TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejarah masuknya agama Kristen ke Sulawesi Utara dapat dilacak melalui Museum Daerah Sulut.
Museum tersebut terletak di jalan WR Supratman, Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, kota Manado, provinsi Sulut.
Dari bandara Sam Ratulangi berjarak sekitar 8 kilometer.
Tribunmanado sambangi museum tersebut pada Selasa (30/6/2026) siang.
Baca juga: Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling: Museum Harus Berdampak bagi Masyarakat
Pengunjung tengah banyak banyaknya.
Antrian terjadi di pos pendaftaran.
Area pertama museum tersebut adalah badan ikan Coelacanth yang diawetkan dalam akuarium.
Kemudian benda - benda pra sejarah.
Lalu penyebaran agama.
Benda-benda bersejarah masuknya agama Kristen di Sulut berada pada bagian tersebut.
Tampak Alkitab tua, batu tulis, mimbar serta cawan perjamuan dalam tempat yang dilapisi kaca.
Papan penjelasan terpasang di depan batu tulis.
Di bawah setiap artefak terdapat barcode.
Cukup dengan mencocokkan barcode itu, maka seluruh informasi artefak akan terpampang di gawai.
Batu tulis tersebut berwarna hitam.
Disebut dalam penjelasan bilamana batu tulis tersebit digunakan para misionaris dari Belanda untuk mengajar Kekristenan di Minahasa pada masa lampau.
Di samping batu tulis terdapat tiga Alkitab yang berjejer.
Kitab Suci umat Kristen itu lebih besar dari Alkitab saat ini.
Bentuknya kuno.
Bagian kulit luarnya robek pada beberapa bagian.
Dalamnya mulai lapuk. Makanya benda itu ditaruh di kaca agar tidak disentuh.
Disebut Alkitab tersebut milik pendeta Brower yang adalah Asisten Pendeta Schwarz.
Depan Alkitab terdapat dua cangkir panjang dari kaca serta sebuah tempat air.
Ternyata itu merupakan peralatan perjamuan kudus di Desa Guya, Tilalang II, Kecamatan Passi.
Disebut peralatan tersebut berasal dari sebuah gereja yang dibangun umat Kristen di desa tersebut diantara pemeluk agama islam.
Benda selanjutnya adalah mimbar rendah berwarna hitam.
Menurut cerita, mimbar tersebut milik Schwarz, misionaris pertama Minahasa dari Jerman.
Mimbar itu sudah ada sejak 1831.
Adri seorang warga mengaku tersentuh melihat mimbar, Alkitab serta alat perjamuan tersebut.
"Ternyata ini alat yang sederhana, tapi inilah karya Tuhan di tanah Minahasa ini," katanya.
Membawa keluarga ke museum, dirinya menikmati kunjungan tersebut.
Apalagi melihat jejak sejarah kekristenan di Minahasa.
Ia menilai museum itu telah ditata dengan baik.
"Tadi waktu melihat Alkitab itu, suasana kunonya dapat dengan pencahayaan yang agak minim tapi jelas serta dinding yang hitam," katanya. (Art)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini