SURYA.co.id, NGANJUK – Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Nganjuk, Gondo Harjono, memberikan respon terkait peristiwa dugaan pengeroyokan yang terjadi di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, pada 24 Juni 2026.
Imbauan tersebut disampaikan Gondo melalui video yang diunggah akun Facebook Humas Polres Nganjuk pada 26 Juni 2026.
Dalam video itu, ia meminta seluruh warga PSHT tetap bersabar dan mempercayakan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.
"Saya Gondo Harjono, Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Nganjuk, menghimbau kepada saudara-saudaraku, kepada adik-adikku, keluarga besar Setia Hati Terate Nganjuk agar lebih arif, lebih bijak, dan lebih sabar menyikapi peristiwa yang terjadi pada tanggal 24 Juni 2026 di Desa Sukorejo, Loceret, Nganjuk. Saat ini terus dikembangkan oleh pihak-pihak yang berwajib, pihak yang berwenang untuk mengadakan satu penyelidikan terhadap kasus tersebut," ujar Gondo Harjono, dikutip SURYA.co.id dari video yang diunggah Facebook Humas Polres Nganjuk, Jumat (26/6/2026).
Gondo juga menyampaikan perkembangan penanganan perkara berdasarkan informasi yang diterimanya dari Polres Nganjuk.
Ia mengatakan aparat telah menahan sejumlah orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
"Pada kesempatan ini saya ingin sampaikan, saat ini dari keterangan dan informasi Polres Nganjuk sudah ditahan dua orang dewasa sebagai inisiator dan juga dua belas anak-anak yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan," katanya.
Ia turut menjelaskan bahwa empat anak yang sebelumnya diamankan telah dipulangkan karena berdasarkan hasil pemeriksaan dinyatakan tidak terlibat dalam dugaan tindak pidana tersebut.
Karena itu, ia kembali mengajak seluruh anggota PSHT untuk tetap bersabar dan terus mendukung jalannya proses hukum.
"Oleh karenanya, yang dipulangkan empat orang anak-anak itu memang tidak terlibat. Mohon kesabaran, mohon dukungan doa agar upaya yang baik yang dilakukan oleh Polres Nganjuk benar-benar bisa menegakkan keadilan dan juga bagi semua organisasi kita harus tetap tenang dan sabar untuk bisa menunggu hasil yang terbaik," tuturnya.
Lebih lanjut, Gondo mengungkapkan bahwa penyelidikan masih terus berkembang. Berdasarkan informasi yang diterimanya, terdapat tujuh orang dewasa lainnya yang juga diduga berperan sebagai inisiator dalam peristiwa tersebut.
Ia pun mengingatkan seluruh anggota PSHT agar tetap memegang nilai-nilai persaudaraan dan tidak mendahului proses hukum yang sedang berjalan.
"Saya informasikan juga sampai hari ini, detik ini juga masih terus dikembangkan dan alhamdulillah ini informasi yang kami dapat bahwasanya tujuh orang dewasa yang diduga juga sebagai inisiator terhadap peristiwa tersebut. Oleh karenanya, mari adik-adikku, kita sebagai insan setia hati untuk selalu bersabar bahwasanya salah panggah seleh, wong becik ketitik, Allah ketoro. Saya yakin Allah Subhanahu wa Ta'ala ora sari. Insya Allah akan memberikan keadilan yang seadil-adilnya," ucapnya.
Baca juga: Alasan Sepele 14 Orang Pelaku Pengeroyokan Brutal di Nganjuk hingga Tewaskan 1 Orang, Ini Sanksinya
Dalam pernyataannya, Gondo juga menyampaikan apresiasi kepada Polres Nganjuk yang dinilai terus bekerja mengusut perkara tersebut.
Ia berharap seluruh pihak yang nantinya terbukti bersalah mendapat hukuman yang setimpal sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
"Terima kasih saya sampaikan kepada Polres Nganjuk. Apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Polres Nganjuk. Demikian juga kami juga berharap dari Bapak Kapolres, Bapak Kajari untuk memberikan satu hukuman yang setimpal terhadap pelaku yang sekarang masih diduga sebagai tersangka," katanya.
Menutup pernyataannya, Ketua PSHT Cabang Nganjuk kembali mengajak seluruh keluarga besar PSHT untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai pembelajaran agar tetap mengedepankan sikap berbudi luhur, mampu membedakan benar dan salah, serta tetap beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Bersabar adik-adikku. Mari kita belajar menjadi insan setia hati yang berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam persaudaraan," pungkasnya.
