Aras Gereja Kepri Desak Polisi Usut Kasus di Balik Gagalnya Tim PSW ke Pesparawi Nasional
Dewi Haryati June 30, 2026 07:07 PM

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Gabungan Aras Gereja di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas dugaan penggunaan tiket pesawat yang belum dibayarkan atau tiket bodong, yang menyebabkan Tim Paduan Suara Wanita (PSW) Kepri gagal berangkat ke ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi atau Pesparawi Nasional 2026 di Manokwari, Papua Barat.

Desakan tersebut disampaikan gabungan Aras Gereja Kepri yang terdiri dari PGIW, PGPI, PGLII, PBI, dan GMAHK, menyusul polemik yang hingga kini masih menyisakan kekecewaan mendalam bagi para peserta.

Sekretaris PGIW Kepri, Pdt. Otniel Harefa, mengatakan pihaknya mendukung penuh proses hukum agar seluruh pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban.

"Kami dari Aras Gereja Provinsi Kepri meminta agar seluruh unsur yang mengarah pada pelanggaran hukum atas gagalnya keberangkatan tim PSW diusut secara tuntas," kata Otniel, Senin (30/6/2026).

Otniel mengatakan, kasus tersebut tidak boleh berhenti hanya pada saling menyalahkan, tetapi harus dibuka secara terang agar diketahui penyebab utama kegagalan keberangkatan rombongan yang telah mempersiapkan diri selama hampir dua tahun tersebut.

"Kami mendukung proses hukum berjalan. Siapa yang bertanggung jawab harus diusut agar ada kejelasan dan keadilan bagi para peserta," kata Otniel.

Ia juga menyoroti fakta bahwa sebagian peserta bahkan telah menerima amplop berisi bukti pemesanan tiket sebelum keberangkatan. 

Namun, sesampainya di bandara, tiket tersebut diketahui belum pernah dibayarkan, sehingga tidak dapat digunakan.

"Secara moral ini sangat melukai perasaan peserta. Mereka sudah menerima bukti tiket dan yakin akan berangkat, tetapi pada akhirnya gagal. Persoalan seperti ini harus diusut sampai tuntas," kata Otniel.

Selain mendorong proses hukum, Aras Gereja Kepri berharap peristiwa tersebut menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola penyelenggaraan Pesparawi di Kepri, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Peristiwa yang menimpa Tim PSW Kepri menyita perhatian publik, setelah video penampilan mereka bernyanyi di Bandara Soekarno-Hatta viral di media sosial.

Di balik video yang mengundang simpati itu, tersimpan kisah pilu puluhan penyanyi yang gagal tampil di panggung nasional.

Bukan karena kalah bersaing, melainkan karena tiket keberangkatan yang mereka pegang ternyata hanya dipesan, tanpa pernah dibayarkan.

Menangis Tak Bisa Tampil di Pesparawi Nasional

Pelatih sekaligus anggota Tim PSW Kepri, Evarita, mengaku hingga kini masih sulit melupakan kejadian tersebut.

Dengan suara bergetar, ia menceritakan bahwa selama dua tahun persiapan, seluruh anggota hanya diminta fokus berlatih dan sepenuhnya mempercayakan urusan administrasi kepada panitia.

"Kami benar-benar percaya. Kami hanya diminta fokus latihan supaya bisa membawa pulang medali emas. Kami tidak pernah berpikir macam-macam," ujarnya.

Kepercayaan itu semakin besar setelah panitia menyampaikan anggaran keberangkatan sebesar Rp1,8 miliar telah tersedia. 

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,1 miliar disebut dialokasikan untuk pembelian tiket pesawat, sedangkan sisanya untuk akomodasi dan transportasi.

Pada awal Mei, panitia bahkan mengabarkan tiket telah dicetak dan meminta seluruh peserta tidak lagi mengundurkan diri.

Meski beberapa anggota sempat merasa bentuk tiket yang diterima berbeda dari biasanya, mereka memilih mengesampingkan kecurigaan, demi menjaga fokus latihan.

Namun, kenyataan pahit terungkap saat rombongan tiba di Bandara Hang Nadim Batam pada 24 Juni 2026.

Di konter maskapai, petugas menyampaikan bahwa nama para peserta memang sempat masuk dalam sistem pemesanan, tetapi tiket tersebut belum pernah dibayarkan.

Panitia kemudian meminta rombongan tetap berangkat ke Jakarta, dengan janji akan mengirimkan kode booking baru.

Harapan itu kembali pupus ketika setibanya di Bandara Soekarno-Hatta mereka harus berpindah-pindah terminal. Mulai dari konter Citilink, Batik Air hingga Garuda Indonesia.

Setelah seluruh kode booking diperiksa, hasilnya tetap sama. Nama para peserta kembali tidak tercatat sebagai penumpang karena tiket belum dilunasi.

"Itu penerbangan terakhir menuju Manokwari. Besok siangnya kami sudah harus tampil lomba. Di situ kami benar-benar hancur. Kami semua menangis," kata Evarita.

Kekecewaan mereka semakin bertambah ketika seorang pengurus justru meminta rombongan untuk pulang.

"Disuruh pulang saja. Kami benar-benar merasa tidak dihargai setelah perjuangan selama dua tahun," ujarnya.

Persembahkan Lagu 

Karena tak lagi memiliki kesempatan tampil di Pesparawi Nasional, para anggota PSW akhirnya memutuskan mempersembahkan lagu yang telah mereka latih selama dua tahun dinyanyikan di Bandara Soekarno-Hatta.

Dengan mengenakan seragam resmi lomba, mereka membentuk formasi dan menyanyikan lagu pujian di ruang keberangkatan bandara.

Penampilan spontan tersebut mengundang perhatian para penumpang dan petugas bandara hingga akhirnya mereka diberikan ruang khusus untuk kembali bernyanyi.

Video penampilan itu kemudian viral dan menuai simpati luas dari masyarakat.

Namun bagi Evarita dan seluruh anggota tim, panggung bandara bukanlah tujuan akhir perjuangan mereka.

Mereka bermimpi berdiri di panggung Pesparawi Nasional membawa nama Provinsi Kepulauan Riau. 

Sayangnya, impian itu kandas sebelum mereka benar-benar sempat bertanding. (Tribunbatam.id/Pertanian Sitanggang)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.