Iran Menciptakan Senjata Canggih Selama Perang dengan Amerika dan Israel
Ryan Nong June 30, 2026 01:19 AM

POS-KUPANG.COM, TEHERAN -  Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menyampaikan Iran telah membuat senjata canggih selama berperang dengan Amerika Serikat (AS)-Israel. Hal itu diungkapkan Akraminia pada Minggu (28/6/2026).

Akraminia mengatakan pada hari-hari terakhir Perang Ramadan, Iran telah mengerahkan drone baru yang tahap penelitiannya telah dimulai sebelumnya.

“Kami mampu mengoperasikannya tepat di tengah perang. Selain itu, kami mengoptimalkan rudal yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata, baik Angkatan Darat maupun Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dan memproduksinya dengan kualitas jauh lebih tinggi,” ucapnya dikutip dari Kompas yang melansir Mehr.

Baca juga: Soal MoU Akhiri Perang dengan Iran, Presiden Trump Rame Dikritik Media 

“ni menunjukkan bahwa meskipun kami menggunakan perangkat keras yang sudah ada, kami tidak mengabaikan penelitian dan pengembangan,” tambah Akraminia.

Ia mengatakan bahwa Angkatan Darat secara serius mengejar rencana di dua bidang, yaitu produksi dalam negeri dan pembelian peralatan canggih dari negara-negara sahabat.

Akraminia mengomentari kemajuan terbaru angkatan bersenjata Iran di bidang produksi berbagai macam senjata.

“Drone yang kami perkenalkan pada hari-hari terakhir perang jauh lebih canggih daripada generasi sebelumnya, seperti Arash-2,” tuturnya.

AS-Israel telah melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu kemudian berbuntut pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dan beberapa komandan negara itu.

Iran kemudian melakukan pembalasan dengan melakukan 100 gelombang serangan balasan selama 40 hari.

Serangan itu menargetkan aset militer AS di kawasan Timur Tengah, dan juga Israel. Serangan itu dilaporkan mengakibatkan kerusakan yang signifikan.

AS-Iran kemudian dilaporkan telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU), untuk menghentikan operasi militer di berbagai front, termasuk Lebanon. Selain itu, juga membuka kembali Selat Hormuz, dan mencabut blokade laut terhadap Iran.

Namun kesepakatan yang rapuh tersebut, diyakini dalam bahaya setelah AS-Iran kembali saling menyerang beberapa hari terakhir.

AS-Israel telah melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu kemudian berbuntut pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dan beberapa komandan negara itu.

Iran kemudian melakukan pembalasan dengan melakukan 100 gelombang serangan balasan selama 40 hari. Serangan itu menargetkan aset militer AS di kawasan Timur Tengah, dan juga Israel. Serangan itu dilaporkan mengakibatkan kerusakan yang signifikan.

AS-Iran kemudian dilaporkan telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU), untuk menghentikan operasi militer di berbagai front, termasuk Lebanon.

Selain itu, juga membuka kembali Selat Hormuz, dan mencabut blokade laut terhadap Iran. Namun kesepakatan yang rapuh tersebut, diyakini dalam bahaya setelah AS-Iran kembali saling menyerang beberapa hari terakhir. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.