Berita Malang Raya Populer: Setoran Parkir Wajib QRIS, Mobil Listrik Bisa Hemat Rp3,6 Juta Sebulan
Sarah Elnyora Rumaropen June 30, 2026 09:35 AM

Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Lu'lu'ul Isnainiyah/Benni Indo

SURYAMALANG.COM, MALANG RAYA - Kabar terpopuler di kawasan Malang Raya hari ini menyoroti langkah baru Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Malang yang mewajibkan seluruh jukir menggunakan sistem QRIS guna menekan kebocoran PAD yang realisasinya masih minim.

Di sisi lain, isu kenaikan harga BBM non-subsidi memicu tren baru di tengah masyarakat yang mulai berbondong-bondong hijrah menggunakan kendaraan listrik (EV) demi menghemat pengeluaran transportasi.

Fenomena ini terbukti efektif setelah sejumlah warga mengaku mampu memangkas biaya operasional rutin bulanan mereka secara signifikan berkat efisiensi mobil listrik.

Berikut ulasan selengkapnya:

Setoran Parkir di Kabupaten Malang Wajib QRIS

Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Malang menyebutkan realisasi retribusi parkir di Kabupaten Malang hingga pertengahan tahun 2026 ini masih minim baru mencapai 17,34 persen.

Kepala Dishub Kabupaten Malang, Eko Margianto mengatakan, target retribusi parkir pada 2026 sebesar Rp 11,01 miliar dengan rincian parkir Tepi Jalan Umum (TJU) sebesar Rp 8,14 miliar dan Tempat Khusus Parkir (TKP) sebesar Rp 2,86 miliar.

"Sampai dengan 15 Juni 2026 realisasinya baru Rp 1,91 miliar atau 17,34 persen," kata Eko Margianto kepada SURYAMALANG.COM.

Eko menyebutkan, pihaknya akan memaksimalkan capaian target retribusi parkir di Kabupaten Malang.

Upaya yang dilakukan adalah kini penyetoran retribusi dari juru parkir (jukir) ke Dishub telah menggunakan QRIS melalui sistem manajemen retribusi (Sisemar).

Baca juga: Kematian ASN di Parkiran Bandara Juanda Belum Terkuak, Pemkab Bangkalan Berharap Kasus Segera Tuntas

"Semua setoran kini pakai QRIS atau nontunai. Ini sudah kami terapkan sejak awal tahun," jelasnya.

Menurut Eko masih ada beberapa kendala dari penerapan digitalisasi ini, di antaranya masih banyak jukir yang tidak paham mengenai pembayaran melalui QRIS.

Misalnya, ada jukir yang tidak memiliki ponsel Android. Apabila tidak memiliki ponsel, mereka bisa meminta bantuan kepada keluarga untuk menyetorkannya menggunakan QRIS yang sudah terintegrasi dengan rekening Bank Jatim.

Kendati demikian, Dishub tetap melakukan sosialisasi ke jukir terkait pembayaran setoran parkir dengan QRIS.

Sosialisasi yang dilakukan meliputi cara penyetoran, penyesuaian nomor objek retribusi, dan lainnya.

Dengan adanya peralihan metode penyetoran ini, Eko berharap mampu mengurangi kebocoran retribusi. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Malang.

"Karena sekarang sudah tersistem, jadi datanya sudah jelas, sehingga PAD kami bisa meningkat," harap mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masayrakat dan Desa Kabupaten Malang ini. 

Selain itu, Eko mengimbau kepada masyarakat apabila menemukan jukir liar agar melapor ke Dishub.

Sementara untuk jukir resmi bisa dikenali melalui rompi yang digunakan jukir bertuliskan Dishub Kabupaten Malang yang dilengkapi dengan nomor.

"Jika ada jukir liar laporkan ke kami dengan meminta karcisnya lalu difoto dan bisa mengadu ke Hotline Dishub Kabupaten Malang," pungkasnya.

Mobil Listrik Bisa Hemat Rp3,6 Juta Sebulan

Selain sorotan terhadap penertiban parkir, isu mengenai efisiensi biaya hidup juga tengah menjadi perhatian warga Malang.

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mendorong sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik sebagai alternatif untuk menekan biaya transportasi.

Salah satunya dilakukan Harris Prasetya Rahmandika, warga Kota Malang, yang memutuskan menjual mobil berbahan bakar bensin dan beralih ke mobil EV.

Saat lalu lintas di Jalan Mayjen Wiyono padat oleh kendaraan di jam pulang kerja, Harris rehat sebentar di depan kantor redaksi SURYAMALANG.COM untuk mengisi baterai mobil EV miliknya.

Hanya butuh waktu 30 menit saja, Harris bisa menggunakan kembali mobil EV untuk mobilitas.

Harris mengatakan, faktor utama yang melatarbelakangi keputusannya adalah tingginya biaya pembelian BBM yang terus meningkat.

Baca juga: Polres Malang Amankan Belasan Motor yang Terlibat Aksi Balap Liar di Exit Tol Pakis

Menurutnya, kendaraan elektrik menawarkan penghematan yang cukup signifikan, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.

