TRIBUNJOGJA.COM- Di balik perbukitan Imogiri yang dikenal sebagai kawasan makam raja-raja Mataram, terdapat sebuah desa yang masih menjaga tradisi membatik secara turun-temurun hingga kini.
Letaknya di Kalurahan Wukirsari di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, diKenal sebagai sentra Batik Tulis Giriloyo.
Merupakan salah satu sentra batik tulis tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tetap bertahan di tengah perkembangan industri tekstil modern.
Kalurahan Wukirsari berjarak sekitar 17 kilometer di selatan Kota Yogyakarta. Selain memiliki keindahan pedesaannya yang asri, desa ini juga menyimpan kekayaan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Salah satu yang paling dikenal adalah tradisi membatik yang berkembang di kawasan Giriloyo dan masih menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat hingga saat ini.
Nama Batik Giriloyo sendiri diambil dari kawasan Giriloyo yang berada di wilayah Kalurahan Wukirsari.
Sebelumnya, Giriloyo merupakan sebuah kalurahan tersendiri sebelum akhirnya bergabung dengan Kalurahan Wukirsari.
Saat ini, sentra batuk Giriloyo mencakup tiga padukuhan, yakni Padukuhan Giriloyo, Karang Kulon, dan Cengkehan.
Sejarah Batik Giriloyo tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri.
Tradisi membatik ini mulai berkembang sejak masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada abad ke-17, beriringan dengan pembangunan kompleks pemakaman kerajaan di Imogiri sekitar tahun 1634.
Kawasan Giriloyo erat hubungannya dengan lingkungan Keraton Mataram karena banyak warga yang mengabdi sebagai abdi dalem di kawasan makam kerajaan.
Dari lingkungan inilah keterampilan membatik mulai berkembang dan diwariskan secara turun-temurun kepada masyarakat sekitar.
Dalam perkembangannya, keterampilan membatik tidak lagi sekadar menjadi aktivitas untuk memenuhi kebutuhan lingkungan keraton. Masyarakat menjadikan batik sebagai mata pencaharian sekaligus identitas budaya yang terus dipertahankan hingga sekarang.
Keterampilan tersebur diwariskan dari orangtua kepada anak-anak mereka sehingga tradisi ini tetap berjalan selama lebih dari tiga abad.
Berbeda dengan batik cap maupun batik printing, Batik Giriloyo mempertahankan Teknik batik tulis.
Seluruh motifnya Digambar secara manual menggunakan canting dan malam panas di atas kain mori. Proses tersebut tentu membutuhkan ketelitian dan kesabaran karena setiap garis, titik, hingga lengkungan dikerjakan secara langsung oleh tangan para pengrajin.
Lamanya proses pembuatan sangat bergantung pada tingkat kerumitan motifnya. Ada yang hanya beberapa hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan.
Hal ini dikarenakan seluruh prosesnya dilakukan secara manual, tidak ada dua lembar Batik Giriloyo yang benar-benar identik. Nilai inilah yang membuat batik tulis memiliki keistimewaan dibandingkan batik hasil produksi massal.
Sebagian besar motif yang dihasilkan merupakan motif klasik khas Keraton Yogyakarta dan Surakarta, seperti Parang, Kawung, Sido Mukti, Sido Luhur, dan Wahyu Tumurun.
Motif-motif tersebur mengandung makna filosofis mengenai kebijaksanaan, harapan, kemakmuran, serta doa bagi pemakainya.
Dengan motif-motif klasiknya, Batik Giriloyo sering menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan batik tulis dengan pakem tradisional.
Bagi masyarakat Wukirsari, batik bukan hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga penggerak ekonomi desa.
Berdasarkan pendataan Pemerintah Kalurahan Wukirsari yang dikutip dalam penelitian Universitas Gadjah Mada, pada tahun 2010 terdapat sekitar 619 perajin batik yang tersebar di wilaya Wukirsari.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa membatik telah menjadi salah satu sektor ekonomi yang penting bagi masyarakat setempat.
Namun, aktivitas para perajin ini sempat terhenti akibat gempa bumi yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.
