Memaknai Golden Age, Pengasuhan yang Setara Kolaborasi Antara Ibu dan Ayah
Heri Prihartono July 01, 2026 11:48 AM

TRIBUNJAMBI.COM– Pengasuhan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu, tetapi membutuhkan kolaborasi yang setara antara ayah dan ibu agar tumbuh kembang anak berlangsung optimal, terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan.

Hal itu mengemuka dalam Podcast Bincang Inspiratif yang menghadirkan Bunda PAUD Kabupaten Tebo, Nur Chasanah Nazar, S.P., M.M, dan System Strengthening Unit Coordinator Tanoto Foundation, Edwin Yohannes, untuk membahas pentingnya equal parenting dalam membangun generasi Indonesia Emas 2045.

Berikut petikan wawancara selengkapnya bersama Host Tifany Anggina.

Host: Bagaimana makna pengasuhan yang setara bagi tumbuh kembang seorang anak, Bunda?

Bunda Nur Chasanah Nazar

"Iya jadi menurut perspektif saya selaku Bunda PAUD juga selaku seorang ibu bahwa pengasuhan itu tidak melulu dibebankan hanya pada seorang ibu tapi memang setara artinya bahwa pengasuhan anak itu dibutuhkan peran serta seorang ayah sehingga ada kolaborasi antara ayah dan bunda dalam mendidik serta memperhatikan tumbuh kembang anak-anak kita seperti itu."

Masa Golden Age

Host: Sebagai seorang ibu, apa yang harus dilakukan pada masa golden age atau 1.000 hari pertama kehidupan?

Host: Jadi mungkin bukan hanya sekadar fasilitas ya Bunda ya, tapi apalagi ini di masa Golden Age 1.000 hari pertama. Sebenarnya sebagai seorang ibu apa yang harus kita lakukan?

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Iya masa PAUD masa golden age kita sama halnya dengan bisa mempresentasikan bahwa usia-usia segitu tuh saraf anak tuh melesat sangat tajam 80 sampai 90 persen jadi seperti spons yang menyerap apa pun yang dilihat apa pun yang dirasa sehingga masa tumbuh kembang anak saat itu perlu kita kasih ibarat makanan kita perlu kasih makanan yang bagus dan untuk pola pengasuhan tentunya harus ada keseimbangan.

Ayah harus ikut masuk di dalam pengasuhan anak dan bunda apalagi terlebih lagi bunda karena memang kehadiran seorang ayah itu akan membentuk karakter anak. Anak akan menjadi berani, kreativitas anak akan terbentuk dengan adanya hadirnya ayah karena seorang ibu mampu memberikan kasih sayang, dekapan kasih sayang, tapi seorang ayah akan mampu membuat anak percaya diri dan berani seperti itu.

Host: Saya juga penasaran Bunda, seperti apa kehadiran seorang ayah? Maksudnya peran seorang ayah seperti apa dalam pola pengasuhan ini Bunda?

Bunda  Nur Chasanah Nazar:

Iya ayah bisa berperan dalam banyak hal Mbak. Jadi bisa mendampingi, berkolaborasi mendampingi anak-anaknya untuk belajar. Ayah meluangkan waktunya walaupun hanya lima sampai lima belas menit, tapi quality time itu yang anak-anak butuhkan. Bisa mendampingi belajar, bisa bermain, bisa diskusi atau bisa sekadar mengajak anak untuk bercerita sehingga anak akan merasa terperhatikan dengan adanya kehadiran seorang ayah.

Host: Oke, meluangkan waktunya sepulang kerja ya Bunda ya.

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Iya benar banget.

Host: Oke kalau dari Bunda itu tadi Tifan sudah lihat perspektif seorang ibu. Kita akan ke perspektif seorang ayah. Ternyata bukan hanya ibu saja yang berperan di rumah ya Bunda untuk pola pengasuhan tapi juga seorang ayah. Kalau dari Mas Edwin sendiri sebagai seorang ayah juga bagian dari Tanoto Foundation, apa arti kebersamaan dengan anak bagi Mas Edwin sendiri?

Perspektif Ayah

Edwin Yohannes:

Iya terima kasih Mbak. Sepakat sih yang disampaikan oleh Bunda tadi sebenarnya bahwa anak itu bukan menjadi urusan bunda saja, urusan ibunya saja. Memang kita mengalami fenomena di Indonesia mayoritas ayah biasanya bekerja menjadi tulang punggung keluarga jadi sedikit kurang nih untuk sekadar bermain dengan anak di rumah. Biasanya ibunya yang sering bermain.

Kalau dari sisi saya sebenarnya sebagai seorang ayah arti kebersamaan itu adalah ketika kedua orang tua itu hadir. Bukan berbicara tentang kegiatan besar misalkan harus jalan-jalan ke mal atau ke mana. Bahkan hal kecil hanya sekadar misalkan saya di rumah pulang kerja, karena kebetulan saya ada sedikit kemampuan bermain piano, sekadar main piano dengan anak ataupun bermain ular tangga, nah itu merupakan bagian dari kebersamaan antara orang tua.

Betul disampaikan oleh Bunda, equal parenting itu penting antara ibu dan ayah. Terutama ayahnya yang mungkin kita sering terlalu sibuk bekerja, terkadang sampai rumah sudah lelah, main handphone terus tidur. Nah mungkin kita bisa sedikit saja luangkan waktu sekadar yang disampaikan Bunda tadi, mendengar anak bercerita, bermain bersama, bahkan mungkin kedua orang tua bisa saling bermain bersama dengan anak sebelum anaknya beristirahat atau tidur pada saat malam harinya.