"Pertimbangan pertama membeli mobil EV tentu karena biaya BBM. Sekarang isunya harga BBM terus naik, belum ada informasi kapan harganya turun sehingga saya mencari cara untuk menghemat pengeluaran transportasi," katanya, Senin (29/6/2026).

Di sisi lain, mobil EV merek Vinfast yang dibeli Harris terbilang sangat ramah di kantong karena ia berhasil mendapatkan unit baru tersebut dengan harga Rp150 juta. 

Sebelum memutuskan beralih, Harris mengaku sudah lebih dulu membandingkan biaya operasional antara kedua jenis kendaraan.

Hasilnya, biaya pengisian daya elektrik dinilai jauh lebih murah ketimbang membeli BBM, sehingga ia menganggap harga mobil listrik miliknya jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional di kelas yang sama.

"Kalau dibandingkan antara harga yang dikeluarkan dengan fasilitas yang didapat, menurut saya sangat sepadan. Saya lebih memilih mobil EV dibandingkan mobil BBM dengan kelas yang setara," ujarnya.

Penghematan biaya operasional semakin terasa karena Harris rutin melakukan perjalanan Surabaya-Malang sebanyak dua hingga tiga kali setiap pekan.

Sebelum menggunakan mobil EV, perjalanan pulang-pergi tersebut membutuhkan biaya BBM sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, belum termasuk tarif tol dan kebutuhan perjalanan lainnya.

Dalam sebulan, Harris bisa mengeluarkan hingga Rp 3,6 juta jika menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak.

Baca juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Obral Telur Murah Rp 20 Ribu per Kg di Depan Kantor Bupati Blitar

Dengan kendaraan elektrik, kini biaya tersebut nyaris tidak lagi dikeluarkan karena fasilitas pengisian daya kendaraan yang diperolehnya masih gratis selama tiga tahun.

Selain biaya energi, Harris juga menilai biaya perawatan kendaraan elektrik relatif lebih murah.

Servis berkala dilakukan satu tahun sekali atau setiap 12.000 kilometer yang umumnya hanya meliputi pembaruan perangkat lunak, pemeriksaan kaki-kaki kendaraan, serta pengecekan sistem pendingin.

"Kalau tidak ada penggantian suku cadang, biaya perawatannya tidak sampai Rp 200 ribu," kata Harris sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Untuk baterai, Harris memilih skema sewa dengan biaya sekitar Rp200 ribu per bulan. Melalui skema tersebut, baterai akan diganti baru apabila mengalami kerusakan selama masa kontrak.

Menikmati hematnya biaya penggunaan mobil EV, Harris mengaku akan tetap menggunakan mobil EV sebagai kendaraan utama. 

Meski demikian, Harris masih mempertahankan satu kendaraan berbahan bakar solar untuk kebutuhan perjalanan ke daerah dengan kondisi jalan yang lebih berat.

Namun kendaraan tersebut pun jarang digunakan, dan hanya dipakai untuk keperluan tertentu.

"Mobil solar tetap saya pertahankan untuk perjalanan pulang kampung atau medan yang berat. Kalau untuk penggunaan di perkotaan, saya lebih nyaman memakai mobil EV karena jauh lebih hemat biaya operasional," ujarnya.

Tingginya minat warga beralih ke mobil listrik juga dijelaskan Sales Supervisor Jaecoo, Adi Surya saat ditemui di tempat kerjanya.

Adi menyebut, kenaikan ini didorong semakin terjangkau harga mobil EV di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak.

“Malang Raya merupakan pasar otomotif terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Berdasarkan data registrasi kendaraan baru, rata-rata terdapat sekitar 1.000 kendaraan roda empat baru yang terdaftar setiap bulan di wilayah Malang Raya,” ujarnya, Senin (29/6/2026).

Data itu dilihat Adi dari banyaknya STNK baru yang dikeluarkan oleh pihak kepolisian. Hampir separoh dari STNK baru yang dikeluarkan adalah untuk mobil EV.

Menurutnya, dalam setahun terakhir tren penggunaan kendaraan elektrik meningkat signifikan.

Di Jaecoo sendiri, sejak awal 2026 kenaikan itu sudah terlihat. Faktornya antara lain hadirnya mobil EV untuk harga segmen menengah.

"Sejak Januari tahun ini, sudah mulai banyak mobil EV dengan harga sekitar Rp300 jutaan. Dulu harga mobil EV rata-rata masih di kisaran Rp500 juta. Setelah ada pilihan yang lebih terjangkau, peminatnya langsung bergeser," katanya.

Selain faktor harga, kenaikan BBM non-subsidi juga ikut memengaruhi keputusan masyarakat untuk beralih ke kendaraan elektrik. Dalam sehari, ada 10 orang yang bertanya ke Jaecoo perihal harga mobil EV.

"Orang mulai berpikir bahwa mobil EV tidak bergantung pada kebijakan kenaikan BBM. Itu menjadi salah satu pertimbangan utama selain biaya operasional yang lebih hemat," paparnya.

Adi menjelaskan, kendaraan elektrik hadir menawarkan keuntungan dari sisi pajak kendaraan.

Saat ini pemilik mobil EV masih memperoleh berbagai insentif, sehingga pajak tahunannya relatif rendah. Hal ini membuat pemilik mobil EV lebih hemat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.