Kenapa Lampu Merah di Jogja Terasa Banyak? Ini Penjelasannya
Hari Susmayanti July 01, 2026 10:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM-  Bagi sebagian orang yang baru pertama kali mengendarai kendaraan di Yogyakarta, ada satu hal yang cukup sering disadari.

Baru beberapa ratus meter melaju, pengendara sudah kembali bertemu lampu merah. 

Setelah melintas satu persimpangan, tak lama kemudian muncul persimpangan berikutnya yang juga dilengkapi lampu lalu lintas.

Pengalaman tersebut bahkan kerap menjadi perbincangan di media sosial. 

Tidak sedikit pendatang yang bertanya-tanya mengapa lampu merah di Yogyakarta terasa lebih banyak dibandingkan sejumlah kota lain.

Namun, apakah benar jumlah lampu merah di Yogyakarta memang lebih banyak? Ataukah hanya sekedar perasaan saja karena jarak antar persimpangannya berdekatan?

Ternyata, jawabannya tidak sesederhana “karena jalannya ramai”.

Ada beberapa faktor yang membuat pengendara lebih sering menjumpai lampu lintas saat berkendara di Kota Yogyakarta. 

Mulai dari karakteristik tata kota, banyaknya simpang yang saling terhubung, hingga penerapan teknologi pengaturan lalu lintas berbasis digital.

Banyak Simpang, Banyak Pula Lalu Lintas

Secara tata ruang, Kota Yogyakarta memiliki karakter yang berbeda dengan kota-kota besar yang berkembang dengan jalan-jalan lebar dan panjang.

Sebagai kota yang tumbuh dari kawasan pemukiman, pusat pemerintahan, pendidikan, hingga destinasi wisata, Yogyakarta memiliki banyak ruas jalan yang saling berpotongan dan membentuk simpang empat maupun simpang tiga.

Setiap simpang yang memiliki volume kendaraan tinggi membutuhkan pengaturan lalu lintas agar kendaraan dari berbagai arah dapat melintas secara bergantian dengan aman.

Dan di sinilah lampu lalu lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) berperan penting.

Menurut data Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Kota Yogyakarta memiliki sekitar 58 simpang yang dilengkapi APILL.

Jumlah tersebut tersebar di berbagai titik dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang berbeda-beda.

Artinya, keberadaan lampu merah bukan dipasang secara acak, melainkan berdasarkan kebutuhan pengaturan arus kendaraan pada setiap persimpangan.

Bukan Sekedar Lampu Merah, tetapi Diatur dengan Teknologi

Hal yang mungkin belum banyak diketau masyarakat adalah sebagian besar lampu lalu lintas di Kota Yogyakarta tidak lagi bekerja menggunakan pengaturan waktu yang sepenuhnya statis.

Banyak simpang yang kini telah dilengkapi Area Traffic Control System (ATCS), yakni sistem pengendalian lalu lintas berbasis teknologi informasi yang memungkinkan petugas memantau kondisi jalan secara langsung melalui kamera CCTV dari ruang control Dishub.

Dengan sistem tersebut, durasi lampu merah maupun lampu hijau dapat disesuaikan berdasarkan kondisi lalu lintas di lapangan.

Misalnya, ketika antrean kendaraan di salah satu ruas jalan mulai memanjang, petugas dapat memperpanjang durasi lampu hijau agar kepadatan lebih cepat terurai.

Sebaliknya, jika arus kendaraan relatif lengang, pengaturan waktu dapat kembali disesuaikan agar selutuh pengguna jalan tetap mendapatkan giliran melintas secara seimbang.

Berdasarkan catatan Dishub Kota Yogyakarta, hingga awal 2024 sebanyak 38 dari 58 simpang ber-APILL telah terhubung dengan sistem ATCS.

Pemerintah Kota Yogyakarta juga menargetkan seluruh lampu lalu lintas dapat menggunakan teknologi tersebut secara bertahap agar pengaturan lalu lintas menjadi lebih efektif.

Lampu Merah Dipasang untuk Keselamatan

Bagi sebagian pengendara, berhenti berulang kali di lampu merah mungkin terasa kurang nyaman.

Namun, fungsi utama lalu lintas sebenarnya bukan untuk memperlambat perjalanan, melainkan mengatur hak melintas setiap pengguna jalan agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan.

Persimpangan merupakan salah satu titik yang paling rawan terjadi permasalahan arus kendaraan.

Tanpa pengaturan yang jelas, kendaraan dari berbagai arah berpotensi saling berebut jalan sehingga memungkinkan terjadinya kecelakaan maupun kemacetan.

Karena itu, pemasangan APILL dilakukan berdasarkan hasil kajian lalu lintas, seperti volume kendaraan, karakteristik persimpangan, hingga tingkat keselamatan pengguna jalan.

Dengan kata lain, lampu merah tidak dipasang hanya karena suatu jalan ramai, tetapii juga mempertimbangkan apakah persimpangan tersebut memang membutuhkan pengaturan lalu lintas.

Mengapa Jarak Antar Lampu Merah Terasa Dekat?

Selain jumlah persimpangan yang cukup banyak, ada alasan lain mengapa lampu merah di Yogyakarta terasa muncul lebih sering dibandingkan beberapa kota lain.

Kawasan perkotaan Yogyakarta memiliki luas wilayah yang relatif kecil, tetapi menjadi pusat berbagai aktivitas.

Dalam jarak yang tidak terlalalu jauh terdapat kawasan pendidikan, pusat pemerintahan, berbagai toko, perkantoran, bahkan destinasi wisata.

Kondisi tersebut membuat banyak ruas jalan saling terhubung dalam jarak yang berdekatan.

Akibatnya, setelah melewati satu simpang, pengendara sering kali hanya perlu melaju beberapa ratus meter sebelum bertemu kembali persimpangan berikutnya.

Hal inilah yang kemudian membuat banyak orang merasa seolah-olah lampu merah di Yogyakarta ada di mana-mana.

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kepadatan jaringan jalan di pusat kota memang cukup tinggi.

Selain itu, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata.

Sehingga, setiap hari lalu lintas diisi oleh kendaraan warga lokal, mahasisw, wisatawan, hingga bus pariwisata.

Arus kendaraan yang beragam tersebut membutuhkan pengaturan yang lebih terstruktur agar perjalanan tetap aman dan lancar.

Durasi Lampu Merah Tidak Selalu Sama

Hal lain yang sering menjadi perhatian pengendara adalah durasi lampu merah yang terkadang terasa lebih lama di beberapa persimpangan.

Padahal, lamanya waktu berhenti di setiap lampu lintas tidak selalu sama.

Melalui sistem Area Traffic Control System (ATCS), petugas Dinas Perhubungan dapat memantau kondisi lalu lintas secara langsung dan melakukan penyesuaian waktu lampu sesuai situasi di lapangan.

Salah satu ruas jalan yang mengalami antrean kendaraan lebih panjang, durasi lampu hijau dapat diperpanjang agar kepadatan lebih cepat terurai.

Dengan sistem ini, pengaturan lampu lalu lintas menjadi lebih fleksibel dibandingkan sistem konvensional yang hanya mengandalkan pengaturan waktu tetap.

Pada akhirnya, meski lampu merah di Yogyakarta terkadang membuat perjalanan terasa lebih sering berhenti, keberadaannya justru menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan dan kelancaran lalu lintas di kota yang setiap harinya dipadati aktivitas masyarakat, mahasiswa, maupun wisatawan.

(MG- Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.