LRT Jabodebek Kian Melekat di Kehidupan Penumpang, Kebersihan dan Kenyamanan Jadi Nilai Lebih
Feryanto Hadi June 30, 2026 08:35 PM

 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Ramadhan L Q 


WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kereta Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek kembali berhenti di peron. 

Penumpang silih berganti naik dan turun, sebagian bergegas menuju kantor, sebagian lain melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi lain. 

Di balik aktivitas yang berlangsung setiap hari itu, tersimpan beragam cerita tentang bagaimana LRT telah menjadi bagian dari mobilitas masyarakat.

Bagi Ismail Bian (63), warga Bekasi Timur, LRT Jabodebek telah menjadi pilihan utama setiap kali bepergian ke Jakarta. 

Hampir dua tahun terakhir, ia rutin menggunakan layanan tersebut untuk menghindari kemacetan yang kerap ditemui di jalur darat.

Ismail saat ini sedang menjalani cuti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan minyak di Qatar.

"Dari Bekasi Timur saya turun di Dukuh Atas, lalu lanjut naik Transjakarta kalau mau ke daerah lain. Ini saya kebetulan mau ke daerah Kramat, Jakarta Pusat. Jemput istri saya," ujar Ismail, saat ditemui di Stasiun LRT Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, keunggulan LRT tidak hanya terletak pada ketepatan waktu, tetapi juga kebersihan yang selalu terjaga. 

Selama jadi penumpang, ia mengaku jarang menemukan sampah maupun fasilitas yang kotor di dalam kereta.

"Saya perhatikan petugas kebersihan mulai bekerja ketika penumpang sudah mulai berkurang menjelang akhir perjalanan. Jadi kereta tetap bersih tanpa mengganggu penumpang," katanya.

Pengalaman menggunakan transportasi rel di luar negeri juga membuat Ismail memiliki bahan pembanding. 

Ia mengaku pernah menggunakan kereta di Los Angeles, Amerika Serikat. 

Dari pengalamannya, LRT Jabodebek dinilai menawarkan kondisi yang lebih bersih dan nyaman.

"Saya pernah naik kereta di Los Angeles. Menurut saya, LRT di sini jauh lebih bersih," ujarnya.

Ia juga menilai keberadaan LRT membantu masyarakat memperoleh perjalanan yang lebih efisien karena tak terhambat persimpangan jalan maupun kemacetan lalu lintas.

Meski demikian, Ismail mengingatkan kualitas layanan tidak hanya bergantung pada operator, tetapi juga perilaku pengguna. 

Ia mencontohkan kepatuhannya terhadap aturan tidak makan dan minum selama berada di dalam kereta sebagai bentuk menjaga kebersihan bersama.

"Kalau penumpang ikut menjaga aturan, kebersihan kereta juga akan tetap terpelihara," katanya.

Sementara itu, Fia (26) wanita yang tinggal di Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, mengaku mulai rutin menggunakan LRT sejak sekitar satu tahun lalu. 

Kedekatan stasiun dengan tempat tinggal serta tarif yang dinilai terjangkau menjadi alasan utama memilih moda transportasi tersebut.

"LRT sudah jadi andalan saya buat aktivitas sehari-hari karena dekat dari kos dan biayanya juga murah," ujarnya.

Tidak hanya digunakan untuk perjalanan dalam kota, Fia juga kerap memanfaatkan LRT sebagai penghubung menuju Stasiun Halim sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan Kereta Cepat Whoosh ke Bandung bersama keluarga.

Selama menggunakan layanan tersebut, ia mengaku belum pernah mengalami kendala berarti. 

Menurutnya, kebersihan kereta tetap terjaga dan petugas selalu memberikan pelayanan yang ramah kepada penumpang.

"Sejauh ini pelayanannya bagus, petugasnya juga membantu kalau ada yang bertanya," katanya.

Di tengah meningkatnya penggunaan transportasi publik di kawasan Jabodetabek, Fia berharap jaringan LRT dapat terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh akses transportasi massal.

