TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara investor menganalisis pasar saham saat aktivitas trading.
Teknoogi AI diklaim mampu mengolah jutaan data secara real time. Perubahan ini mencerminkan pergeseran peran platform investasi.
Aplikasi perdagangan saham tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyedia data transaksi, tetapi mulai berkembang menjadi alat bantu analisis yang menyajikan ringkasan informasi serta interpretasi kondisi pasar.
Di tengah semakin besarnya volume data yang harus diproses investor setiap hari, AI dinilai mampu membantu mempercepat analisis sekaligus mengurangi beban dalam menyaring berbagai indikator pasar.
Namun, pemanfaatannya tetap diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti pertimbangan investor dalam mengambil keputusan.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, mengatakan tantangan terbesar investor saat ini bukan lagi memperoleh informasi, melainkan mengolah informasi yang jumlahnya terus bertambah.
"Platform mulai mengadopsi AI untuk membantu investor membaca arah pergerakan pasar sekaligus memangkas proses analisis yang selama ini lebih banyak dilakukan oleh fund manager dan analis profesional," ujar Moleonoto saat peluncuran fitur AI Analytics dan Trade Flow, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, perkembangan AI membuka peluang agar kemampuan analisis yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan investor institusi dapat diakses lebih luas oleh investor ritel.
Baca juga: AI Tak Bisa Gantikan Peran Dokter, Ini 6 Risikonya Jika Dipakai untuk Diagnosis Penyakit
Selama ini platform perdagangan saham umumnya hanya menyajikan data mentah berupa grafik harga, laporan keuangan, ringkasan transaksi broker, hingga arus dana investor asing.
Selanjutnya, seluruh informasi tersebut harus dianalisis sendiri oleh investor untuk menentukan keputusan investasi.
Kini, melalui perkembangan AI, berbagai data tersebut mulai dapat diolah secara bersamaan menggunakan kombinasi machine learning, predictive analytics, serta pemodelan perilaku pasar sehingga menghasilkan ringkasan kondisi saham, tingkat risiko, maupun sejumlah indikator yang dapat menjadi bahan pertimbangan investor.
Salah satu perusahaan sekuritas yang mulai mengadopsi pendekatan tersebut adalah Indo Premier Sekuritas melalui peluncuran fitur AI Analytics dan Trade Flow.
Sementara itu, fitur Trade Flow difokuskan untuk membantu investor memantau pola transaksi pelaku pasar, termasuk aktivitas akumulasi maupun distribusi smart money, pergerakan dana investor asing, serta intensitas transaksi beli dan jual secara real time.
Baca juga: Prabowo Minta Para Profesor Indonesia Mendalami Pengembangan AI
Meski demikian, Moleonoto menilai AI sebaiknya dipandang sebagai trading assistant, bukan sebagai sistem yang sepenuhnya menentukan keputusan investasi.
"Artificial Intelligence harus digunakan sebagai trading assistant untuk memperkuat keputusan, meningkatkan akurasi, mengurangi bias, mempercepat analisis keuangan, serta membantu melindungi investasi," ujarnya.
Sejumlah pelaku industri memandang pemanfaatan AI di sektor financial technology (fintech) akan terus berkembang seiring meningkatnya kompleksitas pasar modal.
Teknologi tersebut diperkirakan semakin banyak digunakan untuk membantu investor memproses informasi dengan lebih efisien. Namun, keputusan investasi pada akhirnya tetap memerlukan penilaian terhadap profil risiko, tujuan investasi, serta kondisi pasar yang terus berubah.
Dengan kata lain, AI bukanlah pengganti investor, melainkan alat bantu yang dapat mempercepat proses analisis di tengah banjirnya data yang harus dipahami setiap hari.