Peran Penting Ayah

Host: Oke ternyata bukan hanya sekadar misalnya fasilitas yang mewah, tapi juga hal-hal kecil yang harus diperhatikan ya Mas Edwin. Saya juga penasaran nih Bunda, untuk pola pengasuhan bagi anak sendiri dampaknya seperti apa jika tidak ada peran ayah di dalamnya?

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Saya pikir kalau tidak ada peran ayah, anak hidup dibersamai ada ayah dan ada bunda. Manakala cuma satu rasanya anak, yang banyak saya temui di lapangan juga, itu akan sangat berpengaruh ke jiwa anak. Jadi anak itu akan merasa lebih minder, akan merasa tidak percaya diri, gampang emosian. Itu yang kita temui karena memang harus ada kolaborasi antara anak dan ayah untuk menjaga keseimbangan hati anak tersebut.

Host: Apalagi anak perempuan ya biasanya Bu?

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Iya anak perempuan benar banget, itu adalah first love-nya ayah.

Host: Mas Edwin saya juga penasaran, anaknya sudah berapa Mas Edwin?

Edwin Yohannes:

Kebetulan anak saya sudah dua, baru sekitar delapan sampai sembilan bulan yang terakhir.

Host: Berarti keduanya masih golden age ya Bunda. Sudah sepasang.

Edwin Yohannes:

Betul.

Host: Mas Edwin bagaimana tantangan untuk membagi waktu? Apalagi memang peran ayah sebagai pencari nafkah ataupun tulang punggung sudah sibuk pergi pagi pulang malam. Bagaimana Mas Edwin membagi waktunya? Mungkin ada tips dan triknya sendiri.

Edwin Yohannes:

Membagi waktu sebenarnya seperti dikatakan Bunda tadi tidak harus ibu terus, tidak harus bunda terus atau ayah terus, tapi mungkin kedua belah pihak antara ibu dan ayah saling berkolaborasi.

Yang paling penting adalah memastikan bahwa ketika seorang ayah kembali ke rumah pastikan dalam keadaan situasi yang sangat baik. Jangan sampai ayah stres di kantor, tiba-tiba bermain dengan anak terbawa emosi kantor. Nah itu yang tidak boleh.

Pastikan ibu mengerti, ayah mengerti, sehingga pada saat kita pulang ke rumah sekadar meluangkan waktu sebentar saja, mungkin seminggu empat sampai lima kali bolehlah sekadar bermain untuk anak. Tidak lama, hanya lima belas menit mungkin sebelum tidur.

Karena sepakat yang disampaikan Bunda tadi bahwa bunda itu tempat kembalinya seorang anak ketika anak sudah mau tidur. Membawa emosinya, perasaannya akan kembali ke bundanya. Sementara anak itu ketika melihat ayahnya dia melihat sosok yang, "Wah ada permainan baru nih, ada aktivitas baru nih."

Nah itu yang terkadang terutama anak perempuan, first love ayahnya. Setiap lihat ayahnya, "Wah ayo ya kita main lagi, kita main lagi, kita main lagi, ada yang baru."

Nah ketika kita pulang kantor, pulang kerja, beraktivitas, itu yang dinantikan seorang anak sebenarnya. Maka dari itu mungkin perlu kita luangkan sedikit waktu saja untuk bermain dengan anak di rumah.

Host: Oke ada rasa aman juga dari anak sendiri ya Mas. Bunda ini saya juga mau belajar sebagai ibu baru. Bunda sudah berpengalaman tentunya. Bagaimana sebagai ibu yang beraktivitas cukup padat ataupun juga berkegiatan yang cukup banyak, tetapi tetap berperan sebagai seorang ibu? Bagaimana mensiasatinya? Apakah nanti suatu saat anak sampai protes, "Mama kok kerja terus, Bunda kok kerja terus?"

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Iya jadi kita meluangkan waktu. Sesibuk apa pun kalau saya, saya selalu meluangkan waktu buat anak saya. Jadi kita punya hak tapi anak juga punya hak, kita berikan hak dia dulu baru kita menuntut apa yang harus anak kerjakan, anak lakukan.

 

Dan saya selalu menekankan kepada khususnya anak-anak saya, dalam hal ini saya menganggap anak-anak saya itu sebagai teman. Jadi saya kasih waktu buat mereka untuk bercerita apa saja sepulang sekolah atau terkait sama teman-temannya atau hanya sekadar hal kecil saja bahwa kadang di sekolah, "Bunda adik jajan ini itu", kita respons.

 

Dan alhamdulillahnya saya mensiasatinya, setiap kesibukan yang saya jalani saya masih selalu bisa meluangkan waktu saya buat anak saya sepulangnya atau sebelum saya beraktivitas. Dan yang selalu saya rutinkan saat tidur karena bagi saya anak is number one, yang pertama.

 

Host: Iya, ibu perasaan ya.

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Iya, seorang ibu.

 

Host: Baik pemirsa dan juga Tribuners semua, kita akan break sejenak dan kita akan kembali di segmen berikutnya.

