SURYA.CO.ID, GRESIK - Skuad anyar DPC PKB Kabupaten Gresik melancarkan modus pergerakan taktis lewat konsep politik kehadiran demi mengunci kemenangan mutlak dan memperluas basis dukungan massa akar rumput menjelang pelantikan kepengurusan periode 2026-2031.
Langkah konsolidasi internal itu sengaja dikemas dalam ajang sarasehan dan silaturahmi untuk menyamakan arah gerak organisasi.
Seluruh elemen struktural hingga tingkat ranting kini diwajibkan menyatu dengan masyarakat tanpa harus menunggu momentum pesta demokrasi dimulai.
Baca juga: Dipimpin Syahrul Munir, Formasi Pengurus Baru DPC PKB Gresik Diisi Kader Eks PMII, HMI, dan GMNI
"Insyaallah komitmen kami sebagai pengurus DPC PKB adalah memasifkan politik kehadiran ke PAC, masyarakat, dan ranting. Kami ingin PKB benar-benar hadir di tengah masyarakat, bukan hanya menjelang pemilu," ujar Calon Ketua Definitif DPC PKB Gresik, Muhammad Syahrul Munir, Senin (29/6/2026).
Pria yang akrab disapa Syahrul itu mengingatkan bahwa jabatan Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) bukan tujuan utama dalam berpartai.
"KSB itu jabatannya hanya tiga. Kami berharap itu tidak menjadi tujuan utama berpartai. Semua kader memiliki fungsi masing-masing. Wakil ketua punya pembidangan, ada organisasi, kehumasan, dan lainnya. Karena itu kami ingin seluruh pengurus meningkatkan kerja bersama sesuai tugasnya masing-masing," katanya.
Politisi muda itu sangat optimistis penambahan perolehan kursi legislatif dapat dicapai dengan mudah apabila pola komunikasi internal berjalan kokoh.
"Kunci mempertahankan kemenangan dan meningkatkan suara maupun kursi PKB adalah komunikasi, politik kehadiran, dan kebersamaan," tegas Syahrul.
Baca juga: DPP PKB Resmi Tunjuk 38 Ketua DPC se-Jawa Timur Periode 2026-2031
"Silaturahmi malam ini bukan sekadar bertemu. Dari silaturahmi lahir silatul fikrah atau sambung gagasan, kemudian kita olah menjadi silatul jihad, yakni gerakan perkhidmatan untuk umat," ujar calon Ketua Dewan Syuro Definitif PKB Gresik, KH Chusnan Ali.
Tokoh ulama itu menilai jalinan kedekatan emosional eksternal dengan para pemuka agama di desa-desa jauh lebih ampuh untuk mendongkrak marwah partai.
"Komunikasi harus menembus batas-batas eksternal, tidak hanya di struktural internal. Kiai-kiai kampung dan guru-guru ngaji harus terus kita sambangi dan kita mintai doa," katanya.
Ia juga meminta para kader agar tidak memiliki keraguan sedikit pun dalam mengejar target kekuasaan demi kemaslahatan publik secara luas.
"Kita tidak boleh ragu dalam upaya merebut kepemimpinan secara konstitusional. Kita wajib berupaya secara rasional dan terukur," imbuh KH Chusnan Ali.