Saat itu, banyak rumah produksi yang mengalami kerusakan, peralatan membatik rusak, bahkan sebagian pengrajin pun terpaksa harus menghentikan kegiatan membatik.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam sejarah perkembangan batik di Wukirsari.
Pascagempa, para perajin bersama berbagai pihak membentuk kelompok-kelompok pengrajin dan Paguyuban Batik Tulis Giriloyo sebagai wadah untuk membangkitkan kembali infustri batik.
Melalui berbagai pelatihan, pendampingan, inovasi produk, hinga pengembangan wisata edukasi, sentra Batik Giriloyo perlahan bangkit kembali dan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Yogyakarta.
Kebangkitan industri batik tersebut kemudian menjadi titik awal berkembangnya Desa Wisata Wukirsari.
Sejak tahun 2007, masyarakat mulai mengembangkan potensi lokal melalui konsep pariwisata berbasis masyarakat atau community based tourism.
Batik Giriloyo dijadikan sebagai daya tarik utama, yang kemudian dipadukan dengan berbagai potensi lain yang dimiliki Wukirsari, seperti wisata budaya, religi, alam, hingga kulinernya yang khas pedesaan.
Salah satu kegiatan yang paling diminati wisatawan adalah edukasi membatik.
Karena berbeda dengan sekedar berbelanja kain batik, di sini pengunjung diajak untuk mengenal seluruh proses pembuatan batik tulis secara langsung.
Mulai dari membuat pola di atas kain, mencanting menggunakan malam panas, proses pewarnaan, hingga pelorodan dapat dicoba sendiri dengan didampingi para perajin.
Kegiatan tersebut tidak hanyam emberi pengalaman baru, tetapi juga memperkenalkan filosofi serta nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif batik.
Program wisata edukasi ini banyak diminati oleh rombongan pelajar, mahasiswa, komunitas, bahkan wisatawan mancanegara.
Para pengunjung juga tidak hanya mendapatkan keterampilan dasar membatik, tetapi juga dapat memahami bahwa selembar batik tulis memerlukan proses yang panjang, disertai dengan ketelitian dan kesabaran yang tinggi.
Di tengah perkembangan industri fashion yang terus berkembang, batik Giriloyo juga terus berupaya untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan identitasnya.
Selain mempertahankan motif-motif klasik khas Keraton Yogyakarta, sejumlah kelompok perajin pun mulai menghadirkan moti kontemporer yang tetap mengangkat unsur budaya lokal.
Langkah tersebut menjadi salah satu strategi agar batik tulis tetap diminati oleh berbagai kalangan, khususnya generasi muda.
Pemanfaatan teknologi digital juga mulai menjadi strategi dalam pengembangan batik di Wukirsari.
Berbagai kelompok perajin memanfaatkan media sosial, situs web, hingga marketplace untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Upaya tersebut membuat Batik Giriloyo tidak hanya dikenal oleh wisatawan yang datang langsung ke Imofiri, tetapi juga menjangkau konsumen dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Keberhasilan masyarakat dalam mengembangkan desa wisata mendapat apresiasi di tingkat nasional maupun internasional.
Desa Wisata Wukirsari masuk dalam jajaran desa terbaik melalui Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Kemudian, pada tahun 2024, Wukirsari terpilih sebagai salah satu Best Tourism Villages by UN Tourism. Sebuah pengakuan internasional bagi desa yang dinilai berhasil mengembangkan pariwisata dengan tetap menjaga nilai budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama Wukirsari bukan hanya terletak pada keindahan batiknya, tetapi juga keterlibatan masyarakatnya dalam menjaga tradisi.
Tak hanya menawarkan pengalaman membatik, dari desa ini pengunjung juga dapat melanjutkan perjalanan menuju kompleks Makam Raja-Raja Mataram sembari menikmati suasana pedesaan yang masih asri.
Dengan perpaduan sejarah dan budayanya, menjadikan Wukisari memiliki daya tarik tersendiri sebagai destinasi wisata budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kalurahan Wukirsari menjadi contoh bagaimana sebuah desa mampu menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkannya menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Lebih dari sekadar menghasilkan kain batik, tradisi tersebut menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
(MG-Mayumi Cinta Mahesi)