Anak Muda Jadi Kunci Bangun Kota, Rico Waas dan Wamendagri Berbagi Strategi di YCC APEKSI 2026
Ayu Prasandi June 30, 2026 12:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Semangat anak muda dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam mewujudkan kota tangguh yang siap menghadapi berbagai ancaman bencana.

Hal itu mengemuka dalam Sharing Session Youth City Changers (YCC) APEKSI 2026 yang digelar di Hotel Le Polonia, Medan, Minggu (28/6/2026).

Dalam forum tersebut, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto berbagi pengalaman serta strategi membangun kota tangguh atau resilient city.

Kegiatan bertema Inspirasi Kota Tangguh ini merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APEKSI XVIII Tahun 2026.

Turut hadir Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, pimpinan OPD Pemko Medan, serta ratusan peserta YCC dari berbagai kota di Indonesia.

Rico Waas menceritakan pengalaman Kota Medan saat menghadapi banjir besar pada 27 November 2025. Banjir tersebut disebut sebagai salah satu bencana terparah dalam sejarah Kota Medan.

Hujan deras selama tiga hari berturut-turut menyebabkan 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan terendam banjir.

Menurut Rico, kondisi saat itu menuntut koordinasi cepat lintas sektor. Ia langsung mengumpulkan Forkopimda, OPD, hingga para camat untuk memetakan wilayah terdampak dan menentukan langkah evakuasi.

Namun, tantangan terbesar saat itu bukan hanya persoalan infrastruktur, melainkan kesiapan masyarakat.

“Banyak warga awalnya menolak dievakuasi karena mengira air akan segera surut. Ketika air naik drastis, barulah mereka meminta bantuan dalam kondisi yang sudah sangat berbahaya,” ujar Rico.

Ia menjelaskan, Pemko Medan bergerak cepat dengan memetakan daerah rawan, mengevakuasi warga, mendirikan posko bencana, mengaktifkan Belanja Tidak Terduga (BTT), serta mengerahkan seluruh perangkat daerah untuk mempercepat penanganan.

Menurut Rico, pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Rico juga menyoroti persoalan baru pascabanjir, yakni lonjakan volume sampah yang meningkat drastis dari 1.500–1.700 ton per hari menjadi 6.000–6.500 ton per hari.

Kondisi itu memicu ancaman penyakit dan memperberat proses pemulihan.

“Penanganan bencana tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Kolaborasi dengan relawan, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci percepatan pemulihan,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menekankan pentingnya mitigasi sebelum bencana terjadi.

Berkaca dari pengalaman Aceh menghadapi tsunami dan banjir, Banda Aceh kini memperkuat sistem deteksi dini, jalur evakuasi, rumah pompa, hingga edukasi kebencanaan berbasis keluarga dan sekolah.

Menurut Illiza, ketangguhan kota harus dibangun dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.

“Kesiapsiagaan harus menjadi budaya. Masyarakat harus tahu apa yang dilakukan saat gempa, saat banjir, ke mana harus evakuasi, dan bagaimana melindungi diri,” ujarnya.

Di sisi lain, Wamendagri Bima Arya Sugiarto memberikan perspektif strategis mengenai makna ketangguhan kota.

Menurutnya, setiap bencana menjadi ujian besar terhadap lima aspek utama, yakni sistem, kebersamaan, kepemimpinan, komunikasi, dan data.

“Bencana adalah ujian bagi sistem. Kota yang sistemnya kuat akan pulih lebih cepat. Tapi kota dengan sistem lemah akan lebih lama bangkit,” kata Bima.

Ia juga menyoroti masih lemahnya perencanaan jangka panjang di banyak daerah di Indonesia.

Menurut Bima, banyak daerah masih bersifat reaktif, yakni baru bergerak ketika bencana datang, bukan menyiapkan mitigasi sejak awal.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif menggandeng para ahli kebencanaan dan membangun budaya belajar dari pengalaman masa lalu.

Menutup sesi diskusi, para narasumber sepakat bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kota tangguh.

Melalui inovasi, literasi kebencanaan, dan semangat kolaborasi, anak muda diharapkan menjadi motor perubahan dalam menciptakan kota yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. 

(Dyk/Tribun-Medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.