BANGKAPOS.COM, BANGKA - Malam baru saja melewati pukul 23.00 WIB ketika iring-iringan kendaraan berhenti di kaki Bukit Maras, Desa Berbura, Kecamatan Riau Silip, Minggu (28/6).
Di tengah gelapnya hutan, harapan masih menyala. Empat remaja asal Sungailiat dilaporkan tersesat saat mendaki menuju Air Terjun Meruyan.
Di antara petugas SAR, relawan, TNI, Polri, dan warga, tampak pula Bupati Bangka Fery Insani yang memutuskan turun langsung mengikuti operasi pencarian.
Keempat remaja itu merupakan bagian dari rombongan yang berangkat berwisata ke kawasan Bukit Maras.
Namun, mereka terpisah dari teman-temannya setelah memilih jalur berbeda menuju Air Terjun Lakedang. Enam anggota rombongan berhasil kembali, sedangkan empat lainnya tak kunjung turun hingga sore hari.
Laporan keluarga yang panik segera memicu operasi pencarian gabungan. Kabar hilangnya para remaja pun cepat menyebar dan menjadi perhatian masyarakat.
“Empat orang yang belum ketemu. Mudah mudahan cepat ditemukan, mohon doanya semua,” ujar Fery saat berada di lokasi menjelang tengah malam.
Kapolsek Riau Silip Iptu Gali Rakasiwi mengatakan laporan diterima sekitar pukul 13.00 WIB.
Informasi awal menyebut para remaja sempat berkomunikasi melalui video call dengan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), sehingga posisi mereka diperkirakan masih berada di kawasan hutan Bukit Maras.
“Tadi mereka sempat video call. Sekarang kita masih melakukan proses pencarian,” katanya.
Operasi penyelamatan berlangsung sepanjang malam.
Tim SAR membagi personel menjadi tiga kelompok yang menyisir jalur pendakian, lembah, hingga aliran sungai. Medan yang curam, vegetasi rapat, dan minimnya jarak pandang menjadi tantangan utama.
Jelang Subuh
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang, Mikel Rachman Junika, mengatakan pencarian didukung berbagai peralatan, mulai dari drone thermal untuk mendeteksi panas tubuh korban, koneksi internet satelit Starlink, hingga perlengkapan mountaineering dan logistik medis.
“Mengingat para korban sempat mengikuti aliran sungai, penyisiran kami fokuskan di sepanjang jalur vegetasi sungai,” ujarnya.
Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Menjelang subuh, sekitar pukul 04.20 WIB, keempat remaja berhasil ditemukan dalam keadaan hidup.
“Alhamdulillah pagi tadi mereka ditemukan. Tiga orang mengalami luka lecet dan kelelahan, sedangkan satu orang harus ditandu turun oleh tim gabungan,” kata Fery.
Empat remaja tersebut diketahui bernama Puma (17), Keanu (17), Nabil (16), dan Aufa (16). Seluruhnya merupakan warga Sungailiat.
Meski selamat, kondisi fisik mereka cukup memprihatinkan. Tiga remaja mengalami kelelahan ekstrem setelah berjam-jam bertahan di dalam hutan.
Sementara Keanu mengalami cedera pada kaki kanan akibat terjatuh saat pendakian sehingga harus dievakuasi menggunakan tandu.
Proses evakuasi berlangsung bertahap. Tiga korban yang masih mampu berjalan dibawa menuju Pos Air Terjun Meruyan, sedangkan Keanu baru berhasil 06.30 WIB sebelum dilarikan ke Puskesmas Riau Silip dan selanjutnya dirujuk ke RSUD Depati Bahrin Sungailiat untuk pemeriksaan lanjutan.
“Kami lakukan observasi menyeluruh terlebih dahulu,” ujar salah seorang petugas medis.
Orang Tua Lega
Ayah Keanu, Rama, mengaku lega setelah putranya ditemukan. Ia mengatakan tim medis masih melakukan pemeriksaan rontgen untuk memastikan tidak ada patah tulang akibat insiden tersebut.
“Kami ikuti saran dokter. Setelah hasil rontgen keluar baru diketahui penanganan selanjutnya,” katanya.
Mikel menjelaskan operasi SAR resmi ditutup pukul 09.46 WIB setelah seluruh korban berhasil dievakuasi dengan selamat.
Ia mengapresiasi sinergi seluruh unsur yang terlibat, mulai dari Basarnas, BPBD Bangka, BKSDA, Polsek Riau Silip, TNI, Laskar Sekaban, pengelola Bukit Maras, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berjibaku selama operasi pencarian,” ujarnya.
Bupati Fery juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan prosedur keselamatan saat mendaki.
Menurutnya, keempat remaja tersebut memasuki kawasan melalui jalur yang tidak resmi dan tidak tercatat di BKSDA sehingga menyulitkan proses pelacakan.
“Kasihan orang tuanya semalam menangis karena anak-anaknya belum pulang. Mereka tersesat karena tidak melewati jalur resmi dan tidak terdaftar,” ucapnya. (v1/u2)