Kosta Rika, misalnya, menawarkan peluang kolaborasi dalam bidang kesiapsiagaan bencana.
Negara tersebut memiliki pengalaman panjang dalam membangun sistem mitigasi bencana melalui pendekatan multipihak yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat.
"Kolaborasi lewat penjajakan ini, relevan bagi Makassar sebagai kota pesisir yang terus memperkuat sistem ketahanan terhadap berbagai potensi bencana," kata Zulfitra.
Delegasi perwakilan Fiji menunjukkan ketertarikan terhadap produk palm sugar (gula aren atau gula semut) yang diproduksi UMKM Sulsel.
Ketertarikan tersebut berkaitan dengan upaya negara Fiji mencari alternatif pemanis yang lebih sehat untuk membantu menekan tingginya angka penderita diabetes.
Di sektor pendidikan, delegasi Polandia membuka peluang kerja sama melalui penguatan hubungan akademik, pertukaran pelajar dan dosen, riset bersama, hingga penyediaan akses beasiswa.
Negara tersebut juga mendorong pertukaran budaya melalui pengenalan literatur dan kebudayaan Polandia kepada masyarakat Indonesia.
Untuk Tunisia, pembahasan lebih diarahkan pada peluang perdagangan komoditas, khususnya kurma.
Serta penjajakan investasi melalui pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Kurma merupakan salah satu komoditas dengan permintaan tinggi di pasar Indonesia sehingga membuka peluang kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan.
Dengan Malaysia, pembahasan difokuskan pada pertukaran budaya (cultural exchange) serta promosi sektor pariwisata.
Delegasi Malaysia menilai Makassar memiliki kekayaan budaya dan destinasi wisata yang potensial untuk dipromosikan melalui berbagai program kolaboratif.
"Tren wisata global yang kini mengarah pada pengalaman autentik dinilai menjadi peluang besar bagi Makassar untuk menawarkan wisata berbasis budaya, sejarah, hingga kuliner," jelas Zulfitra.
Ukraina, penjajakan lebih diarahkan pada hubungan persahabatan antarkota sebagai bentuk penguatan hubungan internasional dan dukungan moral di tengah situasi yang masih dihadapi negara tersebut.
Pemkot Makassar menyampaikan harapan agar dapat difasilitasi tenaga ahli (expert) dalam pengembangan pertanian modern, khususnya budidaya tomat berbasis teknologi sebagaimana yang diterapkan di Belanda.
Bersama Belanda, Pemkot menjajaki peluang kerja sama pengembangan urban farming.
Juga dibahas peluang membangun kerja sama sister city dengan salah satu kota di Belanda.
IGS 2026 membuktikan diplomasi melalui kuliner mampu menjadi instrumen efektif untuk memperkuat hubungan internasional.
Pemerintah Kota Makassar membukukan 37 peluang bisnis (business lead) dari perwakilan diplomatik negara.
Capaian diraih melalui sesi Business Forum dan Business-to-Business (B2B) Matching yang mempertemukan 20 perusahaan dan UMKM lokal dengan para delegasi asing.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Makassar, Muhammad Mario Said mengatakan hasil tersebut menjadi bukti forum diplomatik yang digelar Pemerintah Kota Makassar mampu membuka akses pasar internasional sekaligus menarik minat investor terhadap potensi daerah.
Dari puluhan peluang bisnis, empat kerja sama prioritas kini memasuki tahap penjajakan lanjutan.
Pengembangan kopi & coffee shop
Joint venture industri gula aren
Transaksi fesyen menuju tahap MoU
Penjajakan ekspor produk perikanan.(*)