TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Program vaksinasi hewan ternak di Kabupaten Gianyar terus digenjot.
Dinas Pertanian Gianyar mencatat vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahap II untuk sapi dan kerbau telah mencapai 100 persen, dengan total 8.000 ekor sapi menjadi sasaran vaksinasi.
Plt Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Gianyar, I Made Dwitemaja, seizin Kepala Dinas Pertanian Gianyar, mengatakan seluruh target vaksinasi PMK tahap II telah terealisasi.
Program tersebut menyasar ternak milik masyarakat di sejumlah wilayah Gianyar.
“Target vaksinasi PMK tahap II sebanyak 8.000 ekor sudah tuntas,” ujar Dwitemaja, Selasa 30 Juni 2026.
Ia menjelaskan, vaksinasi PMK tahap III direncanakan berlangsung pada September 2026.
Tahap berikutnya akan difokuskan pada sapi yang belum tervaksin, sapi kelahiran baru, serta ternak yang baru masuk ke wilayah Gianyar.
“Fokusnya nanti pada sapi-sapi baru, baik kelahiran baru maupun sapi pindahan masuk ke Gianyar,” jelasnya.
Selain capaian vaksinasi PMK, Dinas Pertanian Gianyar juga mencatat perkembangan vaksinasi rabies yang hingga akhir Juni 2026 mencapai 88,32 persen.
Baca juga: Nelayan di Gianyar Bali Keluhkan Pertalite Langka Usai Harga Pertamax Naik, Nyoman Parta: Evaluasi!
Dari target 79.915 ekor, sebanyak 71.231 ekor hewan telah mendapatkan vaksin rabies.
Menurut Dwitemaja, vaksinasi PMK dan rabies dilakukan secara bersamaan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan di lapangan.
“Pelaksanaan vaksinasi secara bersamaan membuat kegiatan lebih efektif dan efisien,” katanya.
Di sisi lain, Dinas Pertanian mencatat upaya pencegahan penyakit juga didukung oleh meningkatnya kehati-hatian peternak dalam membeli sapi.
Peternak kini lebih memilih membeli ternak dari wilayah yang memiliki riwayat kesehatan lebih jelas.
“Peternak cenderung menghindari membeli sapi dari luar kabupaten karena tidak mengetahui riwayat kesehatan ternak tersebut,” ungkap Dwitemaja.
Ia mencontohkan, sejumlah peternak memilih membeli sapi dari desa sekitar, seperti peternak Desa Bitra membeli sapi dari Desa Petak atau peternak Desa Pering membeli sapi dari Desa Belega.
Sementara untuk penanganan rabies, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah keberadaan anjing yang dilepasliarkan serta anjing tanpa pemilik di sejumlah lokasi seperti pasar dan tempat pembuangan sampah.
"Dinas Pertanian melakukan eliminasi secara selektif terhadap anjing yang dinilai berpotensi menularkan rabies. Selain itu, sosialisasi juga terus dilakukan kepada kelian banjar dan perbekel untuk meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan rabies," ujarnya.
(*)