 

SEGEMEN DUA

 

Host: Tribuners, kita kembali lagi dalam Podcast Bincang Inspiratif. Bunda dan juga Mas Edwin, sebelum mulai kita boleh minum dulu, tarik napas dulu. Jangan lupa bernapas ya, bahaya kalau lupa.

 

Sering kali kita masih ada anggapan bahwa pengasuhan itu adalah tugas utama ibu di rumah. Pokoknya segala urusan rumah itu adalah tugas seorang ibu atau tugas seorang istri. Padahal saat ini semakin banyak keluarga yang menerapkan pengasuhan bersama atau equal parenting.

 

Saya mau ke Bunda dulu. Menurut Bunda, seperti apa pembagian peran ideal antara ayah dan ibu dalam mendampingi anak?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Iya kalau dari sisi saya sebagai seorang ibu bukan membagi tapi berkolaborasi bersama.

 

Jadi kalau nanti kita sudah pakai istilah membagi ujungnya akan ada yang kosong, tidak terisi. Jadi kalau saya lebih pada kita saling berkolaborasi, bekerja sama, saling mengisi.

 

Bukan hanya semata si ayah mengerjakan apa, bunda mengerjakan apa, tidak seperti itu.

 

Kalau yang saya terapkan di kehidupan saya juga, saya selalu sampaikan kepada para orang tua bahwa dibutuhkan peran ayah yang seimbang. Si ibu tetap menjalankan peran sebagai ibu dan ayah juga tetap menjalankan peran sebagai ayah dengan tidak lupa bahwa anak itu tanggung jawab bersama.

 

Ayah juga harus tahu tumbuh kembang anak kita seperti apa.

 

Host: Iya, terkadang saya lihat di luar sana ya Bu, kalau anaknya ada kenapa-kenapa itu adalah salah ibu. Bagaimana sih Bunda kita harus menghilangkan anggapan ataupun stigma seperti itu di tengah masyarakat?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Iya karena banyak anggapan yang menyatakan seorang ibu itu madrasah bagi anaknya, sekolah bagi anaknya.

 

Kalau saya lebih menekankan, iya benar seorang ibu memang madrasah pertama bagi anaknya, tapi jangan lupa bahwa kepala sekolahnya itu ada di ayahnya.

 

Jadi artinya harus ada keseimbangan dan stigma-stigma seperti itu mulai kita coba ubah dengan adanya contoh langsung.

 

Contoh langsung harus kita aplikasikan kepada anak-anak kita melalui ayah, mungkin nanti bisa mendampingi anak belajar.

 

Dan kalau kami di Kabupaten Tebo juga alhamdulillah ikut membantu pemerintah untuk semakin menyadarkan para ayah bahwa ayah itu harus berperan melalui berbagai gerakan yang ada di Kabupaten Tebo.

 

Host: Gerakan seperti apa saja Bunda?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Salah satunya ada Program GATI, Gerakan Ayah Teladan Indonesia.

 

Alhamdulillah wujud kegiatannya adalah hal terkecil seperti mengambil rapor ke sekolah, mengantar anak ke sekolah.

 

Kalau di Kabupaten Tebo alhamdulillah saya justru menemukan sesuatu yang bikin hati saya lucu.

 

Pada saat hari Sabtu ketika saya mengantar anak sekolah, ternyata banyak para ayah yang datang.

 

Saya berpikir, "Oh ternyata hari Sabtu ini menjadi sebuah kebiasaan, menjadi harinya ayah."

 

Saya sering menggoda teman-teman yang ketemu dengan saya, "Oh iya lupa, ini hari ayah."

 

Karena seorang ibu yang bekerja dari hari tidak ada tutupnya. Sang ayah belum bangun, anak belum bangun, kita sudah bangun. Kapan kita tidur lagi? Setelah semuanya tidur.

 

Di Kabupaten Tebo alhamdulillah gerakan itu sudah berdampak baik, memberi kesadaran kepada para orang tua untuk ikut berperan terhadap tumbuh kembang anaknya.

 

Salah satu contohnya tadi mengantar anak ke sekolah, mengambil rapor anak, mengantar pemeriksaan ke Posyandu dan lain-lain.

 

Host: Sebenarnya adalah hal-hal kecil ya Bunda, tetapi kalau ayah melakukannya itu luar biasa.

 

Saya juga baru dengar bahwa di Kabupaten Tebo hari Sabtu adalah Hari Ayah.

 

Sekarang kita ke Mas Edwin. Bagaimana Mas Edwin memandang mengenai equal parenting ini?

 

Edwin Yohannes:

 

Iya, equal itu artinya sama ya Mbak.

 

Saya mungkin bisa bercerita dari awal.

 

Ketika kita ingin memiliki seorang anak maka itu adalah kesepakatan antara kedua belah pihak, antara ayah dan ibu tentunya.

 

Kita harus bangun bersama ketika ingin memiliki seorang anak.

 

Pastikan bahwa untuk mengasuh, memastikan tumbuh kembang anak hingga nanti mencapai apa yang diinginkannya, itu kolaborasi antara kedua belah pihak.

 

Saya sepakat dengan yang disampaikan Ibu tadi bahwa peran ayah itu sangat penting.

 

Sekadar mengantar sekolah, mungkin beberapa daerah ayahnya pergi ke kantor. Contohnya saya, terkadang mumpung lagi berangkat kantor sekalian mengantar anak sekolah.

 

Kalau pulangnya ayah tidak bisa, maka equal-nya adalah ibunya yang menjemput.

