BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Aksi kenakalan remaja di kawasan Murungraya, Banjarmasin Selatan, kian meresahkan masyarakat. Pelaku kebanyakan dalam keadaan drop out alias putus sekolah.
Hal tersebut yang menjadi alasan Kelurahan Murungraya menggencarkan program Penjemputan Anak Putus Sekolah.
Lurah Murungraya, Sugeng membeberkan, belum lama tadi petugas mengamankan 15 anak yang kedapatan ngelem.
"Status mereka semua masih tergolong anak di bawah umur, ada belasan anak yang diamankan petugas sembilan anak laki-laki dan enam anak perempuan," jelas Sugeng, Selasa (30/6/2026).
Menurut Sugeng, aksi para remaja tersebut dinilai sudah melewati batas dan sangat mengkhawatirkan.
Dipaparkannya, penindakan tegas ini terpaksa diambil karena kelompok remaja tersebut kerap berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas.
Aktivitas mereka dinilai berbahaya lantaran dalam sebuah penggerebekan, petugas sempat menemukan sajam yang dibawa oleh para pelaku. Tidak hanya itu, aksi mereka juga menyasar fasilitas umum dan tempat ibadah.
"Mereka sekarang ini tempatnya berganti-ganti. Bahkan sampai masjid pun dijadikan tempat mengelem," ungkapnya.
Sebab itu, adanya program Penjemputan Anak Putus Sekolah menurutnya sangat dibutuhkan untuk menekan kenakalan remaja di Murungraya.
Program tersebut dijalankan secara berkelanjutan, dengan menggandeng seluruh RT di Kelurahan Murungraya.
Sebagaimana rapat koordinasi yang digelar di kantor Kelurahan Murungraya, Selasa (30/6/2026).
"Para RT diminta aktif membantu melalui data, warga mana saja yang anaknya putus sekolah agar dibantu untuk sekolah lagi," kata Sugeng.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Banjarmasin, M Ramadhan menyikapi persoalan kenakalan remaja perlu ada pergeseran paradigma dari kuratif atau penanganan setelah kejadian menjadi preventif yakni pencegahan sejak dini.
Baca juga: Kebakaran di Pingaran Ilir Martapura Rusak Enam Rumah, Penyebab Masih dalam Penyelidikan
Baca juga: Kebakaran Ludeskan Tiga Rumah dan Satu Kontrakan di Banjarmasin Utara, Api Diduga dari Tiang Listrik
Baca juga: Dampak Pemadaman Listrik Bergilir, Konsumen Jasa Perbaikan Genset Ramai Berdatangan hingga Malam
Menurutnya pencegahan bisa dimulai dari tiga pilar utama, keluarga yang hangat, sekolah yang peduli, dan lingkungan masyarakat yang sehat.
Ia menekankan kenakalan remaja bukan "sifat nakal" bawaan lahir. Tindakan menyimpang tersebut kerap menjadi sinyal emosional dari seorang anak yang sedang meminta tolong.
Terdapat kebutuhan dasar yang belum terpenuhi di masa transisi para remaja tersebut.
Dipaparkan Ramadhan yakni kurangnya perhatian dan kasih sayang dari keluarga di rumah.
"Lalu pengakuan dan arah hidup yang belum terpenuhi. Para remaja cenderung mencari pelarian ke luar, namun sering berujung pada pergaulan negatif," ucapnya.
Untuk memutus rantai kenakalan remaja, menurutnya semua pihak harus terlibat dan berperan.
Dimulai dari keluarga sebagai fondasi peradaban. Diperlukan adanga komunikasi antara orangtua dan anak agar anak tidak mencari validasi semu di luar rumah.
"Sekolah wajib hadir sebagai lingkungan yang peduli, yang mampu membekali siswa dengan keterampilan hidup, dan kecerdasan emosional untuk menghadapi tekanan sosial," ucap Ramadhan.
Diketahui, sebanyak 27 anak putus sekolah di Kelurahan Murungraya kembali bersekolah.
Mereka bisa mengenyam pendidikan lagi melalui program Penjemputan Anak Putus Sekolah yang digagas pihak kelurahan.
Tak hanya anak putus sekolah, orangtua yang tidak mampu melanjutkan pendidikan anak pun bisa melaporkan diri untuk didata agar mendapatkan bantuan program Penjemputan Anak Putus Sekolah.
Lurah Murungraya, Sugeng menjelaskan, program Penjemputan Anak Putus Sekolah ini sudah berjalan kurang lebih tiga tahun. Sampai saat ini ada 27 anak yang sudah ditangani, bisa kembali bersekolah mulai tingkatan SD, SMP, hingga SMA sederajat.
"Ada juga program kesetaraan nonformal Paket A, Paket B, dan Paket C," ujarnya.
Sugeng tidak menampik bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sosial di wilayah Kelurahan Murungraya.
Meningkatnya angka pengangguran dan kriminalitas menjadi alasan pihaknya menggeber program Penjemputan Anak Putus Sekolah.
"Masalah tersebut saling berkaitan. Ketika seorang anak putus sekolah, potensi mereka untuk menganggur di masa depan menjadi lebih besar, pada akhirnya memicu peningkatan angka kejahatan di lingkungan masyarakat," pungkasnya. (Banjarmasinpost.co.id/mariana)