Ubah Limbah Jadi Listrik, Pemkot Bekasi Optimis PSEL Jadi Solusi Jitu Darurat Sampah
Joseph Wesly June 30, 2026 01:41 PM

 

Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra

TRIBUNBEKASI.COM, KOTA BEKASI- Pemerintah Kota Bekasi Cari Solusi Atasi Darurat Sampah. Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terus berupaya mencari solusi dalam upaya menangani persoalan sampah.

Sejumlah program hingga tindakan tahapan pun kerap tercipta hasil kerja sama antara Pemkot Bekasi dengan warga.

Bukan tanpa sebab, pada saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pengelolaan sampah tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) pada 25 Februari 2026, Kota Bekasi disebut terkategori wilayah dalam darurat sampah.

Berdasarkan hal itu, melalui beragam program yang terintegrasi, Pemkot Bekasi menunjukkan komitmen kuat dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, tertata, dan berkelanjutan sebagai fondasi ketahanan kota di masa depan.

PSEL Jadi Solusi Jangka Panjang Penanganan Sampah

Sinergi dengan program nasional seperti Proklim serta pengembangan proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) semakin memperkuat arah kebijakan menuju kota yang tidak hanya mampu mengelola sampah secara efektif, tetapi juga menghasilkan nilai tambah berupa energi terbarukan.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto mengatakan, pembangunan PSEL sebagai solusi jangka panjang terhadap persoalan penumpukan sampah.

Sembari proses rencana bergulir, pihaknya telah menginisiasi langkah-langkah strategis melalui edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga, sebagai bagian dari gerakan budaya bersih dan bijak mengelola sampah.

Baca juga: Wali Kota Bekasi Minta Wangneng Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal Pada Proyek PSEL

Baca juga: Disperkimtan Kabupaten Bekasi Tuntaskan Pengadaan Lahan Program PSEL

Baca juga: Konsep PSEL di Bekasi Lebih Mewah dari Summarecon dan Four Points, Dilengkapi Hutan Mini

Orang nomor satu di Kota Bekasi itu juga menyampaikan kalau Kemen LHK mencatat kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang saat ini sudah dalam kondisi over load.

Sehingga program PSEL menjadi opsi strategis dan mendesak untuk diterapkan.

Kehadiran teknologi baru dalam pengolahan sampah ini diharapkan bisa mengubah beban sampah menjadi sumber daya energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Pengolahan dari rumah tangga menjadi kunci utama. Jika masyarakat sudah mulai memilah, maka volume sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan. Ini program luar biasa yang terus kami dorong,” kata Tri, dikutip kembali, Selasa (30/6/2026).

Target Ubah Bantargebang Jadi Kawasan Ekonomi Hijau

Tri menjelaskan, pembangunan PSEL tidak hanya bertujuan menghadirkan fasilitas pengolahan sampah modern, namun juga menjadi bagian dari transformasi kawasan Bantargebang.

Seperti diketahui, selama puluhan tahun, Bantargebang kerap dikenal sebagai lokasi pengolahan dan pembuangan sampah terbesar di Indonesia.

Kini, Pemkot Bekasi berupaya mengubah citra tersebut menjadi kawasan yang identik dengan inovasi lingkungan, energi terbarukan, dan ekonomi hijau.

"Kami ingin mengubah stigma masyarakat terhadap Bantargebang. Tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi menjadi pusat inovasi lingkungan hidup yang mampu mengubah sampah menjadi energi, membuka peluang ekonomi baru, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar," jelasnya.

Tri menuturkan, transformasi tersebut tidak hanya ditopang oleh pembangunan PSEL.

Sehingga Pemkot Bekasi juga tengah mendorong pengembangan industri berbasis ekonomi sirkular, termasuk pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA) yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah menjadi energi.

"Kami membayangkan Bantargebang berkembang menjadi kawasan ekonomi lingkungan. Ada PSEL yang menghasilkan energi listrik, ada industri pengolahan FABA yang menghasilkan produk bernilai ekonomi, serta aktivitas riset dan inovasi lingkungan," tuturnya.

Groundbreaking Ditargetkan Awal Juli 2026

Tri menyampaikan, pihaknya menargetkan tahapan groundbreaking proyek PSEL dapat dilaksanakan pada awal Juli 2026.

Nantinya prosesi peletakan batu pertama juga direncanakan akan dihadiri dan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto.

"Ke depan, kami ingin Bantargebang dikenal sebagai simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan modern, tempat lahirnya energi bersih, inovasi teknologi, dan pusat pertumbuhan ekonomi hijau di Kota Bekasi," ucapnya.

