Persaingan Sepatu Emas Piala Dunia yang Tak Terlupakan: Mengapa Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Erling Haaland Menentang Sejarah – serta Dampaknya terhadap Ballon d'Or
Hendra Wijaya June 30, 2026 06:07 AM

JANGAN LEWATKAN SATUPUN MOMEN DI PIALA DUNIA


Persaingan memperebutkan Sepatu Emas Piala Dunia tahun ini menjadi salah satu yang paling menarik dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun penghargaan ini tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan tim, perebutan trofi individu tersebut musim panas ini menjadi ajang yang sarat drama dan daya saing.


Lionel Messi tidak tampil sebagai starter saat Argentina menghadapi Yordania pada laga ketiga fase grup Piala Dunia 2026. Namun, sang megabintang tetap memainkan peran penting. Pelatih Lionel Scaloni sebenarnya tidak memiliki alasan kuat untuk menurunkannya. Argentina memang sempat kehilangan keunggulan dua gol, tetapi kemenangan tampak masih aman.


Namun, Messi menginginkannya. Atau setidaknya, ia bermain seolah begitu. Dalam lebih dari 20 menit penampilan dari bangku cadangan, Messi mengubah jalannya pertandingan. Begitu ia masuk ke lapangan, atmosfer langsung berubah. Dan tentu saja, ada satu momen yang menjadi sorotan. Apakah Yazeed Abulaila seharusnya mampu menepis tendangan bebas Messi di menit ke-80? Mungkin saja. Bola memang tidak terlalu jauh dari jangkauannya dan tidak memerlukan banyak gerakan untuk diselamatkan.


Namun bola tetap meluncur melewati dirinya. Dengan itu, Argentina menutup fase grup dengan sempurna. Messi juga membuka sedikit jarak di klasemen sementara perebutan Sepatu Emas. Biasanya, pencetak gol terbanyak turnamen tidak selalu berasal dari tim juara dunia. Faktanya, tiga tim juara dunia terakhir tidak memiliki pemain pencetak gol terbanyak di turnamen tersebut. Gol tidak selalu berarti kesuksesan kolektif.


Namun, di era ketika pencapaian individu semakin dihargai, gol menjadi tolok ukur penting. Di Piala Dunia, jumlah gol sering kali menjadi simbol kehebatan pribadi. Tidak ada yang bisa “beruntung” memenangkan penghargaan ini. Piala Dunia 2026 kini menghadirkan persaingan yang sesungguhnya: Messi, Mbappe, dan Haaland—tiga pemain yang mengejar hal berbeda, namun sama-sama mengubah gol menjadi pernyataan. Siapa yang tidak terpikat?


Piala Dunia memang selalu menjadi panggung bagi kisah pribadi seperti itu.


Penghargaan untuk Momen


Piala Dunia 2014 menjadi salah satu yang paling berkesan. Dipenuhi pertandingan menegangkan dan gol spektakuler, turnamen itu dimenangkan dengan layak oleh Jerman. Namun, satu momen akan selalu identik dengannya. Di babak 16 besar antara Kolombia dan Uruguay, bola melayang ke arah James Rodriguez. Ia bisa saja menahan bola atau mengoper, tetapi justru menimangnya di dada dan menembakkan bola ke sudut atas gawang dari jarak 25 yard. Gol itu memenangkan Penghargaan Puskas tahun itu dan masih dikenang sebagai salah satu yang terbaik di sejarah Piala Dunia.


Turnamen semacam ini memang kumpulan momen. Biasanya, kenangan pertama seorang penggemar sepak bola tentang Piala Dunia bukan hanya turnamennya, melainkan juga gol pertama yang mereka ingat. Bagi satu generasi, itu adalah tendangan voli James tahun 2014. Ia mencetak lima gol lainnya dan meraih Sepatu Emas. Pencapaiannya itu menjadi miliknya sendiri, hasil dari inspirasi murni. Sepatu Emas sejatinya adalah penghargaan yang diberikan kepada pemain dengan momen-momen individu paling berkesan.


Apakah Itu Mengantar ke Gelar Juara Dunia?


Apakah penghargaan tersebut menjadi penentu kesuksesan tim? Sejak Ronaldo memenangkannya pada 2002, tidak ada tim juara dunia yang juga memiliki pencetak gol terbanyak turnamen. Mbappe meraihnya pada 2022, Kane pada 2018, Rodriguez pada 2014, Thomas Muller pada 2010, dan Miroslav Klose pada 2006. Tidak satu pun dari mereka mengangkat trofi tahun itu. Artinya, pengaruh mereka terhadap keberhasilan tim sangat beragam.


Mbappe memenangkannya pada 2022 berkat hat-trick di final. Argentina memang tampil lebih baik, tetapi dari sisi ofensif, sulit menuntut lebih darinya. Kane meraihnya pada 2018 berkat tiga gol melawan Panama, namun kemudian tampil tumpul di laga-laga besar, saat Inggris kalah dari Kroasia di semifinal. Kolombia-nya Rodriguez berhenti di perempat final, sementara Muller dan Jerman tersingkir di semifinal 2010 oleh Spanyol.