 

Kemudian ketika kembali dari kantor, misalkan ibunya ingin mempersiapkan makan malam, ayah gantian memegang anak supaya ibunya bisa beraktivitas yang lain untuk kebutuhan rumah tangga.

 

Itu poin penting sebenarnya.

 

Poin sederhana yang idealnya bisa dilakukan oleh seluruh ayah di Indonesia.

 

Namun memang kembali lagi saya tidak bisa pungkiri, terkadang faktor ekonomi juga memengaruhi.

 

Kadang ayah tidak harus pulang sore tetapi sampai pukul 11 malam.

 

Kadang terlewat sekadar bermain.

 

Namun dengan Program Ayah Teladan tadi, misalkan hari Sabtu menjadi Hari Ayah, tolonglah di hari Sabtu ayah porsinya lebih banyak bermain dengan anak.

 

Karena di awal tadi sudah saya sampaikan bahwa anak ketika ingin menemukan hal baru dia akan mencari ayahnya.

 

Dia akan mencari sosok yang terbiasa memberikan hal-hal baru, suasana baru.

 

Sementara ketika sudah lelah dan waktunya makan, dia akan mencari ibunya.

 

Hari Sabtu anak itu ingin mengeksplor hal-hal baru.

 

Sehingga nanti hari Senin, Selasa, Rabu ketika ayah pulang kerja akan dicari lagi.

 

"Ayah, yang kemarin kita ulangi lagi."

 

Contoh kecil yang sering saya lakukan biasanya bermain ular tangga, menyusun balok, atau melakukan aktivitas pembelajaran meningkatkan aktivitas kognitif anak.

 

Kalau masih kecil ya sekadar melatih sensor motorik kasar maupun motorik halus.

 

Host: Banyak sekali ya Tribuners aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan untuk mengisi ataupun juga kolaborasi antara ibu dan ayah ini.

 

Saya mau kembali ke Bunda. Bunda sebagai Bunda PAUD Kabupaten Tebo dan juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tebo, tadi Bunda sudah jelaskan bahwa ada Program Gerakan Ayah Teladan. Mungkin boleh dijelaskan lagi, apa saja program-program PAUD dan pembinaan keluarga di Kabupaten Tebo? Bagaimana upaya yang dilakukan untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pola pengasuhan ini?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Iya jadi saya biasanya bekerja sama, berkolaborasi dengan OPD teknis untuk parentingnya.

 

Jadi ada kegiatan Road Parenting di Kabupaten Tebo. Ada 12 kecamatan dan itu insyaallah bisa kami jangkau di 12 kecamatan walaupun belum terjangkau ke 129 desa, karena luar biasa membutuhkan waktu berbulan-bulan kalau harus sampai ke 129 desa.

 

Dalam Road Parenting tersebut saya menghadirkan bukan hanya seorang ibu tetapi ada ayah di situ.

 

Jadi sekaligus ayah juga tahu apa sih pola-pola pengasuhan yang baik untuk anaknya.

 

Lalu kegiatan itu juga kita laksanakan secara berkala di sekolah-sekolah agar para orang tua tahu tumbuh kembang anak itu seperti apa di sekolah.

 

Jadi saat di sekolah tidak hanya menjadi kewajiban gurunya saja, tapi orang tua juga harus tahu bahwa walaupun sudah di sekolah tetap ada peran kita selaku orang tua.

 

Nah itu salah satunya Road Parenting di 12 kecamatan itu insyaallah masih kami laksanakan.

 

Kemudian Gerakan GATI, Gerakan Ayah Teladan Indonesia.

 

Hal-hal simpel yang bisa dilakukan tapi akan berdampak sangat baik terhadap jiwa dan mental anak kita.

 

Lalu ada Program Kompak Tenan namanya, Komunitas Ayah Teladan.

 

Jadi dari berbagai komunitas yang ada di Kabupaten Tebo itu kita himpun.

 

Mereka akan memberikan contoh-contoh, setidaknya untuk keluarganya sendiri dulu, buat anak-anaknya sendiri.

 

Host: Oke ternyata banyak sekali yang mungkin di luar sana masih belum tahu ya Bunda.

 

Ternyata di Kabupaten Tebo banyak sekali program-program khususnya untuk seorang ayah.

 

Mas Edwin boleh ikutan jadi warga Kabupaten Tebo.

 

Ini perlu dicontoh nih, Gerakan Ayah Teladan.

 

Edwin Yohannes:

 

Karena apa Mbak, saya izin menanggapi sedikit ya.

 

Karena mungkin sosok ayah yang seperti saya tidak banyak.

 

Mungkin lebih banyak yang sibuk bekerja dan sebagainya.

 

Tapi ketika itu difasilitasi oleh pemerintah seperti yang disampaikan oleh Bunda tadi, itu sebenarnya cukup bisa menyebarluaskan praktik-praktik baik.

 

Ada komunitas, ada Program Ayah Teladan dan sebagainya.

 

Saya pikir ini bisa dicontoh Tribuners di daerah lain.

 

Nanti mungkin bisa diajukan ke pemerintah kabupaten kota masing-masing program-program ayah seperti ini sehingga bisa menambah equal parenting di kabupaten kota masing-masing.

 

Host: Apresiasi untuk seorang ayah juga ya Bunda.

