Anak Sulit Bersosialisasi atau Mudah Marah, Orangtua Perlu Tingkatkan Kecerdasan Emosional
Choirul Arifin June 30, 2026 06:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak sedikit orangtua menganggap anak yang mudah marah, sulit mengendalikan emosi atau enggan bergaul sebagai bagian dari fase tumbuh kembang.

Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda perkembangan mental dan emosional anak membutuhkan perhatian lebih dini. Tapi banyak keluarga baru mencari bantuan ketika masalah sudah mengganggu aktivitas anak di rumah maupun di sekolah.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi, mengatakan kecerdasan emosional memiliki peran yang sama pentingnya dengan kecerdasan akademik.

Anak tidak cukup pintar secara intelektual, tetapi juga perlu mampu mengenali, memahami, mengelola dan mengekspresikan emosi dengan sehat.

"Dalam dunia yang penuh tantangan, kelak anak-anak saat dewasa akan dituntut memiliki kecerdasan emosi berupa kemampuan mengenali, memahami, mengelola dan mengekspresikan emosi diri sendiri secara sehat," ungkap Ayoe pada keterangannya, Senin (29/6/2026). 

Begitu juga dengan kecerdasan sosial. Menurut Ayoe, anak juga dituntut mampu memahami, berinteraksi dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain

Emosi Anak Dibentuk Sejak 5 Tahun Pertama

Menurut Ayoe, perkembangan emosi anak tidak hanya dipengaruhi faktor biologis. Lingkungan keluarga, pola pengasuhan, hingga hubungan ayah dan ibu ikut membentuk kemampuan anak mengelola emosi.

Ia menjelaskan, memang ada anak yang sejak lahir memiliki temperamen lebih tenang. Sebaliknya, ada pula anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Baca juga: Kebahagiaan Maia Estianty dan Ibunda Alyssa Daguise Saksikan Tumbuh Kembang Cucu Pertama

Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, kualitas pengasuhan tetap menjadi faktor penting dalam membantu perkembangan emosi anak.

Faktor genetik berkontribusi terhadap kestabilan emosi, namun pola kelekatan dengan orangtua, cara orangtua mengasuh, hingga kondisi emosional di dalam rumah juga sangat mempengaruhi perkembangan psikologis anak.

Persoalan lain yang masih sering terjadi adalah orangtua terlambat menyadari adanya gangguan perkembangan mental dan emosional pada anak.

Padahal, semakin cepat dikenali, semakin besar peluang anak memperoleh stimulasi maupun pendampingan yang sesuai.

Karena itu, Teman Bumil & Parenting menghadirkan fitur Psikolog Corner untuk layanan skrining kesehatan mental dan emosional anak menggunakan Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) dari Kementerian Kesehatan.

Manager Teman Bumil & Parenting Intan Anindyana Hapsari mengatakan proses skrining dibuat sederhana agar mudah dilakukan orangtua.

Baca juga: Pembatasan Akses Media Sosial di Bawah 16 Tahun untuk Jaga Kesehatan Mental Anak

"Skrining perkembangan mental dan emosi cukup dilakukan dengan menjawab 8 pertanyaan, dan akan langsung keluar hasilnya: normal, perlu konsultasi, atau ada penyimpangan,"imbuh Intan. 

Hasil tersebut dapat menjadi langkah awal bagi orangtua untuk mengetahui apakah perkembangan emosi anak masih sesuai usianya atau membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Skrining Anak Bukan untuk Melabeli

Ayoe menegaskan, skrining bukan bertujuan memberi cap bahwa anak mengalami gangguan. Sebaliknya, pemeriksaan awal membantu orangtua mengetahui aspek perkembangan yang masih perlu distimulasi.

"Skrining ini bisa menjadi langkah awal jika ditemukan ada penyimpangan atau ada sebagian aspek emosi yang belum berkembang, sehingga orang tua bisa melakukan stimulasi dan terapi sejak dini,"kata Ayoe. 

Peluncuran layanan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Family's Days Out Roadshow to Bandung yang diikuti lebih dari 100 keluarga. Selain mengikuti berbagai aktivitas bermain bersama anak, para orangtua juga mendapat edukasi mengenai pengasuhan.

Sekaligus kesempatan berkonsultasi langsung dengan psikolog mengenai berbagai persoalan yang dihadapi selama mendampingi tumbuh kembang anak.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.