Pemkot Bekasi Pelajari Teknologi PSEL di Cina

Perihal progres PSEL terkini, Pemkot Bekasi bersama unsur DPRD, serta perwakilan tokoh masyarakat Bantargebang berangkat kunjungan kerja ke Huzhou, Cina pada Jumat (26/6/2026).

Rombongan dipimpin Tri Adhianto, diikuti Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Efendi, serta anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kadis LH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, serta sejumlah tokoh masyarakat Bantargebang.

Kunjungan itu berkaitan dengan persiapan pengoperasian PSEL milik PT Wangneng Environment yang nantinya akan diterapkan di Kota Bekasi.

Kiswatiningsih mengatakan, kunjungan dilakukan untuk mempelajari secara langsung teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy).

Kehadiran unsur pemerintah, legislatif, dan masyarakat dalam satu kunjungan tersebut sebagai upaya membangun transparansi sekaligus memperkuat pemahaman bersama terhadap proyek strategis yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang penanganan sampah di Kota Bekasi.

Kunjungan dilakukan dengan harapan seluruh pemangku kepentingan dapat melihat secara langsung proses operasional teknologi waste to energy, mulai dari penerimaan sampah, pengolahan, pengendalian emisi hingga konversi menjadi energi listrik.

"Kami ingin seluruh proses pembangunan PSEL berjalan secara transparan dan dipahami bersama oleh seluruh pihak. Dengan melihat langsung fasilitas yang telah beroperasi, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai manfaat teknologi, standar operasional, serta aspek lingkungan yang diterapkan," kata Kiswatiningsih.

Dalam kunjungan ke Cina, Sardi Efendi menceritakan kalau rombongan melihat ruang kendali (control room) yang dilengkapi dashboard digital untuk memantau seluruh proses operasional pembangkit.

Melalui sistem tersebut, seluruh tahapan pengolahan sampah hingga proses pembangkitan listrik dapat dipantau secara real time.

Rombongan juga memperoleh penjelasan mengenai kapasitas fasilitas Wangneng.

Kemudiam mengunjungi instalasi yang mampu mengolah sekira 1.500 ton sampah per hari menjadi energi listrik melalui proses pembakaran (waste-to-energy).

Dalam kunjungan ke instalasi, diperlihatkan bagaimana proses sampah dibakar di dalam tungku berteknologi tinggi, kemudian panas yang dihasilkan mengubah air menjadi uap bertekanan tinggi, lalu uap tersebut memutar turbin yang menghasilkan listrik.

"Proyek PSEL Bantargebang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan dapat segera memasuki tahap groundbreaking," kata Sardi Efendi.

Sardi menjelaskan, teknologi serupa akan diterapkan di Kota Bekasi.

PSEL Bantargebang dirancang menghasilkan sekitar 15 megawatt (MW) listrik dari proses pemanfaatan sampah sebagai sumber energi terbarukan.

"Kami sudah melihat implementasinya secara langsung. Nantinya di Kota Bekasi memang lahannya sekitar enam hektare, tetapi teknologi yang digunakan tidak jauh berbeda. Kami semakin yakin proyek ini dapat menjadi solusi pengelolaan sampah sekaligus menghasilkan energi listrik," jelasnya.

Warga Berharap PSEL Kurangi Sampah dan Beban Listrik

Berkaitan rencana itu, Ketua RT 06 RW 10 Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, Arif Mufarik menyambut baik.

Justru ia berharap PSEL ini juga dapat membantu memasok listrik untuk digunakan di Kota Bekasi.

"Kalau memang pengolahan sampah bisa jadi energi listrik, artinya ini harusnya bisa sangat membantu dengan kelistrikan yang ada selama ini," kata Arif.

Arif menjelaskan, jika nantinya listrik dapat dipasok, diharapkan nominal pembayaran juga dapat berdampak menjadi lebih murah.

"Artinya minimal bisa mengurangi beban pembayaran listrik, berharapnya, semoga ada dampak, salah satunya itu listrik bisa jadi lebih murah," jelasnya.

Arif menuturkan untuk harapan yang lainnya tentu dapat membantu Pemkot Bekasi untuk mengelola sampah dengan tepat dan cepat.

Sehingga potensi penumpukan sampah yang hingga kini kerap terjadi di tingkat RT dan RW dapat tertangani.

:sampah-sampah juga bisa dapat lebih cepat, tidak menumpuk, sampah juga yang selama ini masih dikeluarkan oleh warga ketika 2 atau 3 hari tidak diangkut, kan itu juga menjadi kendala buat warga, jadi masalah. Ya mudah-mudahan kalau sudah ada, maka tidak ada lagi tuh sampah menumpuk," harapnya. (M37)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.