Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Nyata El Nino dan Musim Kemarau Menurut BMKG
Tita Rumondor June 30, 2026 03:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Memahami Beda El Nino dan Musim Kemarau demi Langkah Mitigasi yang Tepat
Kekeliruan dalam membedakan musim kemarau dengan El Nino masih sering dijumpai di tengah publik.

Padahal, otoritas resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa keduanya merupakan dua peristiwa yang tidak sama.

Musim kemarau ialah siklus berkala yang rutin menyambangi Indonesia tiap tahun, sementara El Nino merupakan gejala iklim yang cakupannya mendunia.

Dampak buruk dari ketidakpahaman ini adalah munculnya strategi antisipasi yang kurang tepat dari masyarakat.

Baca juga: BMKG Prediksi El Nino 2026, Simak Daftar Wilayah yang Paling Terdampak

Prinsip dasar perbedaan ini dipaparkan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam agenda Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta pada Senin (29/6/2026).

Acara yang diinisiasi oleh Kementerian Dalam Negeri RI tersebut berfokus pada Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino.

Dalam forum tersebut, Faisal menjabarkan, “Fenomena El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,” ujar Faisal.

Mengenal Karakteristik El Nino

Secara definisi, El Nino didefinisikan sebagai gejala penyimpangan suhu perairan laut di Samudra Pasifik bagian tengah serta timur yang berdampak global.

Lonjakan temperatur air di area tersebut mengubah pergerakan udara di atmosfer, yang berujung pada berubahnya sebaran hujan di bumi, termasuk wilayah domestik.

Peristiwa ini memiliki sifat periodik (beberapa tahun sekali) dan bukan agenda tahunan.

Memasuki tahun 2026, analisis BMKG menunjukkan kekuatan El Nino kali ini sudah menyentuh level kuat dengan potensi probabilitas hingga 98 persen.

Imbas utama yang wajib diwaspadai di tanah air adalah tersendatnya pertumbuhan awan pembuat hujan, sehingga volume curah hujan merosot tajam di berbagai area.

Hakikat Musim Kemarau

Berseberangan dengan El Nino, status kemarau merupakan bagian rutin dari fluktuasi cuaca tahunan yang normal.

Pola berkala di Indonesia ini digerakkan oleh dinamika angin monsun.

Sebagai wilayah tropis, pergantian antara periode basah (hujan) dan periode kering (kemarau) adalah hal yang lumrah terjadi. 

Fase kemarau ini biasanya hadir di tengah tahun, dipicu oleh pergeseran posisi matahari yang memicu penyusutan volume hujan secara natural.

Titik Temu Antara El Nino dan Kemarau

Kemiripan efek nyata di lapangan yakni lingkungan yang gersang dan langkanya hari berhujan menjadi pemicu utama mengapa publik sering mencampuradukkan kedua istilah ini.

Kendati demikian, pola hubungan yang benar adalah saling menguatkan, bukan berarti sama.

Posisi El Nino berperan sebagai katalisator yang memperparah efek gersang.

Jika kedatangan fenomena global ini berbarengan dengan kalender kemarau di Indonesia, maka intensitas kekeringan yang melanda akan jauh lebih parah daripada tahun-tahun normal.

“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” tegas Faisal.

Menepis Isu Kemarau Setahun Penuh akibat El Nino

Prediksi durasi El Nino 2026 yang diestimasi BMKG bakal bertahan selama 9 hingga 12 bulan kerap menimbulkan tanda tanya di masyarakat mengenai potensi kekeringan sepanjang tahun.

Faisal mengklarifikasi bahwa rentang waktu tersebut tidak serta-merta membuat seluruh wilayah Indonesia dilanda kemarau tanpa jeda.

Faktor keragaman iklim lokal sangat dipengaruhi oleh pembagian wilayah Indonesia yang mencakup 699 Zona Musim (ZOM), sehingga dinamika cuaca daerah tetap bervariasi.

Puncak imbas El Nino 2026 diproyeksikan bakal berfokus pada rentang Juli hingga Oktober 2026, yang bertepatan dengan momen puncak kemarau di mayoritas daerah.

Wilayah yang diprediksi paling terdampak berada di sisi selatan ekuator, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, area selatan Sumatra, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga kawasan selatan Papua.

Pihak BMKG meminta publik untuk tetap tenang, tidak panik, serta konsisten memantau informasi cuaca terkini.

Berhubung karakteristik iklim tiap wilayah tidak seragam, jajaran pemerintah daerah diimbau untuk mengoptimalkan rujukan data BMKG serta intens berkomunikasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) setempat.

Langkah ini krusial agar formula mitigasi dan adaptasi yang dirancang benar-benar sesuai dengan realita di lapangan.

Melalui manajemen risiko yang rapi dan penyebaran informasi iklim yang valid, sinergi antarsektor diharapkan semakin solid demi meminimalkan potensi kerugian akibat El Nino 2026 sedini mungkin. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.