SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di saat perhatian pecinta sepak bola dunia tertuju pada sengitnya persaingan memperebutkan trofi Piala Dunia 2026, masyarakat Sumatera Selatan justru dibuat cemas dengan masa depan dua klub kebanggaannya, Sumsel United dan Sriwijaya FC (SFC).
Pengamat sepak bola Sumatera Selatan, Sahrizal, menilai kondisi kedua klub menjelang bergulirnya kompetisi musim 2026/2027 masih jauh dari kata ideal.
Menurutnya, hingga kini belum terlihat persiapan yang benar-benar matang, baik dari sisi teknis maupun finansial.
"Sayangnya, kemapanan tata kelola sepak bola di level dunia berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Bumi Sriwijaya," ujar Sahrizal kepada Tribunsumsel.com, Rabu (1/7/2026).
Menurut tokoh pendiri Sriwijaya Mania tersebut, Sumsel United yang akan berkompetisi di Liga 2 dan Sriwijaya FC yang kini terdegradasi ke Liga 3 (Liga Nusantara) sama-sama menghadapi tantangan besar sebelum kompetisi dimulai.
"Hingga saat ini belum ada tanda-tanda kehidupan atau persiapan yang konkret dari kedua klub," katanya.
Sahrizal mengatakan, indikator paling sederhana yang menunjukkan belum siapnya sebuah klub adalah belum ditetapkannya pelatih kepala beserta jajaran staf kepelatihan.
"Bagaimana sebuah tim mau berbicara soal target juara atau promosi kalau pelatih kepala dan staf kepelatihannya saja belum ada. Bahkan, keikutsertaan kedua tim di musim baru nanti masih diselimuti ketidakpastian," ujarnya.
Ia menegaskan, pengelolaan klub profesional tidak bisa lagi mengandalkan pola manajemen "gali lubang tutup lubang".
Menurutnya, klub harus memiliki modal tunai yang cukup sejak awal musim agar seluruh operasional berjalan tanpa hambatan.
"Uang tunai di awal musim menjadi jangkar stabilitas tim. Tanpa modal yang sehat, penyakit klasik sepak bola Indonesia akan kembali muncul, mulai dari tunggakan gaji pemain, gaji pelatih hingga utang kepada pihak ketiga," katanya.
Sahrizal menilai persoalan finansial akan berdampak langsung terhadap performa tim di lapangan.
"Ketika hak pemain dan kebutuhan operasional tersendat, psikologis tim pasti terganggu. Mustahil mengharapkan performa maksimal dari pemain yang pikirannya masih terbebani persoalan ekonomi keluarga," ujarnya.
Ia memperkirakan kebutuhan anggaran Sumsel United untuk mengarungi Liga 2 musim depan berkisar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar.
Sementara Sriwijaya FC membutuhkan dana sekitar Rp10 miliar hingga Rp13 miliar untuk tampil di Liga 3.
Menurutnya, beban Sumsel United saat ini lebih berat karena belum memiliki pemasukan yang signifikan dari penjualan tiket maupun merchandise sehingga pembiayaan masih bergantung pada pemilik klub dan sponsor.
"Pertanyaan besarnya sekarang, siapa yang siap membiayai roda kompetisi musim depan?" katanya.
Untuk Sriwijaya FC, Sahrizal berharap muncul investor atau donatur baru yang memiliki komitmen membangkitkan kembali kejayaan Laskar Wong Kito.
Sementara itu, perhatian publik juga tertuju kepada pemilik Sumsel United, Cik Ujang, terkait kesiapan mendanai kebutuhan klub menghadapi musim kompetisi 2026/2027.
"Apakah beliau siap mendanai musim depan secara mandiri?" ujarnya.
Sahrizal juga mengingatkan bahwa selama ini kekuatan sponsor Sumsel United cukup banyak berasal dari perusahaan swasta di sektor pertambangan batu bara.
Namun, dalam delapan bulan terakhir industri batu bara tengah menghadapi tekanan akibat fluktuasi pasar global.
"Kondisi itu tentu menjadi alarm bagi stabilitas finansial klub apabila tidak segera diantisipasi," katanya.
Menurut Sahrizal, sepak bola modern bukan hanya berbicara soal pertandingan selama 90 menit di lapangan, tetapi juga bagaimana manajemen bekerja secara profesional sepanjang musim.
• Masagus Zakaria Prioritaskan Tawaran Klub Liga 2 untuk Musim Depan
Ia menilai bulan depan akan menjadi momen penting untuk melihat keseriusan kedua klub dalam menghadapi kompetisi.
"Apakah Sumsel United dan Sriwijaya FC mampu bertahan dengan manajemen yang lebih profesional atau justru semakin terpuruk dan perlahan menghilang dari peta sepak bola nasional," katanya.
Ia berharap masyarakat Sumatera Selatan kembali dapat menikmati prestasi sepak bola yang membanggakan.
"Semoga segera ada lampu hijau bagi Sumsel United dan Sriwijaya FC. Sebab, mengelola klub dengan setengah hati hanya akan melahirkan kekecewaan yang berulang. Saatnya berbenah agar kedua klub bisa kembali menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan," pungkasnya.