Wajib Tahu! Ini Daftar 21 Layanan Cek Kesehatan Gratis Kemenkes dari Bayi hingga Lansia
Content Writer June 30, 2026 11:20 AM

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan komitmennya dalam memperkuat lini pencegahan penyakit melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

Program CKG ini dihadirkan sebagai wujud nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan “kado kesehatan” yang berfokus pada tindakan preventif dan deteksi dini. Melalui Skrining dengan pendekatan berbasis fase kehidupan atau siklus hidup, setiap kelompok usia akan mendapatkan jenis pemeriksaan yang spesifik dan berbeda sesuai dengan risiko kesehatannya masing-masing. 

Berbeda dengan pemahaman yang sempat beredar sebelumnya, program CKG kini didesain tidak lagi hanya bisa diakses di hari ulang tahun, melainkan dapat dimanfaatkan masyarakat kapan saja demi mengejar target jangkauan populasi yang lebih luas dan efisien. 

Mengapa Skrining Berbasis Siklus Hidup Penting?

Melakukan skrining kesehatan secara berkala menjadi kunci penting untuk mendeteksi kondisi tubuh secara riil sebelum gejala klinis yang parah muncul. 

Melalui deteksi dini yang tepat, penanganan terhadap potensi penyakit dapat dilakukan jauh lebih cepat, sehingga komplikasi serius yang membutuhkan biaya pengobatan tinggi dapat dicegah. 

Langkah Kemenkes mengelompokkan pemeriksaan berdasarkan siklus hidup ini didasarkan pada hasil evaluasi data kesehatan nasional. Berbagai temuan menunjukkan tantangan spesifik di tiap generasi, mulai dari tingginya angka temuan karies gigi pada anak-anak, masalah obesitas sentral pada usia dewasa, hingga prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi pada kelompok lanjut usia (lansia). 

Daftar Lengkap Jenis Pemeriksaan CKG Kemenkes

Masyarakat dapat memanfaatkan layanan gratis ini sesuai dengan kelompok usianya. Berikut adalah pembagian fase kehidupan dan rincian pemeriksaan yang dilakukan: 

1. Kelompok Umur Bayi Baru Lahir

Pemeriksaan pada fase ini difokuskan penuh untuk mendeteksi adanya kelainan bawaan sejak dini agar pertumbuhan bayi tidak terganggu. Jenis skrining meliputi: 

  • Skrining Penyakit Jantung Bawaan (PJB Kritis).
  • Skrining Hipotiroid Kongenital/ Kekurangan Hormon tiroid sejak lahir (SHK).
  • Skrining Defisiensi Enzim G6PD.
  • Skrining Kekurangan hormon adrenal sejak lahir.
  • Edukasi pencegahan Kelainan Saluran Empedu.
  • Pemeriksaan fisik komprehensif dan laboratorium dasar untuk bayi baru lahir.

2. Kelompok Umur Balita dan Anak Prasekolah (Usia 1-6 Tahun)

Fokus utama pada kelompok ini adalah memantau tumbuh kembang dan mendeteksi risiko malnutrisi seperti stunting atau wasting. Pemeriksaan meliputi: 

  • Pemantauan status gizi dan antropometri (berat badan, tinggi badan, serta pengukuran IMT untuk anak usia 5-6 tahun).
  • Pemantauan perkembangan anak menggunakan instrumen Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).
  • Skrining fungsi indera (tajam penglihatan dan pendengaran).
  • Skrining kesehatan gigi dan mulut.
  • Pengisian kuesioner untuk mendeteksi risiko penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC) serta tes lanjutan Mantoux jika berisiko.
  • Skrining Thalasemia (Pemeriksaan laboratorium hemoglobin untuk anak usia 2 tahun dan kuesioner mandiri faktor risiko untuk usia 3-6 tahun).
  • Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) melalui laboratorium untuk mendeteksi pre diabetes/hiperglikemia pada anak usia 2 tahun.

3. Kelompok Umur Anak Usia Sekolah dan Remaja (Usia 7-17 Tahun)

Skrining dilakukan secara berkala melalui penjaringan kesehatan di institusi sekolah untuk deteksi hambatan belajar dan masalah kesehatan remaja. Pemeriksaan meliputi: 

  • Pemeriksaan status gizi, obesitas, dan uji kebugaran jasmani (aktivitas fisik dan skrining Par-Q).
  • Pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu (skrining DM).
  • Skrining fungsi indera penglihatan dan pendengaran (termasuk tes berbisik).
  • Evaluasi dan skrining kesehatan jiwa (mental) remaja.
  • Skrining thalasemia untuk mendeteksi kelainan darah bawaan.
  • Skrining anemia secara berkala khusus untuk remaja putri melalui pemeriksaan fisik.
  • Skrining faktor risiko penyakit menular endemis (Malaria serta Hepatitis B dan C). 
  • Skrining perilaku merokok dan paparan asap rokok melalui kuesioner mandiri.
  • Pengecekan riwayat imunisasi rutin (Kelas 1) dan imunisasi HPV (khusus Kelas 9 Putri).
  • Skrining penyakit kulit (Kusta dan Skabies).
  • Pemberian edukasi seputar kesehatan reproduksi putra dan putri.