 

Kalau untuk tantangan sendiri di tengah-tengah masyarakat, tadi Bunda sudah jelaskan ada 129 desa dan wilayah Kabupaten Tebo sangat luas.

 

Apa tantangan yang Bunda hadapi dalam sosialisasi mengenai parenting ini?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Banyak.

 

Karena memang membuat seseorang menjadi sadar bahwa anak is number one.

 

Tumbuh kembang anak itu menjadi tanggung jawab orang tuanya, bukan hanya diserahkan ke sekolah.

 

Balik lagi ke kesadaran.

 

Tidak semua orang tua sadar bahwa kita harus menerapkan equal parenting.

 

Tadi Mbak sampaikan bahwa banyak seorang ayah karena kesibukannya dan rasanya dari zaman dulu itu sudah terdoktrin kalau ayah memang tukang cari nafkah.

 

Sehingga selalu lupa dengan kondisi bahwa anak ini bukan butuh materi saja.

 

Hatinya yang kosong itu perlu diisi oleh seorang ayah.

 

Kesadaran orang tua seperti itu.

 

Nah itulah kami mencoba membuat gerakan-gerakan dengan adanya sentuhan himbauan berupa regulasi dan sebagainya.

 

Alhamdulillah mampu sedikit mendongkrak kesadaran.

 

Lalu ekonomi juga menjadi tantangan sebuah keluarga.

 

Terlebih keluarga yang ekonominya kurang.

 

Tetapi kalau saya selalu mengatakan, luangkan waktu lebih dari lima belas menit untuk membersamai tumbuh kembang anak-anak kita.

 

Host: Oke ternyata untuk memenuhi kesehatan mental seorang anak itu dibutuhkan kolaborasi ibu dan juga ayah.

 

Sekarang saya mau ke Mas Edwin.

 

Melalui berbagai program dari Tanoto Foundation sendiri, mengapa keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama menjadi faktor yang penting untuk membangun generasi masa depan yang berkualitas?

 

Dari kacamata sebagai seorang ayah dan juga dari Tanoto Foundation, silakan.

 

Edwin Yohannes:

 

Baik Mbak.

 

Dari sisi ayah saya sudah sampaikan tadi di awal bahwa pentingnya keterlibatan seorang ayah ataupun parenting itu penting bagi anak.

 

Di Tanoto Foundation sendiri kita percaya bahwa ada istilah, ketika kita mengubah awal cerita maka kita akan mengubah seluruh cerita.

 

Ketika kita sudah melakukan intervensi di awal sesuai dengan yang diharapkan maka kita bisa mengubah cerita di akhirnya.

 

Di Tanoto Foundation ada Program SIGAP, Siapkan Generasi Anak Berprestasi.

 

Jadi itu merupakan program mempersiapkan seorang anak agar tumbuh kembangnya sesuai yang diharapkan.

 

Apalagi Indonesia saat ini menuju Indonesia Emas 2045.

 

Nah dari sekarang anak-anak itu perlu dikuatkan terutama dalam hal perkembangan, tumbuh kembang, dan pengasuhan.

 

Terutama di golden age yang tadi disampaikan bahwa usia dari dalam kandungan sampai usia dua tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan sangat penting.

 

Kita harus memastikan gizi ibunya terpenuhi, nutrisinya terpenuhi.

 

Kemudian dari sisi pengasuhan yang responsif juga perlu dilakukan.

 

Di Tanoto Foundation kita mencoba menyadarkan kepada ayah, kepada orang tua, kepada masyarakat bahwa pengasuhan itu sangat penting.

 

Karena kembali lagi, cerita itu tidak bisa diubah ketika sudah di ujung.

 

Kalau episodenya sudah mau berakhir, kita tidak mungkin mengubah skenario di awal.

 

Yang terpenting adalah skenario di awal kita siapkan sehingga di ujung nanti ceritanya sesuai dengan skenario yang kita kerjakan.

 

Host: Oke semoga ini menjadi niat yang baik dan ujungnya adalah hal yang baik juga.

 

Amin.

 

Segmen Games "Pernah atau Tidak Pernah"

 

Host: Oke Tribuners kembali lagi dalam Podcast Bincang Inspiratif. Kalau di tangan Kak Fani sudah ada yang seperti ini artinya kita akan main games.

 

Bunda dan juga Mas Edwin, kita akan bermain games. Pertanyaannya pertanyaan cepat. Jadi Bunda bisa jawab "pernah" atau "tidak pernah". Mikirnya cuma boleh satu sampai dua detik ya, langsung jawab tanpa berpikir. Pertanyaannya simpel-simpel saja yang pastinya mengenai pembahasan kita tadi soal parenting dan kolaborasi pola pengasuhan antara ibu dan ayah.

 

Sudah siap?

 

Pertanyaan 1

 

Host: Pernah diam-diam memberikan tambahan camilan kepada anak meskipun sudah dilarang pasangan?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Pernah.

 

Edwin Yohannes:

Pernah.

 

Edwin Yohannes:

Enggak tegaan kita, apalagi misalnya enggak boleh makan manis. Ah sedikit enggak apa-apa, karena kita berpikir itu buat anak.

 

Pertanyaan 2

 

Host: Pernah kalah berdebat dengan anak balita?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Pernah.

 

Edwin Yohannes:

Pernah.

 

Host:

Dengan keponakan saya bukan berdebat, biasanya soal-soal yang simpel yang kita enggak sampai kepikiran ternyata mereka aware.

