TRIBUNNEWS.COM - Lebih dari 1.400 jenazah korban gempa ganda di Venezuela telah ditemukan hingga Jumat (27/6/2026), lebih dari 80 jam setelah bencana melanda.
Di tengah proses evakuasi, ahli patologi memperingatkan gas beracun dari pembusukan jenazah dapat membahayakan petugas penyelamat, meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan kondisi tersebut tidak memicu epidemi.
Media Venezuela Efecto Cocuyo melaporkan, jumlah korban yang terus bertambah membuat kamar mayat dan halaman sejumlah rumah sakit mulai dipenuhi jenazah.
Sementara itu, banyak korban lainnya masih diyakini tertimbun reruntuhan.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran warga terhadap bau menyengat yang berasal dari lokasi bencana serta kemungkinan munculnya wabah penyakit akibat banyaknya korban meninggal.
WHO menegaskan bahwa jenazah korban bencana alam tidak menjadi sumber epidemi.
Sebagian besar korban meninggal akibat trauma, tertimpa bangunan, sesak napas, atau luka bakar, bukan karena penyakit menular seperti kolera, tifus, malaria, maupun wabah lainnya.
Meski demikian, WHO mengingatkan pengelolaan jenazah yang tidak memadai tetap dapat menimbulkan risiko kesehatan masyarakat, terutama apabila jenazah dibiarkan terlalu lama di ruang terbuka, di bawah reruntuhan, atau di kamar mayat tanpa fasilitas pendingin.
Baca juga: Kamar Jenazah Caracas Kewalahan, Keluarga Korban Gempa Venezuela Antre Cari Orang Tercinta
Ahli patologi Dr Enrique López Loyo mengatakan proses pembusukan berlangsung lebih cepat di wilayah pesisir seperti La Guaira yang beriklim panas.
Menurutnya, gas hasil pembusukan, terutama metana, dapat menyebar hingga radius sekitar 500 meter dari sumber pembusukan.
Ia menjelaskan, akumulasi metana di ruang tertutup berpotensi menggantikan oksigen sehingga meningkatkan risiko sesak napas atau keracunan akibat terhirup langsung, baik bagi petugas penyelamat maupun korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Selain itu, WHO juga memperingatkan adanya risiko tidak langsung berupa penyakit diare apabila cairan pembusukan mencemari sumber air minum.
Kondisi ini diperparah oleh suhu di dalam bangunan yang dilaporkan mencapai 45 hingga 48 derajat Celsius, sehingga mempercepat proses pembusukan jenazah.
Sementara itu, ahli epidemiologi Dr Carlos D'Suze mengatakan anggapan bahwa jenazah korban bencana otomatis memicu epidemi merupakan mitos yang masih sering berkembang saat terjadi bencana besar.
Menurutnya, sebagian besar mikroorganisme pada tubuh korban tidak bertahan lama setelah kematian dan tidak mudah menularkan penyakit kepada masyarakat selama prosedur kebersihan diterapkan dengan benar.
Ia menambahkan, ancaman yang lebih nyata justru berasal dari pengelolaan jenazah yang buruk, seperti pencemaran air tanah, meningkatnya populasi lalat dan serangga pembawa patogen, serta dampak psikologis bagi masyarakat yang terus melihat jenazah berada di ruang publik.
Baca juga: Ayah dan Anak Ditemukan Selamat setelah 4 Hari Tertimbun Reruntuhan Akibat Gempa Venezuela
WHO merekomendasikan agar setiap jenazah segera dipindahkan ke fasilitas penyimpanan berpendingin atau dikuburkan sementara di makam individu yang diberi identitas lengkap.
Langkah tersebut penting untuk menjaga kesehatan masyarakat sekaligus memudahkan proses identifikasi forensik di kemudian hari.
Petugas penyelamat dan relawan juga diminta menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti sarung tangan, sepatu bot, masker, serta segera mencuci tangan dan membersihkan peralatan setelah menangani jenazah guna mengurangi risiko paparan cairan tubuh.
WHO menekankan bahwa penanganan jenazah pascabencana membutuhkan koordinasi pemerintah, tenaga kesehatan, aparat keamanan, dan masyarakat agar proses evakuasi berjalan aman, cepat, serta tetap menghormati martabat setiap korban.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)