Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) menunjukkan langkah positif.
Menurut Lalu, taklimat Presiden mencerminkan keberpihakannya terhadap dunia pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk juga riset dan inovasi.
"Beliau menyampaikan komitmen bahwa beliau sangat concern (menaruh perhatian) terhadap pengembangan pendidikan, tidak hanya pendidikan dasar dan menengah, tetapi juga pendidikan tinggi," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa.
Presiden, sebut Lalu, menegaskan komitmennya agar potensi sumber daya manusia Indonesia dimanfaatkan secara maksimal demi pembangunan bangsa. Hal tersebut sejalan dengan misi strategis Astacita pemerintahan Prabowo.
Legislator bidang pendidikan itu juga menyambut baik ihwal rencana penambahan dana riset Rp4 triliun. Dana itu dinilai penting mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dukungan besar.
Kendati demikian, Lalu mengharapkan penambahan dana riset dapat diperbesar menjadi Rp7 hingga Rp8 triliun karena riset meliputi banyak sektor dan harus tepat sasaran.
"Idealnya sekitar Rp7 sampai Rp8 triliun, tetapi lagi-lagi kita melihat kondisi fiskal kita. Kalau 2026 oke lah Rp4 triliun, tetapi 2027 kami berharap bisa naik, bisa nambah, bahkan lebih dari Rp7 sampai Rp8 triliun lah," katanya.
Di samping itu, Lalu menekankan komitmen Komisi X DPR untuk mengawasi program-program pemerintah di bidang pendidikan tinggi, riset, dan inovasi. Pengawasan dilakukan sejak dari tahap perencanaan.
Presiden Prabowo saat berbicara dalam pembukaan Sarasehan Kebangsaan KSTI di Jakarta, Jumat (26/6) sore, mengungkapkan keyakinannya suatu negara dapat tumbuh menjadi negara maju karena mereka memanfaatkan potensi dan kemampuan para akademisi dan ilmuwannya.
Di hadapan 2.600 akademisi, ilmuwan, periset, dan pimpinan kampus negeri dan swasta, Presiden Prabowo pun menggugah semangat seluruh civitas academica yang hadir untuk mengarahkan pikiran, temuan, dan inovasinya untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.
"Saya selalu berpendapat bahwa para guru besar adalah orang-orang yang terpintar dari sebuah negara. Jadi, kalau negara mau bangkit, negara mau maju, memang harus dimanfaatkan atau digerakkan potensi dan kemampuan dari kampus-kampus, dari universitas," kata Presiden.
Presiden juga menghadiri penutupan sarasehan tersebut pada Minggu (28/6). Dalam kesempatan itu, Prabowo mengaku ingin lebih sering bertemu para rektor dan profesor untuk memperoleh masukan dalam upaya memajukan kehidupan masyarakat Indonesia.
Presiden mengatakan perkembangan teknologi membuat hubungan antarnegara semakin erat sehingga konflik di belahan dunia lain dapat berdampak terhadap Indonesia. Karena itu, pemerintah memerlukan pandangan dari kalangan akademisi dalam merumuskan kebijakan.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, saat ditemui usai penutupan sarasehan, mengatakan bahwa Presiden Prabowo sudah memberikan petunjuk untuk menambah anggaran riset sekitar Rp4 triliun.
Peta jalan riset dilakukan melalui koordinasi dilakukan antara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Jadi peta jalan riset seperti tadi, bukunya kan sudah dihasilkan, yang intinya adalah riset-riset yang sekarang kita jalankan, semua harus dalam satu grand design," kata Menseneg.





