DKBPPPA Kabupaten Serang: Peran Ayah Jadi Kunci Cegah Kenakalan Remaja dan Kekerasan Seksual
Abdul Rosid June 30, 2026 07:01 PM

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel

TRIBUNBANTEN.COM, ‎SERANG - Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBPPPA) menegaskan bahwa kehadiran dan peran aktif ayah dalam keluarga menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya berbagai masalah sosial.

‎Permasalahan sosial yang dimaksud mulai dari kenakalan remaja hingga kasus kekerasan seksual yang masih terjadi di tengah masyarakat.

‎Hal tersebut disampaikan secara tegas oleh Kepala DKBPPPA Kabupaten Serang, Haerofiatna, melalui momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 dengan tema Ayah Wajib Hadir.

Baca juga: Pemkab Serang Terus Upayakan Penanganan 1.090 Hektare Kawasan Kumuh

‎Menurut dia, selama ini masih banyak keluarga yang memandang ayah hanya sebagai pencari nafkah atau sekadar penanggung jawab kebutuhan ekonomi semata, padahal pandangan ini sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi zaman saat ini.


‎“Banyak kasus kenakalan remaja dan kekerasan seksual bermula dari kurangnya kehadiran ayah dalam keluarga. Selama ini masih ada anggapan bahwa tugas ayah hanya mencari nafkah, padahal peran mendidik, membimbing, dan mendengarkan anak justru sangat dibutuhkan. Jika peran ini tidak terpenuhi, anak cenderung kehilangan arah dan rentan terjerumus ke hal-hal negatif,” ujar Haero kepada, Selasa (30/6/2026).

‎Ia menjelaskan bahwa upaya penanganan dan pencegahan masalah sosial tersebut dilakukan secara terukur, sistematis, dan masif (TSM) hingga ke tingkat kecamatan, desa, bahkan lingkungan RT dan RW.

‎Mengingat luasnya wilayah Kabupaten Serang yang meliputi 326 desa, upaya ini tidak dapat dilakukan secara mandiri oleh satu dinas saja, melainkan memerlukan kolaborasi dan sinergi yang kuat bersama perangkat daerah dan masyarakat setempat.

‎“Kami terus turun langsung ke lapangan, tapi ini juga butuh dukungan dari semua pihak. Tanpa kerja sama dari kecamatan, desa, dan warga, upaya pencegahan akan berjalan lambat,” tambahnya.

‎Haero juga mengakui bahwa terdapat sejumlah kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan di lapangan. Dari sisi masyarakat, faktor ekonomi sering menjadi alasan utama, sedangkan dari sisi penyelenggara, keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri.

‎Selain itu, lanjut dia, masih terdapat pola pikir sebagian warga yang mengharapkan imbalan atau fasilitas tertentu untuk dapat hadir dalam kegiatan sosialisasi.

‎“Memang butuh biaya untuk menjangkau masyarakat secara langsung. Tapi, kami terus berupaya mencari solusi lain. Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial dan media massa, mengingat sekitar 80 persen warga saat ini telah memiliki akses ke perangkat gawai. Cara ini dinilai lebih hemat jangkauannya dan tetap efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan,” jelas Haero.

‎Ia menegaskan bahwa perubahan pola pikir dan keaktifan seluruh elemen masyarakat, terutama orang tua, menjadi syarat utama agar lingkungan keluarga dapat kembali menjadi benteng perlindungan paling kuat bagi anak dan remaja. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.