4. Kelompok Umur Kelompok Dewasa (Usia 18-59 Tahun)

Kelompok usia produktif mendapatkan perhatian besar dengan penyediaan hingga 21 jenis pemeriksaan berbasis faktor risiko penyakit tidak menular. Pemeriksaan meliputi: 

  • Pengukuran tekanan darah (tensi) dan pengecekan status gizi (IMT serta lingkar perut) secara berkala.
  • Pemeriksaan kadar gula darah dan profil lipid untuk deteksi diabetes, kolesterol, serta skrining risiko stroke dan fungsi ginjal melalui laboratorium.  
  • Uji kebugaran jasmani dan pemantauan fungsi organ tubuh dasar serta pemeriksaan penunjang risiko jantung.
  • Skrining kesehatan gizi dan mulut (deteksi karies usia di atas 18 tahun dan pemeriksaan pocket periodontal usia lebih dari 25 tahun).
  • Skrining Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) melalui kuesioner layanan bagi masyarakat usia 40 tahun ke atas yang memiliki riwayat merokok.
  • Skrining kanker leher rahim khusus wanita menggunakan metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) atau HPV-DNA.
  • Skrining kanker payudara melalui metode Pemeriksaan Payudara Klinis (Sadanis) atau pemeriksaan USG sesuai indikasi medis.
  • Skrining Kanker Paru khusus bagi laki-laki mulai usia 45 tahun melalui pengisian kuesioner layanan.
  • Skrining Kanker Usus secara bertahap melalui metode Skoring APCS (kuesioner mandiri), pemeriksaan fisik Colok Dubur, serta tes laboratorium Darah Samar.
  • Skrining Fungsi Indera melalui pemeriksaan fisik tajam penglihatan (Mata) dan fungsi pendengaran (Telinga).
  • Skrining Kesehatan Jiwa menggunakan kuesioner mandiri untuk mendeteksi dini risiko Depresi dan Kecemasan.
  • Skrining Kesehatan Hati (Hepatitis) melalui Rapid Test untuk Hepatitis B dan Hepatitis C, serta pemeriksaan laboratorium khusus penapisan Hati-Fibrosis/Sirosis (APRI Score).
  • Skrining Khusus Calon Pengantin (Catin) melalui pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi Anemia (pada perempuan), Sifilis, dan HIV demi mempersiapkan kehamilan yang sehat.

5. Kelompok Umur Lanjut Usia (Usia 60 Tahun ke Atas)

Lansia mendapatkan seluruh komponen pemeriksaan yang ada pada fase dewasa, ditambah dengan instrumen khusus yang disebut Skrining Kesehatan Lansia Sederhana (SKILAS). Pemeriksaan tambahan tersebut meliputi: 

  • Skrining deteksi dini demensia (pikun).
  • Skrining risiko jatuh guna memantau fungsi mobilitas dan keseimbangan lansia.
  • Evaluasi kemandirian lansia menggunakan instrumen Geriatri ADL (Activities of Daily Living) melalui kuesioner layanan.
  • Pemeriksaan lanjutan klaster kognitif dan demensia menggunakan instrumen Kognitif-Lanjutan (AD-8 INA) serta Kognitif Lanjutan (Mini-Cog-Clock Draw).
  • Pemeriksaan lanjutan untuk fungsi pergerakan menggunakan instrumen Mobilitas Lanjutan (SPBB). 
  • Evaluasi gizi dan psikologis mendalam menggunakan instrumen Malnutrisi Lanjutan (MNSF) serta Depresi Lanjutan.

Cara Mudah Melakukan Pendaftaran

Bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis ini, Kemenkes telah menyediakan kemudahan akses, baik secara digital maupun konvensional. Berikut adalah langkah-langkah mudah untuk melakukan pendaftaran: 

  1. Melalui Aplikasi SATUSEHAT Mobile: Masyarakat dapat mengunduh dan masuk ke aplikasi SATUSEHAT. Di dalam aplikasi, pilih menu pendaftaran CKG, tentukan jadwal kunjungan, serta pilih Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) atau Puskesmas terdekat yang ingin dituju.
  2. Melalui Chatbot WhatsApp Resmi Kemenkes: Layanan ini menyediakan pendaftaran interaktif yang sangat praktis. Masyarakat cukup mengirimkan pesan ke nomor resmi WhatsApp Kemenkes, lalu ikuti panduan otomatis yang muncul di layar ponsel untuk memilih lokasi dan waktu pemeriksaan. 
  3. Pendaftaran Langsung di Tempat (walk-in): Kemenkes juga memberikan kemudahan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses digital atau tidak menggunakan ponsel pintar. Anda bisa langsung datang ke Puskesmas terdekat dengan membawa kartu identitas (KTP). Petugas administrasi di lokasi akan siap membantu seluruh proses pendaftaran secara langsung. 
  4. Khusus Anak Sekolah melalui Program CKG di Satuan Pendidikan: Bagi peserta didik usia sekolah dan remaja, pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah. Pelaksanaan skrining dilakukan secara berkala melalui penjaringan kesehatan yang dikoordinasikan oleh sekolah bersama Puskesmas setempat. Dengan skema ini, siswa tidak perlu melakukan pendaftaran mandiri karena jadwal dan mekanisme pemeriksaan akan diinformasikan langsung oleh pihak sekolah. 

Dengan layanan pemeriksaan yang semakin lengkap serta semakin mudahnya akses pendaftaran, CKG diharapkan tidak sekedar menjadi instrumen deteksi dini penyakit yang masif, tetapi juga sebagai langkah nyata dalam membangun budaya pencegahan penyakit demi mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, manfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis ini dan daftarkan diri Anda serta keluarga ke Puskesmas terdekat sekarang juga!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.