TRIBUNNEWS.COM - Format baru yang diterapkan pada ajang Piala Dunia 2026 menciptakan berbagai efek domino, salah satunya menyoal bagan fase gugur turnamen.
Kebetulan, negara-negara Eropa yang punya tradisi kuat sepak bola terpaksa harus saling bertemu di bagan yang sama.
Merujuk pada bagan fase gugur Piala Dunia 2026, negara besar Eropa seperti Jerman, Prancis, Spanyol dan Portugal diketahui berada di sisi yang sama.
Artinya, keempat negara tersebut harus saling sikut untuk saling menyingkirkan demi satu tiket lolos ke final Piala Dunia 2026.
Salah seorang Football Enthusiast, Bayu Ajianto tak menampik kemungkinan bahwa bagan fase gugur Piala Dunia 2026 terkesan tidak seimbang.
Salah satu hal yang ia soroti ialah format baru turnamen Piala Dunia 2026 yang menyebabkan ketidakseimbangan tersebut.
Terbukti, negara yang menjadi kandidat juara seperti Prancis, Spanyol dan Portugal berada di bagan yang sama.
"Kalau saya melihat bagan fase gugur Piala Dunia 2026, kesan pertama adalah sangat tidak seimbang," kata Bayu Ajianto saat dihubungi Tribunnews, Senin (29/6/2026) hari ini.
"Dengan format baru yang berisi 48 tim, memang hampir mustahil membuat jalur yang benar-benar seimbang,"
"Namun, hasil akhirnya tetap memunculkan beberapa sisi yang terasa jauh lebih berat dibandingkan sisi lainnya,"
"Di satu sisi bracket, kita berpotensi melihat negara unggulan seperti Jerman, Prancis, Belanda harus saling menghabisi lebih awal,"
"Sementara di sisi lain, beberapa tim favorit relatif punya jalur yang sedikit lebih bersahabat meski tetap tidak bisa dianggap mudah," tukasnya.
Baca juga: Sorotan Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Koeman Adaptif, Oranje Menanti Ledakan Brobbey
Lebih lanjut, Bayu Ajianto merasa siapapun tim yang berkeinginan menjadi juara turnamen, tidak hanya melulu soal harus tampil sempurna saja.
Melainkan juga ada faktor keberuntungan yang secara tidak langsung tidak dilepaskan, jika sebuah tim ingin menjadi yang terbaik di sebuah turnamen.
"Kondisi bagan seperti ini jelas membuat peluang menuju semifinal atau final tidak hanya ditentukan kualitas tim, tetapi juga beruntungan hasil undian dan posisi akhir di fase grup," jelas Bayu.
"Yang menarik juga ialah format 32 besar membuat tidak ada lagi ruang menghemat tenaga, begitu lolos grup, setiap laga selayaknya hidup mati,"
"Satu hari buruk saja bisa mengakhiri perjalanan tim tersebut, inilah yang membuat potensi kejutan jauh lebih besar dibandingkan edisi-edisi sebelumnya," tukasnya.
Bayu Ajianto juga menyoroti situasi format baru inilah yang membuat Piala Dunia 2026 punya daya tarik tersendiri, terlepas dari pro kontra baik di dalam maupun lapangan.
"Pada akhirnya, menurut saya inilah daya tarik Piala Dunia, banyak pihak mungkin memperdebatkan apakah bagannya adil atau tidak," jelas Bayu.
"Tetapi justru kondisi seperti itu melahirkan narasi besar, bahwa siapa yang benar-benar layak menjadi juara adalah tim yang bisa mengalahkan tim manapun, terlepas dari seberapa apa jalur yang harus dilewati,"
"Melihat bagan saat ini, saya rasa perjalanan menuju podium juara akan terasa seperti final sejak babak 32 besar," tukasnya.
Tak bisa disangkal, format Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 negara memang punya pengaruh besar ke jumlah pertandingan, hingga format babak fase gugur.
Jika pada edisi-edisi sebelumnya, babak fase gugur Piala Dunia dimulai dari 16 besar, berbeda dengan edisi sekarang yang baru dimulai di babak 32 besar.
Artinya tidak hanya tim yang menyandang predikat juara grup dan runner-up saja yang lolos ke fase gugur.
Melainkan, ada juga tambahan slot yang berasal dari delapan negara dengan predikat penghuni peringkat ketiga terbaik, yang juga berhak lolos ke fase gugur.
Kebetulan pada edisi kali ini, ada beberapa laga menarik yang langsung tersaji di babak 32 besar.
Sebut saja pertempuran Belanda selaku juara Grup F yang dipertemukan dengan Maroko sebagai runner-up dari Grup C.
Brasil yang berstatus sebagai jawara Grup C juga akan mendapat tantangan menarik dengan menghadapi Jepang selaku runner-up Grup F.
Sementara itu, Argentina selaku juara bertahan sekaligus penguasa Grup J, akan mendapat ujian tak terduga dari Cape Verde yang secara mengejutkan bisa lolos sebagai peringkat ketiga terbaik.
Di atas kertas, Argentina seharusnya bisa mengakhiri dongeng indah yang ingin diciptakan negara asal Afrika tersebut di babak 32 besar.
Andai bisa melewati Cape Verde, Argentina hanya akan bertemu dengan pemenang Australia vs Mesir, yang secara kualitas juga di bawah level tim Tango.
Ujian terberat Argentina barangkali baru tersaji di babak semifinal, ketika tim seperti Brasil atau Inggris berpotensi menjadi lawan terkuat mereka di fase gugur.
Melihat rute perjalanan Argentina di fase gugur Piala Dunia, tak salah jika menganggap keberuntungan besar kembali berpihak ke tim besutan Lionel Scaloni.
Tantangan menarik juga bakal dihadapi tiga negara yang berstatus tuan rumah di babak fase gugur.
Amerika Serikat dipastikan akan bertempur melawan Bosnia, Kanada jumpa Afrika Selatan dan Meksiko saling sikut dengan Ekuador.
Laga perdana babak 32 besar Piala Dunia 2026 akan langsung dibuka dengan duel antara Afrika Selatan vs Kanada, Senin (28/6/2026) dinihari nanti.
Adapun untuk pertandingan penutup babak ini akan mempertemukan Kolombia vs Ghana pada Sabtu (4/7/2026) pekan depan.
Senin, 29 Juni 2026
Pukul 02.00 WIB - Afrika Selatan vs Kanada
Selasa, 30 Juni 2026
Pukul 00.00 WIB - Brasil vs Jepang
Pukul 03.30 WIB - Jerman vs Paraguay
Pukul 08.00 WIB - Belanda vs Maroko
Rabu, 1 Juli 2026
Pukul 00.00 WIB - Pantai Gading vs Norwegia
Pukul 04.00 WIB - Prancis vs Swedia
Pukul 08.00 WIB - Meksiko vs Ekuador
Pukul 23.00 WIB - Inggris vs RD Kongo
Kamis, 2 Juli 2026
Pukul 03.00 WIB - Belgia vs Senegal
Pukul 07.00 WIB - Amerika Serikat vs Bosnia and Herzegovina
Jumat, 3 Juli 2026
Pukul 02.00 WIB - Spanyol vs Austria
Pukul 06.00 WIB - Portugal vs Kroasia
Pukul 10.00 WIB - Swiss vs Aljazair
Sabtu, 4 Juli 2026
Pukul 01.00 WIB - Australia vs Mesir
Pukul 05.00 WIB - Argentina vs Cape Verde
Pukul 08.30 WIB - Kolombia vs Ghana
(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)