SURYA.co.id, Sidoarjo – Ruangan berukuran 5x3,5 meter di Perum Griya Candi Asri Blok Q No 11-12, Gelam, Candi, Sidoarjo, menjadi saksi bisu denyut kreativitas seorang seniman lokal.
Di ruangan kecil yang menyatu dengan tempat tinggalnya ini, Maria Nofita Sechan (46) memajang deretan tas lukis, clutch, pouch, hingga busana lukis bermerek Galeri Raditajaya.
Bakat seni mengalir di darah Nofi secara turun-temurun dari sang kakek, meskipun ia tidak sempat mengenalnya secara langsung.
"Mbah saya dulu katanya itu suka bikin kaligrafi dari kaca, terus dipigora dijual gitu loh. Jadi melukisnya dibalik dari kaca," kenang Nofi kepada SURYA.co.id.
Nofi mematangkan bakat seninya secara akademis melalui jalur formal seni rupa. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Negeri Surabaya (kini SMKN 12 Surabaya) selama 3 tahun, dilanjutkan dengan kuliah S1 Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 1999
"Kalau dihitung (menjadi pelukis, red) mulai sekolah seni rupa ya, dari SMA (SMSR), saya sudah 16 tahun di dunia ini," ungkapnya.
Sejak tahun 1995, ia juga aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran seni rupa. Artinya, kehidupan seni sudah lama ia kenal.
Ketika mendirikan Galeri Raditajaya pada 16 Oktober 2018, Nofi menyadari bahwa mengelola karya seni terapan sangatlah berbeda dengan melukis di atas kanvas murni. Seniman akademis ini merasa harus belajar banyak hal baru tentang pengelolaan usaha.
"Sebenarnya saya sebagai seniman itu buta akan yang namanya bisnis, strategi bisnis, dan lain sebagainya," tutur Nofi.
Beruntung ada banyak pelatihan bagi UMKM. Ia mengikuti pelatihan itu satu per satu.
Baca juga: Merajut Mimpi dari Rumah BUMN Sidoarjo, Membawa UMKM Lokal Terbang ke Kancah Global
Untuk memperkuat permodalan awal Galeri Raditajaya, Nofi juga sempat memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI.
Langkah belajarnya kemudian berlanjut dengan mengikuti program inkubasi wirausaha tingkat provinsi yang sangat ketat di Malang.
"Di Dinkop Jatim, programnya itu setahun. Kami diinkubasi selama setahun dengan pertemuan sebulan sekali di Malang"
"Dari seribu sekian pendaftar, disaring jadi seratus, lalu lima puluh, hingga akhirnya diambil dua puluh lima pelaku usaha saja. Nah, saya bersyukur bisa katut (masuk) ke dalam jajaran 25 UMKM yang dibina selama setahun itu," jelas Nofi
Keaktifan Nofi dalam belajar mengelola bisnis juga terlihat dari partisipasinya pada program kelas UMKM yang diselenggarakan di Rumah BUMN BRI Sidoarjo.
Koordinator Rumah BUMN BRI Sidoarjo, Wahyu Andini, mengapresiasi semangat belajar Nofi yang dinilai luar biasa karena tidak ragu untuk terus menimba ilmu manajemen usaha bersama pelaku UMKM lainnya.
Anda bisa melihat grafis ini untuk mengetahui apa itu Rumah BUMN Sidoarjo:
Yang juga menarik, Nofi secara sadar memilih untuk memberdayakan potensi industri dan pengrajin lokal yang berada di sekitar tempat tinggalnya di Candi, Sidoarjo dalam memproduksi tas lukisnya.
"Kalau produk ini, saya memang lebih spesifik ke tas lukis. Kenapa saya memanfaatkan tas? Karena di sekitar tempat tinggal saya ini banyak pengrajin tas."
"Di Gelam, Candi, daerah-daerah sini semuanya rata-rata banyak pengrajin," urai Nofi menerangkan alasan pemilihan produknya.
"Buat saya pribadi, mengambil material di area terdekat itu bikin kami bisa free ongkir, bisa cek kualitas produksi sejauh apa secara langsung, dan menghemat biaya ongkos karena dekat rumah," tambahnya.
Guna menekan biaya produksi dan menjaga harga agar tetap terjangkau bagi para peminat, Nofi juga memformulasikan dan memproduksi cat tekstilnya sendiri secara mandiri.
Baca juga: Berawal dari Kamar Santri, UMKM Keyfara Sprei asal Sidoarjo Ini Jangkau Berbagai Kota
Paket pouch beserta cat produksinya tersebut kini juga ia pasarkan secara digital.
"Untuk catnya, saya menjualnya di online juga, biasanya dijual dalam bentuk paket-paket pouch beserta cat produksinya itu."
"Justru karena bisa memproduksi cat sendiri, saya bisa mengatur harga dengan lebih sehat dan bagus," paparnya.
Sentuhan personal dan detail pengerjaan produk fungsional dari Galeri Raditajaya ini dirasakan langsung oleh Clarisa, salah seorang pelanggan setia.
"Saya suka sekali dengan pouch lukisnya. Desainnya sangat khas, artistik, dan terasa sangat personal karena dilukis langsung dengan tangan."
"Bahan kanvasnya kokoh, lapisannya mewah, dan lukisannya tidak pudar atau mengelupas meskipun sering saya bawa beraktivitas sehari-hari," tutur Clarisa mengagumi produk fungsional tersebut.
Bagi Maria Nofita Sechan, ruang pameran 3x3 meter di rumahnya bukanlah batas akhir kreativitas. Didukung oleh permodalan KUR dan pembinaan berkelanjutan dari program UMKM BRI, ia membuktikan bahwa karya seni tidak melulu harus tergantung kaku di dinding galeri, melainkan bisa hidup berdampingan di dalam genggaman aktivitas sehari-hari