TRIBUNNEWSMAKER.COM - Marcel Radhival alias Pesulap Merah kembali menarik perhatian publik saat menelusuri kawasan Gunung Kawi yang selama ini lekat dengan berbagai cerita mistis dan kontroversi.
Dalam kunjungannya, Pesulap Merah mencoba melihat langsung aktivitas di sekitar situs yang kerap disebut-sebut sebagai pusat ritual Kejawen dan pesugihan.
Dengan pendekatan kritis, Pesulap Merah mengamati berbagai praktik budaya yang dilakukan oleh peziarah maupun penjaga lokasi.
Mulai dari keberadaan sesajen, dupa, hingga buku catatan harapan pengunjung menjadi sorotan utama dalam penelusuran tersebut.
Fenomena ini kemudian memunculkan dua sudut pandang berbeda di tengah masyarakat, antara kepercayaan spiritual dan penjelasan rasional.
Pesulap Merah menegaskan pentingnya memahami konteks budaya sebelum langsung mengaitkannya dengan hal-hal mistis.
Ia juga menyoroti bagaimana narasi pesugihan sering kali berkembang dan viral tanpa pemahaman yang utuh terhadap tradisi setempat.
Di sisi lain, Gunung Kawi tetap menjadi tempat yang ramai dikunjungi sebagai bagian dari wisata spiritual dan sejarah Jawa.
Perjalanan ini sekaligus membuka ruang diskusi publik mengenai batas antara budaya, keyakinan, dan mitos yang berkembang di masyarakat.
Dari penelusuran tersebut, muncul pertanyaan besar tentang bagaimana seharusnya kita memandang tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di Indonesia.
Baca juga: Isu Pesugihan Gunung Kawi Seret Nama Sarwendah, Korbinianus Sang Pengacara Beri Jawaban Menohok
Kawasan Gunung Kawi di Jawa Timur telah lama menjadi salah satu destinasi yang memicu banyak perdebatan di masyarakat. Di satu sisi, tempat ini dikenal sebagai situs sejarah dan spiritual yang berkaitan dengan tradisi Kejawen.
Namun di sisi lain, Gunung Kawi juga kerap diselimuti narasi mistis, khususnya mengenai praktik pesugihan yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam sebuah penelusuran yang dilakukan oleh Pesulap Merah, berbagai asumsi tersebut kembali diuji melalui pendekatan yang lebih rasional dan edukatif.
Hasilnya, muncul gambaran yang lebih kompleks mengenai aktivitas dan kepercayaan yang hidup di kawasan tersebut.
Dalam pengamatan di lokasi, terlihat sejumlah atribut ritual seperti dupa, bunga kantil, dan sesajen yang diletakkan di beberapa titik area situs keraton.
Praktik ini, menurut keterangan juru kunci, merupakan bagian dari tradisi Kejawen yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan perantara doa kepada Tuhan.
Tradisi Kejawen sendiri merupakan sistem kepercayaan budaya yang berkembang di Jawa, yang memadukan unsur spiritual, filosofi hidup, dan penghormatan terhadap leluhur.
Dalam konteks ini, ritual-ritual yang dilakukan tidak selalu dimaknai sebagai praktik mistis dalam arti negatif, melainkan sebagai bentuk ekspresi spiritual dan budaya.
"Kalau minta-minta ke kuburan, sinting namanya. Orang yang dikubur aja enggak bisa berbuat apa-apa. Ngomong pun udah enggak bisa. Ada orang yang minta-minta ke kuburan. Sinting namanya itu." kata Pesulap Merah dikutip TribunNewsmaker.com dari kanal akun YouTube Pesulap Merah, Selasa (30/6/2026).
Hal menarik lainnya adalah adanya buku tamu yang berisi catatan pengunjung dari berbagai daerah. Dalam buku tersebut, banyak peziarah menuliskan nama, asal daerah, hingga harapan pribadi seperti kelancaran usaha, kesembuhan, dan pelunasan utang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Gunung Kawi tidak hanya menjadi tempat wisata budaya, tetapi juga ruang bagi sebagian orang untuk mengekspresikan harapan dan doa.
Namun, catatan tersebut juga sering ditafsirkan secara berbeda oleh masyarakat luar, terutama yang mengaitkannya dengan praktik pesugihan.
Dalam penjelasannya, Pesulap Merah menekankan pentingnya berpikir kritis dalam melihat fenomena seperti ini.
Menurutnya, keberhasilan seseorang dalam kehidupan tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan ritual tertentu, melainkan lebih kepada usaha, kerja keras, dan faktor kehidupan yang lebih luas.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam banyak ajaran agama, doa yang dipanjatkan langsung kepada Tuhan menjadi bentuk ibadah utama, tanpa perlu melalui perantara benda atau lokasi tertentu yang diyakini memiliki kekuatan khusus.
"Kalau kamu doa, kamu percaya terhadap doa kamu, itu lebih efektif dan lebih masuk akal ketimbang menjalankan ritual-ritual di luar kepercayaan agama itu sendiri." ujar Pesulap Merah.
Setelah menelusuri area makam dan situs-situs seperti Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggulwati, serta area Sanggar Pamujan, muncul kesimpulan bahwa Gunung Kawi memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menempatkan Gunung Kawi secara lebih proporsional: sebagai bagian dari warisan budaya dan spiritual Jawa, bukan semata-mata sebagai tempat praktik pesugihan.
Literasi budaya menjadi kunci agar masyarakat dapat memahami konteks tradisi tanpa terjebak dalam stigma atau mitos yang tidak berdasar.
Dengan pemahaman yang lebih kritis dan terbuka, Gunung Kawi dapat dilihat sebagai ruang pembelajaran budaya yang kaya, sekaligus pengingat bahwa kepercayaan lokal memiliki lapisan makna yang jauh lebih kompleks daripada sekadar cerita mistis.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)