Sebelumnya, Kasus pengeroyokan yang menewaskan seorang pemuda di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mulai menemukan titik terang.
Kepolisian telah mengamankan 14 orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan yang terjadi pada Rabu (24/6/2026) dini hari.
Hasil penyelidikan sementara mengungkap bahwa aksi brutal tersebut dipicu oleh persoalan yang terbilang sepele.
Kelompok pelaku mengaku tersinggung dengan tindakan korban saat melintas di lokasi kejadian.
Wakapolres Nganjuk, Kompol Didid Wahyu Agustyawan, menjelaskan bahwa korban diketahui menggeber sepeda motornya sambil menyalakan kembang api.
Perbuatan itu diduga memancing emosi kelompok pelaku hingga berujung pada aksi pengeroyokan yang menyebabkan korban kehilangan nyawa.
Polisi menegaskan, motif tersebut masih menjadi bagian dari hasil penyelidikan yang terus didalami untuk mengungkap seluruh rangkaian peristiwa secara utuh.
Dalam konferensi pers yang digelar Kamis (25/6/2026), Polres Nganjuk mengungkap bahwa 14 orang yang telah diamankan memiliki peran berbeda-beda dalam pengeroyokan tersebut.
Para tersangka terdiri atas pelaku dewasa maupun anak yang masih di bawah umur.
Berdasarkan hasil penyidikan sementara, peran para tersangka meliputi:
Kompol Didid menjelaskan bahwa tiga pelaku berinisial FS, MR, dan FI diduga memiliki peran paling dominan dalam menyebabkan korban meninggal dunia.
"Tiga pelaku berinisial FS, MR,dan FI berperan aktif melempar batu ke arah korban yang menyebabkan luka serius hingga meninggal dunia."
Penyidik masih terus mendalami keterlibatan masing-masing pelaku untuk memastikan tingkat pertanggungjawaban pidana sesuai peran yang dilakukan.
Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca, mengatakan proses penyidikan belum berhenti.
Polisi masih mengembangkan kasus dan membuka kemungkinan adanya tersangka lain apabila ditemukan bukti baru.
Seluruh pelaku dijerat Pasal 262 KUHP ayat 2, 3, dan 4 tentang tindak kekerasan secara bersama-sama di muka umum yang mengakibatkan luka berat hingga meninggal dunia.
Ancaman hukuman maksimal mencapai 12 tahun penjara.
"Kami berkomitmen menuntaskan perkara ini secara profesional dan transparan. Bagi pelaku anak, kami tetap mengedepankan ketentuan peradilan anak," ujar AKP Sukaca.
Selain menindak para pelaku, kepolisian juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam mencegah tindak kriminal yang melibatkan remaja.
Orang tua diminta meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas putra-putri mereka, terutama saat malam hari.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menghindari keterlibatan anak dalam aksi kekerasan maupun tindak pidana serupa.
Kasus ini menunjukkan bagaimana konflik yang berawal dari rasa tersinggung dapat berkembang menjadi tindak kekerasan fatal ketika dilakukan secara berkelompok.
Dugaan bahwa aksi korban menggeber motor dan menyalakan kembang api memicu emosi pelaku menjadi pengingat bahwa persoalan kecil dapat berujung tragis apabila tidak disikapi dengan pengendalian diri.
Di sisi lain, keterlibatan sejumlah pelaku yang masih berstatus anak juga menjadi perhatian tersendiri. Selain penegakan hukum, upaya pencegahan melalui pengawasan keluarga, pendidikan karakter, dan lingkungan pergaulan dinilai menjadi faktor penting agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Wakapolres Nganjuk, Kompol Didid Wahyu Agustyawan, menjelaskan bahwa peristiwa tragis tersebut terjadi sekitar pukul 02.00 WIB.
Saat itu, rombongan korban yang mengendarai tiga unit sepeda motor melintas di Jalan Merapi, Desa Sukorejo, sebelum akhirnya diadang oleh sekelompok pemuda.
"Kelompok tersebut kemudian menendang korban hingga terjatuh dari kendaraan," ujar Kompol Didid dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Setelah jatuh, para pelaku melakukan serangan membabi buta menggunakan tangan kosong, tongkat, sabuk hingga melempari korban dengan batu dan pecahan material bangunan.
Akibat penganiayaan tersebut, salah satu korban berinisial MK meninggal dunia karena luka berat di kepala dan patah kaki.
Sementara tiga korban lainnya, yakni HI, YP dan TR menderita berbagai luka di bagian tubuh, dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.