Hanya pada 2002, ketika Ronaldo membawa Brasil meraih gelar setelah pulih dari cedera parah, pencetak gol terbanyak juga menjadi juara dunia. Delapan golnya, termasuk dua di final dan satu di semifinal, membuatnya pantas meraih Ballon d'Or.


Sepak Bola Tim – Namun Banyak Kandidat Kuat


Sepak bola modern kini lebih menekankan kerja tim. Tim paling sukses biasanya bukan yang penuh bintang, tetapi yang paling seimbang. Argentina sukses karena mampu menutupi kurangnya kontribusi defensif Messi dengan sistem yang menonjolkan kekuatannya dalam menyerang.


Spanyol unggul dalam penguasaan bola dan disiplin saat bertahan. Taktik Prancis sulit ditebak, tetapi kombinasi gelandang pekerja keras dan bek sayap disiplin membuat penyerang mereka bebas berkreasi. Ousmane Dembele pun menunjukkan kerja keras luar biasa bersama tim nasional.


Namun sepak bola kini berada di titik peralihan generasi. Messi dan Cristiano Ronaldo menjalani Piala Dunia terakhir mereka. Di sisi lain, generasi baru seperti Mbappe, Haaland, Vinicius Jr, Kane, dan Dembele sedang berada di puncak performa. Ketujuh pemain elit ini—termasuk Ronaldo—berpeluang besar untuk menjadi bintang turnamen.


Messi vs Mbappe?


Messi memimpin perburuan dengan enam gol dan masih menjadi favorit utama. Meski kini berusia 39 tahun, ia tetap tampil efisien: tiga gol melawan Aljazair, dua melawan Austria, dan satu melawan Yordania, semuanya terlihat mudah baginya.


Lawan-lawan berikutnya—seperti Tanjung Verde, Australia, atau Mesir—terlihat rentan terhadap magis Messi. Argentina berpeluang besar melaju jauh, dan Messi bahkan bisa menembus dua digit gol sebelum perempat final.


Sementara itu, Mbappe tetap menjadi rival terberatnya. Mereka sudah dua kali bertemu di Piala Dunia. Mbappe menang pada pertemuan pertama di babak 16 besar tahun 2018 (dengan dua gol), sementara Messi membalas di final 2022 meski Mbappe mencetak hat-trick. Kini Mbappe sudah mencetak empat gol dan dua assist di dua laga awal, tetapi Prancis belum sepenuhnya menemukan ritme terbaiknya. Pertandingan melawan Swedia bisa menjadi momentum kebangkitannya.


Para Penantang Lain


Selain keduanya, banyak yang tak boleh diremehkan. Kane sempat memimpin awal perlombaan dengan dua gol di laga pertama Inggris (setelah gagal penalti lalu mencetak ulang), dan satu lagi di laga ketiga. Namun ia belum tampil cukup tajam di momen penting. Haaland mencetak empat gol di dua laga awal sebelum diistirahatkan pada laga terakhir fase grup Norwegia.


Vinicius Jr juga menjadi ancaman serius. Jika Brasil ingin melangkah jauh, ia harus tampil tajam—dan sejauh ini ia telah mencetak empat gol dalam tiga laga, menggandakan catatannya dari Copa America 2024. Ronaldo pun masih menjadi faktor. Meski perannya di Portugal mulai menurun dan sering terlihat egois, insting mencetak golnya tak pernah pudar. Bahkan di usia 41, ia tetap bisa berbahaya di kotak penalti.


Beberapa nama kejutan juga muncul. Folarin Balogun tampil luar biasa untuk Amerika Serikat dan bisa menambah koleksi golnya melawan Bosnia dan Herzegovina. Brian Brobbey juga sedang produktif untuk Belanda, menjadikannya pesaing yang tak boleh diabaikan.


Dampak terhadap Ballon d'Or dan Apa Selanjutnya


Bagi beberapa pemain, Sepatu Emas bisa menjadi batu loncatan menuju Ballon d'Or. Kane berpeluang kuat, tetapi kegagalan Bayern Munich di Liga Champions bisa merugikan. Mbappe menjadi top skor La Liga, namun Real Madrid yang gagal meraih trofi akan melemahkan posisinya. Dembele membawa PSG meraih semua gelar domestik, tetapi kontribusi individunya masih dipertanyakan. Messi, meski bermain di MLS yang jarang diperhitungkan untuk Ballon d'Or, bisa kembali masuk persaingan jika membawa Argentina juara dunia dan meraih Sepatu Emas.


Namun hal paling menarik adalah bagaimana persaingan ini menghadirkan drama dan momen yang bisa dinikmati. Sepatu Emas memang tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan tim, tetapi menjadi ukuran momen berharga. Dan jika yang kita hargai dari Piala Dunia adalah momen, maka inilah puncaknya: Mbappe, Haaland, Messi, Ronaldo, Vinicius, dan Kane—para pemain elit dunia yang bersaing mencetak sejarah.


Inilah yang diimpikan para penggemar sepak bola. Tidak semua dari mereka akan mengangkat trofi musim panas ini. Namun jika mereka terus tampil di level tertinggi untuk memperebutkan Sepatu Emas, maka Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen yang penuh kenangan tak terlupakan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.