Jong Jang Sir, Dolanan Sarat Makna dalam Penampilan Gong Kebyar Anak-anak Duta Badung
Putu Dewi Adi Damayanthi June 30, 2026 08:35 AM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Penampilan Gong Kebyar Anak-anak Duta Kabupaten Badung tidak sekadar menyuguhkan kemampuan musikal dan tari para seniman muda. 

Melalui tabuh, tari kreasi, hingga tari dolanan, penampilan tersebut menghadirkan pesan spiritual tentang perjalanan hidup dan penyucian jiwa yang selaras dengan tema Atma Kerthi.

Tabuh kreasi pepanggulan “Bayung Bidak” menjadi pembuka yang menggambarkan perjalanan jiwa sejak awal kehidupan. 

Karya yang terinspirasi dari miniatur jukung sebagai simbol perjalanan melintasi samudra kehidupan ini mengangkat makna keseimbangan dan arah hidup. 

Baca juga: Purnama Kasa, Pemkab Badung Gelar Karya Nyatur Rebah di Pura Lingga Bhuwana, Puspem Badung

“Bayung” dimaknai sebagai penyeimbang, sementara “bidak” atau layar menjadi penentu arah perjalanan spiritual manusia.

Garapan yang dikonsep oleh Dr. I Gusti Made Darma Putra dan ditata oleh I Wayan Adi Wiguna tersebut mengalir dari suasana hening menuju dinamika kebyar yang menggambarkan gelombang kehidupan. 

Karya ini menjadi doa agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan seimbang dan tetap berada di jalan dharma menuju jiwa yang suci.

Suasana kemudian berubah menjadi lebih lembut melalui tari kreasi “Adnyaswari” yang dibawakan sebagai tari penyambutan. 

Tarian putri halus ini menampilkan gerak tangan sebagai simbol pengastungkara dan paramasanti, dipadukan permainan selendang yang melambangkan kesiapan dan keanggunan dalam menyambut tamu.

Tari yang pertama kali dipentaskan pada Pesta Seni tahun 1998 oleh Sekaa Gong Dharma Putra, Guming, Penarungan, Mengwi ini diciptakan oleh Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati dengan iringan musik karya almarhum I Wayan Sinti. 

Melalui struktur pepeson, pengawak, pengecet hingga pekaad, Adnyaswari menjadi representasi keramahan dan penghormatan dalam budaya Bali.

Puncak pertunjukan hadir melalui tari dolanan “Jong Jang Sir”, yang mengangkat permainan tradisional jukung kecil yang berkaitan dengan upacara Ngangkid bagi anak berusia tiga bulan.

Jong berarti perahu, jang berarti melepaskan, dan sir berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pantai. Jukung kecil tersebut menjadi simbol perjalanan manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.

Konseptor I Made Ariawan menjelaskan bahwa upacara Ngangkid mengandung makna membuang hal-hal buruk dan mengambil kebaikan sebagai bentuk penyucian atman. 

Melalui Jong Jang Sir, perahu kecil digambarkan sebagai perjalanan hidup manusia yang harus menghadapi gelombang kehidupan.

“Apakah kita mampu menyeberangi samudra atau justru hanyut oleh ombak kehidupan?” menjadi pertanyaan reflektif yang dihadirkan dalam karya tersebut.

Lebih dari sekadar permainan anak-anak, Jong Jang Sir menjadi simbol harapan, doa, dan pesan kehidupan yang dititipkan dalam sebuah perahu kecil.

"Karya ini sekaligus menegaskan bahwa Atma Kerthi bukan hanya tentang memaknai kematian, melainkan juga tentang menghargai kehidupan dan menjaga kesucian jiwa sejak dini," jelasnya

Seluruh garapan yang dibawakan Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala tersebut memperlihatkan bagaimana seniman muda Badung mampu memadukan nilai tradisi, filosofi, dan kreativitas dalam satu panggung, sekaligus menghadirkan pesan mendalam tentang perjalanan manusia menuju keseimbangan dan kesucian jiwa. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.