Alasan Harga Pertamax 92 Tetap Rp16.250 saat BBM Non Subsidi Lain Resmi Turun
Torik Aqua July 01, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Penyesuaian harga BBM non-subsidi kembali dilakukan mulai Rabu 1 Juli 2026 dengan penurunan pada sejumlah produk seperti Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, hingga Avtur. 

Namun, di tengah kebijakan tersebut, harga Pertamax RON 92 diputuskan tetap bertahan di level Rp16.250 per liter.

Keputusan tidak menurunkan harga Pertamax memunculkan perhatian publik, terlebih ketika harga minyak dunia mulai menunjukkan tren melemah.

Pemerintah dan Pertamina menyatakan evaluasi harga dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan pasar energi global serta kondisi perhitungan keekonomian.

Baca juga: Apa itu BBM B50? Bahan Bakar Baru yang Akan Diterapkan Pemerintah pada 1 Juli 2026

Sejak 10 Juni 2026, harga Pertamax 92 naik menjadi Rp16.250 dari sebelumnya Rp12.300 per liter.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin (29/6/2026) meminta masyarakat untuk bersikap adil dan menunggu keputusan resmi dari pemerintah terkait harga Pertamax 92.

"Kita lihat saja, teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan enggak kita naikkan. Masa baru naik (harga Pertamax 92) dua minggu atau tiga minggu? Teman-teman sudah tanya itu," ujarnya.

Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M.V. Dumatubun menyampaikan, kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi diselaraskan dengan dinamika serta perkembangan pasar energi global yang bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.

"Evaluasi harga BBM non-subsidi dilakukan secara berkala, bisa dalam periode waktu tertentu," ujarnya.

Penurunan harga minyak dunia diharapkan mampu memberi dampak yang lebih kondusif bagi perhitungan harga keekonomian komoditas energi tersebut.

"Apabila fluktuasi harga pasar dalam kurun waktu tertentu ini cenderung positif, stay menurun, dan kondusif, karena mengikuti harga pasar maka potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi dapat dilakukan. Penyesuaian harga akan mengikuti harga pasar dan mempertimbangkan dua poin di atas," pungkasnya.

Diketahui, harga minyak dunia jenis Brent saat ini di kisaran 72,40 dolar AS per barel dan Brent di kisaran 73,51 dolar AS per barel.

Harga Turbo hingga Dexlite Turun

Harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur mengalami penurunan harga mulai 1 Juli 2026 pukul 00.00 WIB.

Berikut daftar harga BBM non-subsidi per 1 Juli 2026 untuk daerah dengan PBBKB 5 persen:

Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 per liter menjadi Rp19.300 per liter.

Pertamina Dex turun dari Rp24.800 per liter menjadi Rp21.150 per liter.

Dexlite turun dari Rp23.000 per liter menjadi Rp19.700 per liter.

Avtur Penerbangan Domestik (sebelum pajak) di Soekarno-Hatta turun dari Rp22.190 per liter (Juni) menjadi Rp19.190 per liter (Juli).

Pertamax 92 Seharusnya Turun

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal sebelumnya mengatakan, Indonesian Crude Price (ICP) atau harga patokan rata-rata minyak mentah Indonesia sekarang sudah menurun, seiring melemahnya harga minyak dunia.

Ia menjelaskan, ICP saat ini secara year to date atau dihitung dari awal tahun hingga sekarang sudah di bawah 84 dolar AS per barel, yang mana sebelumnya di atas 85 dolar AS per barel.

"Penurunan harga Pertamax itu berpengaruh ke daya beli masyarakat kelas menengah. Jadi sudah semestinya diturunkan untuk mendongkrak daya beli dan harga minyak dunia juga sudah turun," papar Faisal.

Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menilai pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax mengikuti harga pasar, sekaligus menjaga BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.

Menurutnya, penyesuaian semacam ini wajar selama dilakukan secara terukur.

"Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Penyesuaian ini bukan mengembalikan ke harga lama, melainkan menurunkan secara wajar mengikuti perkembangan pasar. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya," ujar Piter.

Piter menegaskan perlunya pembagian peran yang jelas antara BBM subsidi dan non-subsidi.

Prinsip ini membuat perekonomian lebih terkendali.

"Kewajiban pemerintah adalah menjaga BBM bersubsidi. BBM non-subsidi seharusnya dibiarkan mengikuti harga pasar. Dengan begitu masyarakat paham mana harga yang dijaga pemerintah dan mana yang mengikuti pasar," kata Piter.

Piter melanjutkan, penyesuaian harga Pertamax penting untuk mencegah perpindahan konsumen ke Pertalite. Sebab, gejala ini sudah terlihat di lapangan.

"Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, kuota Pertalite yang terbatas bisa tidak mencukupi. Pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan," ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi.

Ia menjelaskan, harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tren penurunan setelah sempat terdorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Perkembangan harga minyak global menjadi faktor penting yang memengaruhi penetapan harga BBM non-subsidi di Indonesia.

Ibrahim menyampaikan, harga minyak masih berpotensi turun lebih lanjut jika ketegangan geopolitik mereda dan pasokan minyak global tetap terjaga.

“Saya masih optimistis BBM non-subsidi awal bulan (Juli) akan turun. Minyak mentah kemungkinan besar akan di bawah 70 dolar AS per barel,” kata Ibrahim.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.