TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Arus investasi perusahaan Jepang yang terus mengalir ke Indonesia mulai mengubah kebutuhan pasar tenaga kerja nasional.
Jika sebelumnya kemampuan berbahasa Jepang identik dengan profesi penerjemah, kini kompetensi tersebut menjadi nilai tambah yang semakin dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan, mulai dari administrasi, penjualan, sumber daya manusia (SDM), keuangan, teknik, hingga posisi manajerial.
Perubahan kebutuhan tersebut sejalan dengan ekspansi bisnis perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi Jepang sepanjang 2021–2025 mencapai 17,1 miliar dolar AS dengan pertumbuhan rata-rata 13,2 persen dan menyerap hampir 279 ribu tenaga kerja.
Jepang pun masih menjadi salah satu dari lima investor terbesar di Indonesia.
CEO Peoplyee, Kenichi Fujiki, mengatakan tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi terbatas pada jumlah SDM yang menguasai bahasa Jepang, melainkan belum optimalnya koneksi antara para pencari kerja dengan kebutuhan industri.
Baca juga: Perkuat SDM Industri, Kemenperin-Universitas Hiroshima Gelar Kontes Esai Bahasa Jepang
"Selama lebih dari 13 tahun kami bergerak di industri ini, kami menyadari bahwa tantangan utama di Indonesia bukanlah kelangkaan kandidat Japanese speaker, melainkan mereka belum terhubung dengan perusahaan, informasi, dan peluang kerja secara optimal," ujarnya, Senin (29/6/2026).
Menurut Kenichi, kebutuhan perusahaan Jepang juga telah berubah.
Mereka tidak lagi hanya mencari tenaga penerjemah (translator atau interpreter), tetapi profesional yang menguasai bahasa Jepang sekaligus memiliki kompetensi di bidang masing-masing sehingga mampu bekerja dalam lingkungan bisnis global.
Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja tersebut meliputi industri otomotif dan manufaktur, FMCG, makanan dan minuman, perbankan, jasa keuangan, hingga energi dan infrastruktur.
"Kondisi ini membuat kemampuan bahasa Jepang semakin dipandang sebagai kompetensi strategis yang dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah semakin kuatnya investasi asing," katanya.