"Semoga ke depannya rutenya bisa ditambah supaya lebih banyak daerah yang terhubung," ujarnya.

Kenyamanan menggunakan transportasi umum seperti LRT Jabodebek juga dirasakan Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Ali Murtadho.

Ali mengaku rutin menggunakan transportasi umum untuk berangkat ke Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, terlebih aturan aparatur sipil negara (ASN) Jakarta wajib naik transportasi umum setiap Rabu.

Salah satu moda yang digunakannya adalah LRT Jabodebek.

Menurutnya, layanan LRT saat ini mengalami peningkatan dibandingkan saat pertama kali beroperasi.

Ia menilai, peningkatan layanan terutama terlihat pada sarana dan prasarana yang kini semakin baik.

"Peningkatan sarana dan prasarana. Sekarang bagus, modern, plus keren," katanya, kepada Warta Kota, Selasa (30/6/2026).

Dalam perjalanan menuju kantor, Ali mengombinasikan beberapa moda transportasi umum. 

Dari rumah, ia terlebih dahulu menggunakan JakLingko menuju Stasiun Cakung. 

Selanjutnya, ia melanjutkan perjalanan dengan KRL Commuter Line hingga Stasiun BNI City/Dukuh Atas, kemudian berpindah ke LRT. 

Ia lalu kembali melanjutkan perjalanan menggunakan Transjakarta hingga tiba di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

Menurut Ali, waktu tempuh dari rumah menuju kantor dengan menggunakan transportasi umum tersebut berkisar 1,5 jam.

Pengamat transportasi sekaligus Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang, menilai kinerja LRT Jabodebek pada 2026 menunjukkan tren positif. 

Hal itu tercermin dari jumlah penumpang harian yang telah mencapai sekitar 126 ribu orang.

"Perkembangan okupansi LRT Jabodebek terus membaik di 2026 ini karena mencapai 126.000 harian. Malah lebih baik daripada MRT Jakarta yang mulai berjalan sejak 2019," kata Deddy, kepada Warta Kota.

Ia mengatakan tingginya minat masyarakat menggunakan LRT Jabodebek tidak terlepas dari trase yang melintasi kawasan dengan tingkat mobilitas tinggi.

Seperti Kuningan dan Jalan Rasuna Said, serta terhubung dengan kawasan transit Dukuh Atas.

"Pilihan masyarakat ke LRT ini mungkin tepat karena trase-nya melewati titik jalur kepadatan di Kuningan atau Rasuna Said hingga transit di Dukuh Atas sehingga masyarakat tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi bila mau berkantor di Kuningan," tuturnya. 

Meski demikian, Deddy menilai pengelolaan LRT Jabodebek perlu terus mengedepankan konsep seamless mobility atau kemudahan perpindahan antarmoda. 

Menurutnya, jarak perpindahan dari Stasiun LRT menuju Stasiun MRT Dukuh Atas maupun Stasiun Commuter Line Sudirman yang mencapai sekira 600 meter.

Termasuk melalui akses naik dan turun, masih menjadi tantangan, terutama bagi penyandang disabilitas.

Ia berharap integrasi antarmoda dapat terus ditingkatkan agar perjalanan penumpang menjadi lebih nyaman dan mudah diakses oleh seluruh kelompok masyarakat.

Deddy juga mengapresiasi peningkatan jumlah pengguna LRT Jabodebek. 

Menurutnya, apabila okupansi terus meningkat, terdapat peluang bagi operator untuk menghadirkan tarif yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

"Apresiasi pencapaian LRT tentunya sangat berharap bila okupansi semakin tinggi sehingga tarif LRT dapat ditekan lebih terjangkau lagi," tuturnya.

Selain itu, ia mendorong percepatan pengembangan jalur LRT Jabodebek hingga Sentul City. 

Perluasan layanan itu diharapkan dapat mendorong masyarakat beralih dari penggunaan kendaraan pribadi di jalan tol menuju transportasi umum berbasis rel.

"LRT dapat bersambung segera sampai ke Sentul City sehingga dapat shifting pengguna tol ke LRT," kata Deddy. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.