TRIBUNJATIM.COM - Polemik penolakan kedatangan Abdul Haris Agam atau yang dikenal sebagai Agam Rinjani ke kawasan Gunung Rinjani memunculkan respons dari berbagai pihak.
Di tengah sorotan publik, dukungan terhadap Agam datang dari Mustiadi, perwakilan Edelweis Medical Help Center, yang turut memberikan pembelaan terhadap sosok yang sempat viral karena proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins.
Mustiadi menilai Agam kembali menjadi sorotan publik bukan hanya karena aksi kemanusiaannya di masa lalu, tetapi juga akibat dinamika penolakan yang muncul terkait rencana kedatangannya bersama konten kreator Panji Petualang ke Gunung Rinjani untuk memperingati satu tahun evakuasi Juliana Marins.
"Sekarang viral kembali namun viralnya yang sekarang karena penolakan," kata Mustiadi dikutip dari unggahan video yang direpost akun pribadi Agam Rinjani yang terverifikasi @agam_rinjani, Senin (29/6/2026).
Baca juga: Agam Rinjani hingga Anjing asal Belanda Ikut Bantu Cari Korban Pesawat ATR 42-500
Ia juga menyoroti berbagai komentar yang berkembang di media sosial, termasuk isu penolakan hingga pengusiran terhadap Agam, serta munculnya pembahasan mengenai kehidupan pribadinya.
Menurut Mustiadi, hal tersebut tidak seharusnya menjadi fokus utama.
"Itu sudah sangat jauh sekali kalau menurut saya kita fokus ke ke janji Agam terakhir yaitu tentang penghijauan," kata Mustiadi.
Lebih lanjut, Mustiadi mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Agam terkait rencana tersebut.
Ia menyebut Agam berkomitmen untuk tetap melanjutkan program penghijauan yang sempat direncanakan sebelumnya.
"Beliau minta maaf dia tidak bisa melaksanakan kemarin di musim hujan kemarin karena banyak sekali kegiatan," katanya.
Mustiadi juga mengklaim bahwa sebagian masyarakat Sembalun menerima kehadiran Agam, karena dianggap telah menjadi bagian dari lingkungan setempat.
Dalam keterangannya, Mustiadi turut menyinggung perjalanan panjang Agam dalam kegiatan evakuasi sejak 2016, serta perhatian publik yang baru muncul setelah kasus Juliana Marins.
"Kenapa tahun-tahun sebelumnya dia tidak pernah terkenal? Kenapa setelah Juliana baru dia terkenal? Mungkin itu rezekinya," ujar Mustiadi.
"Saya sendiri yang tetap evakuasi, kenapa saya tidak terkenal? Tapi saya tidak iri ya Saya tidak iri kepada saudara Agam karena memang kalau masalah evakuasi di dunia vertikal nyalinya itu," sambung Mustiadi.
"Bisa kami katakan dan kami akui bahwa nyalinya itu luar biasa diantara seribu orang mungkin bisa dikatakan satu yang berani seperti itu," kata Mustiadi.
Ia juga mengingat kembali proses evakuasi Juliana Marins yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas hingga relawan, di mana hanya sedikit orang yang turun langsung ke lokasi.
"Dari Basarnas, dari relawan kemudian turun ke lokasi. Saya rasa mungkin seperti itu dan kalau Agam besok lusa dia mau pulang ke Sembalun, Apalagi alamatnya di Sembalun ya alamat KTPnya dia sudah pindah ke Sembalun," ungkapnya.
Mustiadi menegaskan pihaknya terbuka untuk membantu apabila Agam kembali beraktivitas di wilayah tersebut, serta menilai Agam memiliki karakter yang baik di lingkungan Sembalun.
"Kalau ada yang bisa kami bantu terkait tentang kegiatan saudara Agam, kami juga akan bantu," ujarnya.
Ia juga meluruskan bahwa Agam tidak pernah menyebut dirinya sebagai “Pawang Rinjani”, melainkan sebutan tersebut muncul dari pihak lain.
"Kita pahami bersama kalau penyematan itu dari orang lain dan sauadara Agam Rinjani tidak pernah mengatakan atau melabeli dirinya sebagai pawang Rinjani," katanya.
Nama Agam Rinjani menjadi perhatian publik setelah sosok yang sebelumnya mendapat apresiasi atas keterlibatannya dalam proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, pada 2025 itu kini menghadapi penolakan dari sebagian pelaku wisata dan tokoh adat di Lombok.
Penolakan tersebut muncul seiring rencana kunjungan Agam ke kawasan Gunung Rinjani bersama konten kreator Panji Petualang untuk memperingati satu tahun proses evakuasi Juliana Marins yang sempat menjadi sorotan luas.
Rencana peringatan tersebut disebut menuai keberatan dari Forum Wisata Lingkar Rinjani. Pihak forum menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang belum terselesaikan terkait rangkaian kegiatan evakuasi sebelumnya.
Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, menyebut penolakan juga dipicu dugaan belum tuntasnya urusan terkait pengelolaan donasi evakuasi.
"Ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan donasi Juliana. Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas," ujar Royal.
Selain persoalan tersebut, penggunaan sebutan “Pawang Rinjani” kepada Agam juga turut menjadi sorotan. Sejumlah tokoh adat menilai penyematan gelar tersebut tidak dapat dilakukan secara sepihak.
Baca juga: Agam Rinjani Sudah Terima Uang Donasi Rp1,3 M, Dibelikan Alat Evakuasi hingga Ngasuh Gunung
Tokoh adat Sembalun, Mertawi, menegaskan bahwa penyebutan gelar dalam tradisi masyarakat di lingkar Rinjani memiliki mekanisme adat yang tidak bisa dilakukan tanpa musyawarah.
"Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani," ujar Mertawi.
Di tengah polemik yang berkembang, Panji Petualang telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Lombok.
Ia mengaku tidak mengetahui adanya persoalan yang melatarbelakangi penolakan tersebut, sekaligus mengakui kekeliruan dalam penggunaan istilah “Pawang Rinjani” dalam unggahan di media sosialnya.