 

Edwin Yohannes:

 

Sebenarnya bukan berdebat kalah sih, tapi lebih ke tidak bisa menjawab pertanyaan karena terlalu kritis. Jadi takut jawabnya.

 

Pertanyaan 3

 

Host: Pernah merasa bersalah karena terlalu sibuk atau kurang punya waktu bersama anak?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Sangat pernah.

 

Edwin Yohannes:

Sangat pernah.

 

Host:

Karena mungkin kesibukan juga ya Bunda, dengan banyak sekali program yang harus dijalankan. Mas Edwin juga banyak program bersama Tanoto Foundation.

 

Pertanyaan 4

 

Host: Pernah belajar sesuatu yang baru justru dari anak?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Pernah.

 

Edwin Yohannes:

Pernah.

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Jadi memang sebagai orang tua anak itu sebenarnya tempat belajar.

 

Teman belajar.

 

Karena kesalahan kita saat bersama mereka memang ada. Dari mereka lahir sampai tumbuh dewasa.

 

Pertanyaan 5

 

Host: Pernah ikut bermain sampai lupa waktu bersama anak?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Tidak.

 

Host: Kenapa tidak Bunda?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Karena saya selalu batasi jam.

 

Saya berikan waktu buat anak saya, tapi saya minta hak saya untuk anak saya juga.

 

Kadang saya bilang, "Saya belajar dulu."

 

Anak saya bilang, "Kakak mau main dulu."

 

Saya bilang, "Berapa jam?"

 

Setelah itu alhamdulillah anaknya komit.

 

Jadi memang kita harus bentuk dari awal supaya akhirnya indah.

 

Edwin Yohannes:

 

Kalau ayah kadang-kadang lupa.

 

Sudah malam masih diajak bermain lagi.

 

Apalagi kalau lagi asyik bermain itu cukup bisa mengganggu jam tidur.

 

Pertanyaan 6

 

Host: Pernah merasa bahwa momen sederhana bersama keluarga ternyata jauh lebih berkesan daripada hadiah mahal?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Pernah.

 

Edwin Yohannes:

Pernah.

 

Edwin Yohannes:

 

Karena kembali lagi, rumah itu adalah tempat terindah untuk pulang.

 

Karena ada suasana istri di rumah, ada suara ibu, kemudian anak-anak.

 

Ketika kita lelah, lelah itu akan terobati dengan kehadiran anak.

 

Senyum anak, tawa anak.

 

Bahkan ketika anak merengek minta dibelikan sesuatu, terkadang kita enggak tegaan.

 

Itu yang membuat kita sadar bahwa kita mencari materi di luar sana ujung-ujungnya memang buat anak.

 

Jadi memang anak itu number one.

 

Host: Kalau kata Bunda tadi, kadang ibu lebih tegas daripada ayah ya?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Iya, tapi tetap pakai bahasa yang enggak tegaan tadi.

 

Tetap ada.

 

Host:

Saya perlu banyak belajar lagi. Kayaknya saya perlu ikut programnya.

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

Boleh, dengan senang hati.

 

Segmen Kolaborasi Pemkab Tebo dan Tanoto Foundation

 

Host:

 

Bunda dan juga Mas Edwin, hari ini kita membahas mengenai program-program dari Kabupaten Tebo dan juga bersama Tanoto Foundation.

 

Saya ke Bunda dulu.

 

Kolaborasi seperti apa yang sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Tebo, khususnya Bunda sebagai Bunda PAUD Kabupaten Tebo bersama Tanoto Foundation?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Alhamdulillah kita sudah melakukan kerja sama MOU yang diteken antara Tanoto Foundation dengan Pemerintah Kabupaten melalui Bapak Bupati Tebo, Bapak Agus Rubiyanto.

 

Awalnya saya terinspirasi ingin ada sebuah ruangan, sebuah wadah di Kabupaten Tebo yang bisa menampung mengenai pengasuhan dan ada peran orang tua di dalamnya.

 

Alhamdulillah disambut baik oleh Tanoto Foundation.

 

Terima kasih Pak Edwin.

 

Sesuatu berkah yang luar biasa bagi saya selaku Bunda PAUD Kabupaten Tebo.

 

Kami bekerja sama terhadap pembentukan Rumah SIGAP.

 

Jadi kalau di Tebo kita punya Rumah Pintar.

 

Saya pikir itu bisa menjadi jalan untuk berkolaborasi terhadap program pengasuhan tumbuh kembang anak.

 

Semuanya ada di dalam Rumah SIGAP tersebut.

 

Alhamdulillah sekarang masih dalam proses.

 

Insyaallah nanti sekitar bulan Oktober bisa kita wujudkan fisik bangunannya.

 

Beberapa kali juga Tanoto Foundation sudah melakukan audiensi dan rapat berkala dengan kami.

 

Saya sangat mengapresiasi dan menyambut baik program yang dibawa Tanoto Foundation karena lebih kepada pemerhati tumbuh kembang anak yang terkadang terlupakan banyak lembaga.

 

Tetapi alhamdulillah dari Tanoto Foundation menjadi program yang sangat baik sekali.

 

Kami dengan senang hati menerima.

 

Host:

 

Program yang sangat relate juga ya Bunda dengan Bunda PAUD dan juga Tim Penggerak PKK.

