– Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tetap memprioritaskan jalur diplomasi dan dialog dalam menata hubungannya dengan pihak Amerika Serikat (AS).
Kendati mengutamakan solusi damai, Ghalibaf memberikan peringatan keras bahwa militer Iran berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi opsi konflik bersenjata apabila jalan diplomasi tersebut menemui jalan buntu.
Pernyataan strategis itu disampaikan oleh Ghalibaf menjelang pelaksanaan agenda pertemuan bilateral terpisah antara delegasi diplomatik Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Doha, Qatar.
"Kami sedang mengupayakan dialog, tetapi jika dialog tersebut tidak berhasil, kami juga siap untuk perang dan akan merespons sesuai dengan itu," tegas Mohammad Bagher Ghalibaf dalam wawancara di televisi pemerintah Iran, Selasa (30/6/2026).
Lebih lanjut, Ghalibaf menerangkan bahwa fokus perundingan di Doha akan dititikberatkan pada kepatuhan pelaksanaan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Teheran secara tegas menolak untuk membuka lembaran putaran negosiasi baru dalam bentuk apa pun sebelum seluruh butir aturan serta ketentuan hukum di dalam MoU tersebut dipenuhi secara menyeluruh oleh pihak Washington.
Selain mengawal proses meja perundingan dengan Amerika, Iran juga dilaporkan aktif menjalin komunikasi diplomasi intensif dengan sejumlah negara tetangga di kawasan Teluk guna mengawal stabilitas keamanan regional, seperti dilaporkan oleh Arab News.
Dalam kesempatan tersebut, Ghalibaf juga mempertegas kedaulatan mutlak negaranya bersama Kesultanan Oman atas Selat Hormuz yang menjadi rute krusial distribusi pasokan energi global, di mana kapal asing hanya digratiskan melintas selama masa transisi 60 hari sesuai mandat MoU.
Di sektor ekonomi, ia menyoroti lonjakan volume ekspor komoditas minyak mentah Iran yang sukses menembus angka di atas 40 juta barel dengan grafik harga jual 20 persen lebih tinggi pasca-berakhirnya kebijakan embargo pelabuhan nasional.
Ghalibaf melayangkan ancaman serius bahwa jika pihak Amerika Serikat kembali berupaya melakukan boikot atau menghentikan aktivitas perdagangan logistik minyak bumi milik Teheran, maka dampak kerugian ekonomi tersebut dipastikan akan meluas ke kancah global global, dilansir dari Al Arabiya.
Sebagai informasi, eskalasi militer terbuka yang melibatkan poros Amerika Serikat, Israel, dan Iran sebelumnya sempat pecah pada 28 Februari 2026 pasca-serangan udara gabungan ke fasilitas strategis Teheran akibat kebuntuan perundingan nuklir di Jenewa.
Serangan ofensif tersebut kemudian langsung dibalas oleh pihak Iran melalui gempuran rudal ke wilayah teritorial Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia, dibarengi pengetatan ketat sistem pengawasan navigasi di Selat Hormuz.