Kampanye Belanda di Piala Dunia FIFA 2026 berakhir dengan cara yang memilukan setelah Maroko melakukan kebangkitan dramatis untuk menyingkirkan tim asuhan Ronald Koeman melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1. Namun, pembahasan pasca-pertandingan lebih banyak berfokus pada keputusan taktis sang pelatih Belanda daripada hasil pertandingan itu sendiri.
Mantan penyerang Swedia, Zlatan Ibrahimović, melontarkan salah satu kritik paling tajam selama turnamen saat menjadi pundit di FOX Sports, dengan tegas menyalahkan Koeman atas kekalahan tersebut. Thierry Henry, yang berada satu studio dengannya, juga mempertanyakan pendekatan permainan konservatif Belanda, berpendapat bahwa Maroko pantas melaju karena tetap setia pada identitas permainan mereka sepanjang laga.
Namun, Koeman membela pendekatannya, menegaskan bahwa ia akan mengambil keputusan yang sama lagi meski hasilnya berakhir menyakitkan.
Keunggulan Belanda runtuh di akhir laga dan berujung kekalahan lewat adu penalti
Pertandingan babak 32 besar tampak mengarah ke keunggulan Belanda ketika Cody Gakpo, yang bermain hanya beberapa hari setelah kehilangan putranya yang belum lahir, membawa Oranje unggul pada menit ke-72.
Gol penyerang Liverpool itu tampaknya akan memastikan langkah Belanda ke babak 16 besar, tetapi Maroko menolak menyerah.
Pada masa tambahan waktu, tepatnya menit ke-91, Issa Diop berhasil menanduk bola untuk menyamakan kedudukan setelah kesalahan di lini belakang Belanda, memaksa laga dilanjutkan ke perpanjangan waktu dan mengubah momentum pertandingan sepenuhnya.
Sejak saat itu, Maroko semakin menguasai permainan. Belanda terpaksa bertahan dalam waktu lama, menutup laga dengan hanya 35 persen penguasaan bola karena tim asuhan Koeman mundur ke blok pertahanan yang rapat.
Kiper Bart Verbruggen sempat menjaga harapan Belanda tetap hidup dengan penyelamatan luar biasa untuk menggagalkan peluang Soufiane Rahimi di masa perpanjangan waktu, namun perlawanan akhirnya berakhir di babak adu penalti ketika Ismael Saibari dengan tenang mengeksekusi penalti penentu kemenangan, mengantarkan Maroko ke babak 16 besar untuk menghadapi Kanada.
Bagi Belanda, kekalahan ini menjadi akhir yang pahit dari perjalanan Piala Dunia yang mengecewakan.
Ibrahimović lontarkan kritik tajam terhadap Koeman
Berbicara di FOX Sports setelah pertandingan, Ibrahimović menegaskan bahwa kekalahan itu sepenuhnya disebabkan oleh keputusan Koeman sendiri.
“Kekalahan ini adalah kesalahan Koeman, karena saya tidak mengenali tim Belanda ini. Ia kalah dengan identitas yang bukan identitas Belanda. Itu membuat saya marah,” ujar Ibrahimović.
Mantan penyerang AC Milan, Paris Saint-Germain, dan Manchester United itu menilai bahwa Belanda telah meninggalkan filosofi menyerang yang selama ini menjadi ciri khas sepak bola mereka.
“Saya selalu diajarkan: menyerang, menyerang, dan menyerang. Ini bukan identitas Belanda. Hari ini, Koeman terlihat seperti pelatih Italia yang bermain agar tidak kalah, sedangkan Belanda selalu bermain untuk menang. Jika kalah, setidaknya kalah dengan identitasmu sendiri, jangan mengubahnya.”
“Ini bukan Belanda yang biasa saya lihat. Terlihat jelas dari cara mereka bermain bahwa mereka tidak nyaman. Penguasaan bola hilang, sepak bola menyerang hilang. Sangat buruk, dan itu semua kesalahan Koeman.”
“Saya pikir ini benar-benar tidak ada apa-apanya, benar-benar tidak ada.”
Ibrahimović sebelumnya berjanji ketika bergabung dengan liputan Piala Dunia FOX Sports tahun ini bahwa ia akan “membangunkan” penonton dengan analisis jujur, dan pandangannya tentang tersingkirnya Belanda menjadi salah satu reaksi paling keras di turnamen ini.
Henry juga soroti perubahan defensif
Thierry Henry memiliki pandangan serupa dengan Ibrahimović, meskipun kritiknya lebih terfokus pada pendekatan taktis Koeman.
Sebelum Ibrahimović berbicara, Henry terlebih dahulu memuji Maroko karena tetap setia pada gaya bermain mereka sepanjang pertandingan.
“Tim yang mencoba untuk menang, menang,” kata Henry. “Mereka tidak mengubah bentuk permainan mereka. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri, setia pada identitas mereka.”
Ia membandingkan hal itu dengan Belanda, yang menurutnya lebih berfokus mempertahankan keunggulan daripada menambahnya.
“Maroko mencoba memenangkan pertandingan,” ujar Henry. “Belanda hanya berusaha untuk tidak kalah.”
Henry juga terkejut dengan keputusan Koeman untuk menggunakan formasi lima bek di laga penting babak gugur tersebut.
“Kamu menarik keluar seorang gelandang untuk memasukkan bek. Dengan begitu, kamu pada dasarnya mengatakan bahwa kamu takut pada Maroko. Itu sah-sah saja, tentu saja. Jika kamu menang, kamu benar. Jika kalah, kamu salah.”
“Saya sangat terkejut, karena Belanda biasanya tidak bermain seperti itu. Tapi Koeman jelas memiliki pandangan berbeda.”
Pernyataan Henry sejalan dengan argumen utama Ibrahimović bahwa Belanda telah menjauh dari identitas menyerang yang selama ini menjadi ciri khas tim nasional mereka.
Koeman teguh pada keputusannya meski menuai kritik
Koeman menolak anggapan bahwa taktiknya menjadi penyebab kekalahan dan menegaskan bahwa pendekatan defensifnya diperlukan menghadapi salah satu tim terkuat di turnamen ini.
“Dengan pendekatan defensif ini, kami memberikan lebih sedikit peluang dibandingkan saat pertandingan-pertandingan di fase grup,” kata Koeman.
“Itu positif, tetapi kami memang jadi kurang menyerang. Anda boleh berpendapat apa pun tentang taktik ini, tetapi kami memberi lebih sedikit peluang kepada lawan yang jauh lebih kuat dari Swedia dan Tunisia. Dan jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukannya dengan cara yang sama.”
Pelatih asal Belanda itu juga menambahkan bahwa sepak bola sering kali menilai pelatih hanya berdasarkan hasil akhir, bukan penampilan.
“Saya juga tahu bahwa jika Maroko tidak menyamakan kedudukan di menit-menit akhir, mungkin akan ada banyak pujian untuk saya sebagai pelatih Belanda. Tapi sekarang, mungkin saya akan disalahkan karena memilih lima bek. Namun sekali lagi, saya yakin itu adalah keputusan yang perlu diambil.”
Pada akhirnya, kebangkitan dramatis Maroko dan kemenangan mereka lewat adu penalti membuat perdebatan tentang keputusan taktis Koeman menjadi sorotan utama yang menutupi fakta tersingkirnya Belanda. Sementara Ibrahimović dan Henry mempertanyakan apakah Oranje telah meninggalkan jati diri sepak bola mereka, Koeman tetap yakin bahwa rencananya sudah tepat, meski berakhir dengan kekalahan menyakitkan lainnya di Piala Dunia.