 

Semoga kolaborasi ini membawa dampak yang luar biasa baik untuk Kabupaten Tebo.

 

Host: Dari Mas Edwin, dari Tanoto Foundation mungkin ada yang ingin disampaikan?

 

Edwin Yohannes:

 

Iya. Saya tadi sedikit lupa, Mbak. Betul yang disampaikan Ibu, program kita kalau memang diterima artinya cukup bermanfaat.

 

Tapi kembali lagi, kenapa itu bisa bermanfaat?

 

Kami mempercayai bahwa ada sebuah panduan yang dikembangkan oleh WHO bekerja sama dengan UNICEF dan World Bank terkait lima aspek komponen pengasuhan, biasa disebut Nurturing Care Framework.

 

Lima aspek itu pertama adalah kesehatan yang baik.

 

Yang kedua gizi yang memadai.

 

Yang ketiga pengasuhan yang responsif.

 

Yang keempat keselamatan dan keamanan.

 

Dan yang terakhir kesempatan belajar sejak dini.

 

Komponen ini sebenarnya yang menjadi landasan bahwa kami percaya ketika lima aspek ini diterapkan di masing-masing kabupaten, kota ataupun program kita, maka kita yakin bahwa cerita yang kita harapkan menuju Indonesia Emas 2045 bisa tercapai.

 

Mulai dari kesehatan, gizi, pengasuhan, sampai keamanan, keselamatan serta belajar sejak dini.

 

Itu menjadi poin kenapa Tanoto Foundation sangat gencar menyampaikan bahwa pengasuhan itu penting.

 

Host:

 

Oke semoga ini menjadi niat yang baik ya Bu dan juga nanti ujungnya adalah hal yang baik juga.

 

Amin.

 

Baik, menjelang akhir perbincangan kita hari ini saya ingin memberikan pertanyaan lagi kepada Bunda.

 

Apa satu kebiasaan sederhana yang bisa mulai dilakukan oleh orang tua untuk mendukung anak bermain, belajar dan bertumbuh secara optimal?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Kalau saya, kebiasaan kecil yang saya lakukan terhadap anak-anak saya lebih kepada bertanya.

 

Dengan kita bertanya itu akan bisa meluapkan apa pun yang seorang anak rasakan.

 

Hal kecil, simpel, tapi dari hal kecil itu akan keluar semuanya.

 

Apa yang dia rasakan waktu di sekolah, atau saat kita bekerja dan anak diasuh babysitter.

 

Dia akan terbiasa.

 

Sehingga itu akan tertanam di diri anak tersebut.

 

Dia akan terbiasa untuk bicara jujur.

 

Hal kecil seperti kita tanya, "Hari ini sudah makan, Nak?"

 

"Sudah bobok siang belum?"

 

Itu akan menjadi rutinitas yang berdampak baik terhadap tumbuh kembang anak.

 

Terlebih yang saya ambil dari situ adalah melatih kejujuran anak.

 

Pernah terjadi pada anak saya.

 

Saya pulang jam dua siang, saya tanya hal kecil.

 

"Sudah makan, Nak?"

 

Dia bilang, "Belum."

 

Satu yang saya garis bawahi dari anak saya, artinya kejujuran itu tertanam dari hal kecil walaupun hanya hal sepele yang kita tanyakan.

 

Kebiasaan seperti itu yang boleh kita terapkan.

 

Mengajari anak untuk jujur setidaknya.

 

Host:

 

Seperti pertanyaan-pertanyaan sederhana ya.

 

Mungkin nanti di masa remaja akan sangat penting sehingga mereka lebih gampang terbuka kepada orang tua.

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Saya punya pengalaman pribadi ya Pak Edwin.

 

Allah Maha Baik kasih saya tiga anak.

 

Dua putri satu putra.

 

Yang putri ini Allah Maha Baik lagi.

 

Allah sayang.

 

Semoga menjadi jalan menuju surga kami.

 

Anak saya umur 18 tahun, semester tiga, Allah sudah panggil duluan.

 

Dari hal kecil yang saya terapkan itu saya dapatkan setelah anak saya besar.

 

Dia lebih aware kepada orang tuanya.

 

Kadang saya menerima curhatan orang tua.

 

"Bunda, anak saya kalau telepon cuma butuh uang."

 

Tapi alhamdulillah anak gadis saya tidak.

 

Dia selalu menanyakan setiap ada kesempatan.

 

Satu hal yang selalu saya ingat, saat sudah jam 12 siang dia pasti menelepon saya.

 

Pertanyaan pertama yang dia bilang:

 

"Bunda sudah salat?"

 

"Bunda sudah makan siang?"

 

Walaupun pada akhirnya selalu bilang:

 

"Bunda sudah ada rezeki belum ya? Kakak butuh uang."

 

Tapi hal indah yang alhamdulillah saya terapkan sampai sekarang kepada kedua buah hati saya.

 

Anak saya yang enam tahun juga sudah mulai jujur.

 

Kadang saya tanya:

 

"Tadi makan cokelat enggak?"

 

Dia pasti mengaku.

 

Jadi pola sederhana seperti itu ternyata berdampak sampai mereka dewasa.

 

Host:

 

Oke saya butuh banyak belajar, apalagi mengenai anak perempuan ya Bunda.

 

Sekarang ke Mas Edwin.

 

Apa pesan yang ingin Mas Edwin sampaikan agar para ayah lebih terlibat lagi dalam pola pengasuhan anak?

