Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH – Pihak SMKN 3 Kota Bogor akhirnya buka suara setelah isu pungutan biaya seragam dan kegiatan senilai jutaan rupiah viral diprotes orang tua murid di media sosial.
Sebelumnya, sebuah video di akun TikTok @kamimengadu menjadi sorotan karena mengeluhkan total biaya Rp 2,25 juta yang harus dibayarkan orang tua murid.
Jumlah tersebut merupakan gabungan dari biaya seragam yang disebut 'Sekolah Maung' sebesar Rp 750 ribu dan biaya kegiatan Gapura Panca Waluya ke Kuningan sebesar Rp 1,5 juta.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Tata Usaha SMKN 3 Kota Bogor, David Faizal, memberikan penjelasan dan meluruskan narasi yang beredar di jagat maya.
David menegaskan bahwa istilah seragam 'Maung' yang ramai di media sosial sebenarnya keliru.
"Yang perlu diklarifikasi tidak ada seragam Maung. Yang ada konsep seragam Taruna," kata David saat dihubungi TribunnewsBogor.com, Selasa (30/6/2026).
David menjelaskan bahwa rencana pengadaan baju Taruna ini sebenarnya sudah dibahas dalam rapat bersama orang tua murid kelas X dan XI (yang saat ini naik ke kelas XI dan XII) pada 17-18 Juni 2026 lalu.
Rapat itu sendiri digelar untuk evaluasi pembelajaran dan pemaparan program, termasuk status SMKN 3 Kota Bogor yang ditunjuk sebagai Sekolah Maung gagasan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.
Dalam rapat tersebut, seragam Taruna disosialisasikan dengan harga Rp 700 ribu.
Nilai itu sudah mencakup paket lengkap dari baju, celana, ikat pinggang, emblem, topi, hingga sepatu.
David pun menggarisbawahi bahwa pengadaan seragam ini sifatnya tidak wajib dan bertujuan untuk melatih kedisiplinan serta etika siswa.
Lebih lanjut, David mengungkap fakta mengejutkan mengenai dalang di balik viralnya protes biaya seragam dan kegiatan ini.
Pihak sekolah mencatat bahwa keluhan justru datang dari wali murid yang absen dalam pertemuan resmi.
Ia menyayangkan isu ini malah bergejolak di media sosial, padahal pihak sekolah sendiri belum mengadakan rapat dengan orang tua murid baru (kelas X) tahun ajaran ini terkait program tersebut.
“Tapi malah bergejolak. Dan ketika dilacak, dari yang bergejolak itu ternyata orang tua yang meramaikan di medsos mereka yang tidak datang saat rapat,” pungkas David.