TRIBUNBATAM.id - Desa Bangunrejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, bisa mandiri secara ekonomi dan menggerakkan roda perekonomian warganya.
Melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Bangun Karya, desa ini sukses membuktikan bahwa keterbatasan modal awal bukanlah penghalang untuk mencapai kesuksesan besar.
Siapa sangka, BUMDes yang kini mampu meraup pendapatan hingga ratusan juta rupiah ini dulunya dirintis dengan modal yang sangat minim dan berawal dari 'keterpaksaan'.
Kisah ini dimulai pada tahun 2014 lalu. Kepala Desa Bangunrejo, Subur Falahuddin, mengenang kembali masa-masa awal berdirinya BUMDes Bangun Karya.
"BUMDes Bangun Karya didirikan tahun 2014, saya ikut merintis ini secara keterpaksaan. Dulu dikelola masyarakat desa, setelah itu organisasi. Kita cuma punya modal Rp2,5 juta dari Pemerintah Desa," ungkap Subur.
Meski berangkat dari modal yang sangat cekak, komitmen untuk memajukan desa membuat unit usaha ini terus bertahan.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Pada tahun 2026 ini, total Pendapatan Asli Desa (PADes) yang disumbangkan oleh BUMDes mencatatkan angka yang fantastis, yaitu mencapai Rp347 juta.
"Setiap tahun kita bisa memberikan tambahan untuk PADes kira-kira puluhan juta dalam satu tahun. Kalau pendapatan ratusan juta, tapi buat operasional jadi bersih tinggal puluhan juta. Kalau dibandingkan tahun 2014, pastinya jauh lebih banyak sekarang," tambah Subur.
Strategi 'Satu Pintu'
Keberhasilan BUMDes Bangun Karya tidak lepas dari kejelian melihat potensi desa.
Ketua BUMDes Bangun Karya, Abdul Basith, menginisiasi pembukaan unit usaha yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.
Saat ini, BUMDes Bangun Karya memiliki 6 lini usaha utama, yaitu:
Untuk menjaga stabilitas keuangan, Subur Falahuddin menerapkan strategi khusus pada tiga unit usaha tertentu.
"Khusus untuk Unit Pertanian, Unit Perdagangan, dan Wi-Fi ini arus keuangannya saya jadikan satu pintu agar bisa saling menopang," jelasnya.
Internet Murah
Salah satu unit usaha yang menjadi primadona di era digital ini adalah layanan Wi-Fi Desa.
BUMDes Bangun Karya menggandeng pihak ketiga untuk menyediakan internet murah bagi warga.
Hanya dengan Rp100 ribu per bulan, warga sudah bisa menikmati kecepatan internet 5 Mbps. Saat ini, sudah ada 130 rumah yang berlangganan.
“Wi-Fi sudah murah, tapi kalau ada warga yang menunggak tiga bulan, akan kami beri peringatan, kemudian tindak tegas.”
Hal itu dilakukan oleh BUMDes Bangun Karya supaya berbagai unit usaha yang dimiliki terus berjalan.
Begitu juga dengan Unit Perdagangan yang menyajikan toko sembako dan Agen BRILink, BUMDes Bangun Karya berusaha keras untuk mengembangkannya.
Abdul Basith menegaskan bahwa BUMDes memegang teguh prinsip etika bisnis yang sehat agar tidak mematikan usaha warga yang sudah ada.
"Unit Perdagangan itu sebenarnya agar menjadi distributor warga sini, tapi karena keterbatasan modal jadi lebih fokus ke pelayanan. Penting tidak menjadi predator pedagang desa ini," tegas Abdul Basith.
"Kalau Agen BRILink melayani transaksi keuangan, bisa juga pembayaran listrik dan pulsa."
Memberdayakan 31 Warga Lokal
BUMDes Bangun Karya kini juga menjadi motor penggerak lapangan kerja di Desa Bangunrejo.
Saat ini, sebanyak 31 warga desa dari berbagai kalangan usia telah direkrut sebagai karyawan.
"Karyawan yang kerja di unit usaha BUMDes mendapatkan bayaran, walaupun tidak banyak tapi cukup bagi mereka," kata Abdul Basith.
Menatap masa depan, BUMDes Bangun Karya memiliki impian besar untuk membangun Gedung Serba Guna (GSG) yang nantinya bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi desa.
Karena keterbatasan anggaran desa saat ini, pembangunan dilakukan secara bertahap dan mandiri melalui kerja sama dengan perbankan.
"Modal kita kan cuma dari swadaya. Kita ambil pinjaman dari BRI untuk membangun GSG itu agar bisa menghasilkan untuk desa. Tapi bertahap saja, sesuai kemampuan desa. Selain memberikan PADes, kita masih tetap mengangsur pinjaman BRI sebesar Rp7 juta per bulan," pungkas Abdul Basith optimis.
Penggerak Ekonomi Desa
Pengamat ekonomi, Rilo Pambudi, menekankan pentingnya fokus BUMDes pada aset terdekat yang dimiliki oleh desa.
“BUMDes diharapkan bisa menjadi lembaga usaha yang berfokus pada potensi desa, termasuk sumber daya alam dan sumber daya manusia,” ujar Rilo Pambudi.
Keberhasilan BUMDes sangat bergantung pada integrasi antara sektor hulu (seperti pertanian, peternakan, dan perikanan) dengan sektor hilir (pemasaran dan pengembangan kreasi masyarakat).
“Ada beberapa cara supaya BUMDes bisa berfungsi untuk meningkatkan ekonomi desa lewat pengembangan produk usaha dan kreasi masyarakat, lalu usaha sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pemasaran,” jelasnya.
Ketika semua elemen ini dan aset desa dikelola dengan baik, BUMDes tidak hanya akan menyumbang pada PADes, tetapi juga langsung berdampak pada peningkatan isi dompet masyarakat setempat.
“Selain itu, BUMDes juga dapat mengelola aset desa untuk meningkatkan ekonomi dan pendapatan desa.”
“Pada akhirnya BUMDes dirikan untuk masyarakat, terutama meningkatkan pendapat desa dan pendapatan pribadi masing-masing,” tutupnya.
(TribunBatam.id/Khistian Tauqid)