 

Edwin Yohannes:

 

Terima kasih Mbak.

 

Saya coba bawakan ke dalam lima komponen pengasuhan tadi.

 

Yang pertama berbicara tentang kesehatan dan gizi.

 

Mungkin sudah pernah ayah-ayah lakukan di rumah.

 

Misalnya memberikan perhatian kepada istri ketika sedang hamil.

 

Memastikan gizinya terpenuhi.

 

Makanannya terpenuhi.

 

Bahkan melakukan kontrol kandungan ke dokter.

 

Itu bagian dari memastikan kesehatan dan gizi anak kita.

 

Kemudian berbicara mengenai pengasuhan yang responsif.

 

Kita harus terbiasa berinteraksi dengan anak.

 

Khususnya di usia balita.

 

Memberikan kegiatan yang memancing respons, sensorik motorik halus, motorik kasar dan kognitif.

 

Kemudian berbicara tentang keselamatan dan keamanan.

 

Kita perlu memastikan lingkungan sekolah anak aman.

 

Lingkungan tempat tinggal juga aman.

 

Kalau ada lingkungan yang kurang baik, kita batasi.

 

Itu bagian dari upaya seorang ayah memastikan anak aman.

 

Satu lagi pengalaman pribadi saya.

 

Ketika anak saya lahir saya pastikan dia memiliki Kartu Identitas Anak.

 

Tidak semua ayah di Indonesia melakukan itu.

 

Padahal harapannya semua ayah bisa mendaftarkan anaknya ke Dukcapil supaya tercatat secara resmi.

 

Dan terakhir kesempatan belajar sejak dini.

 

Luangkan waktu bermain dengan anak.

 

Tanyakan bagaimana sekolahnya.

 

Main dengan siapa.

 

Apa yang didapat dari gurunya.

 

Momen-momen sederhana seperti itu sebenarnya bisa dilakukan oleh setiap ayah.

 

Di mana pun berada.

 

Untuk memastikan bahwa equal parenting tetap dirasakan oleh anak.

 

Host:

 

Oke Tribuners, stigma bahwa ayah hanya mencari nafkah semoga mulai bisa ditinggalkan.

 

Semoga kita semakin aware terhadap pola pengasuhan.

 

Seperti kata Bunda tadi, ibu adalah madrasah pertama bagi anak, tetapi ayah adalah kepala sekolahnya.

 

Nah, ayah dan ibu harus menjadi garda terdepan dalam equal parenting.

 

Host: Pertanyaan penutup Bunda, ini adalah pertanyaan terakhir.

 

Jika ada satu hal yang ingin Bunda titipkan kepada seluruh keluarga Indonesia dalam semangat Hari Keluarga Nasional dan tema "Bersama yang Bermakna", apa pesan yang ingin Bunda sampaikan?

 

Bunda Nur Chasanah Nazar:

 

Sedikit kata, "Hadiri sebentar, dampaknya lebih lama."

 

Artinya mari seluruh ayah yang ada di seluruh Indonesia khususnya Provinsi Jambi, mari kita bangun keluarga yang harmonis, mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

 

Bersama kita siapkan Generasi Indonesia Emas 2045 yang sehat, cerdas, berkarakter dan berprestasi.

 

Luangkan waktu buat anak.

 

Selamat Hari Keluarga Nasional.

 

Semoga kita sebagai orang tua bisa bersinergi, bisa menerapkan equal parenting bersama-sama.

 

Dampingi bundanya, karena bundanya juga butuh sosok seorang ayah untuk masa depan yang lebih baik bagi putra-putrinya.

 

Terima kasih.

 

Host: Kita lanjut ke Mas Edwin. Ada yang ingin disampaikan untuk closing statement hari ini?

 

Edwin Yohannes:

 

Siap.

 

Saya mengajak ayah-ayah dan Tribuners semua, mari lakukan yang terbaik buat anak kita karena itu adalah tanggung jawab kita bersama, bersama istri.

 

Lakukan pengasuhan ataupun stimulasi secara terus-menerus, konsisten supaya anak mendapatkan apa yang diharapkan di Indonesia Emas 2045.

 

Dan kami dari Tanoto Foundation ataupun saya secara pribadi mengucapkan Selamat Hari Keluarga Nasional.

Semoga para ayah semakin terlibat dalam kegiatan keluarga dimulai dari hal-hal yang kecil.

Demikian Mbak.

Host:

Terima kasih untuk Bunda.

Terima kasih untuk Mas Edwin.

Perbincangan dan bahasan yang sangat menarik sekali untuk para Tribuners dan juga saya sendiri sebagai host.

Tidak terasa Tribuners, perbincangan kita sudah sampai di penghujung acara.

Hari ini kita belajar bahwa bermain tidak harus mahal, belajar juga tidak selalu harus di ruang kelas, dan bertumbuh tidak dilakukan sendirian, tetapi melalui kolaborasi antara ibu dan juga ayah.

Terima kasih kami ucapkan sekali lagi kepada kedua narasumber kita, yaitu Bunda PAUD Kabupaten Tebo Nurhanah Nazar dan Edwin Yohannes dari Tanoto Foundation yang sudah berbagi inspirasi untuk kita semua.

Baca juga: 2 Peserta Terbaik Tribun Jambi Academy Batch 1 Tampil di Podcast Mojok, Yayang dan Hawai Semringah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.