Mengenal Cilok Gajahan, Cemilan Favorit dari Yogyakarta Sejak Tahun 2008, Cocok Dijadikan Oleh-oleh
ninda iswara July 01, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Cilok Gajahan menjadi salah satu cemilan favorit dari Yogyakarta.

Meski cilok berasal dari Bandung, namun keberadaannya sangat mudah ditemui di berbagai wilayah di Indonesia.

Terbuat dari tepung tapioka, tak sedikit yang menyukai cemilan satu ini.

Cilok pun mulai mengalami banyak inovasi hingga semakin banyak peminat yang menghampiri.

Keberadaan cilok juga sangat mudeh ditemukan di berbagai wilayah di Yogyakarta.

Salah satu cilok terkenal di Yogyakarta yakni Cilok Gajahan.

Baca juga: The Chocolate Kingdom, Lihat Pembuatan Cokelat di Yogyakarta, HTM Rp 50 Ribu, Cara Dapatkan Tiket

Cilok Gajahan sudah ada sejak tahun 2008 silam.

Dua puluh delapan tahun berdiri, Cilok Gajahan kini sudah memiliki sembilan cabang yang tersebut di berbagai wilayah Yogyakarta.

Sederet fakta menarik seputar Cilok Gajahan pun terkuak di sini:

1. Asal usul nama Cilok Gajahan

Syahrul, pemilik Cilok Gajahan mengaku mengambil nama tersebut dari lokasi awal ia berjualan.

Syahrul dulu berjualan di kawasan Alun-alun Selatan Yogyakarta.

Sebelumnya, kawasan tersebut dikenal sebagai wilayah yang memiliki sejarah erat dengan Keraton Yogyakarta.

Pada masa lalu, area itu digunakan sebagai tempat kandang gajah milik keraton.

Kondisi tersebut kemudian membuat masyarakat setempat menamai wilayah itu sebagai Kampung Gajahan.

Di tengah latar sejarah tersebut, Syahrul memulai usaha kuliner kecilnya.

Awalnya, ia menggunakan nama "Cilok Bandung" untuk produk jualannya.

Namun seiring waktu, ia merasa perlu menghadirkan identitas yang lebih khas dan berbeda.

Ia kemudian berinisiatif mengganti nama usahanya menjadi "Cilok Gajahan".

Nama tersebut justru menarik perhatian dan mudah diingat oleh banyak pelanggan.

Meski memakai nama "Gajahan", cilok yang dijual memiliki ukuran yang justru kecil-kecil.

Kombinasi nama unik dan ukuran sederhana itu membuatnya semakin mudah dikenali dan melekat di ingatan pembeli.

2. Harganya Murah

Sejak awal menjalankan usahanya, Syahrul dikenal konsisten menjaga harga cilok tetap terjangkau bagi para pembeli.

Ia hampir tidak pernah menaikkan harga secara signifikan, kecuali dalam kondisi tertentu dengan kenaikan yang sangat kecil.

Pada masa awal, satu biji cilok dijual sekitar Rp250, kemudian mengalami penyesuaian menjadi Rp350 per biji.

Saat ini, pembeli cukup mengeluarkan Rp7.000 untuk mendapatkan kurang lebih 20 butir cilok dalam satu porsi.

Bagi Syahrul, kunci usahanya bukan pada besarnya keuntungan dari setiap transaksi, melainkan pada volume penjualan yang tinggi.

Ia percaya harga murah akan lebih efektif jika didukung perluasan cabang yang banyak agar jangkauan pembeli semakin luas.

Dengan strategi tersebut, omzet tetap bisa terjaga meskipun margin keuntungan per porsi tergolong kecil.

Baca juga: Cek Promo Gembira Loka Zoo Yogyakarta Selama Libur Sekolah, Ada Tiket Gratis, Catat Syaratnya!

Ilustrasi cilok
Ilustrasi cilok (TribunJateng)

3. Bahan Premium

Salah satu kunci yang membuat cita rasa Cilok Gajahan tetap terjaga konsistensinya adalah pemilihan bahan-bahan berkualitas.

Hal ini ditegaskan oleh Syahrul yang menyebut bahwa seluruh bahan baku yang digunakan selalu dipilih dari kualitas premium.

Tidak hanya itu, tepung yang dipakai berasal dari merek terpercaya yang sudah dikenal memiliki standar baik.

Sementara itu, cabai yang digunakan juga dipilih secara selektif agar menghasilkan rasa pedas yang optimal dan konsisten.

Untuk sausnya, tidak sekadar dipakai begitu saja, melainkan diracik ulang dengan resep khusus.

Proses peracikan ini menciptakan cita rasa yang khas dan berbeda dibanding cilok pada umumnya.

Kombinasi seluruh bahan tersebut membuat Cilok Gajahan memiliki karakter rasa yang sulit ditiru.

4. Inovasi Cilok Frozen

Syahrul terus mengembangkan usahanya dengan menghadirkan berbagai inovasi produk yang semakin menarik bagi pelanggan.

Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah membuka usaha sempol dengan harga terjangkau, yakni Rp5.000 untuk tujuh tusuk.

Tidak berhenti di situ, Cilok Gajahan juga memperluas varian dengan menghadirkan produk cilok frozen.

Inovasi ini memungkinkan pelanggan menikmati cilok kapan saja tanpa harus datang langsung ke lokasi.

Produk frozen tersebut dijual dengan harga sekitar Rp14.000 per kemasan.

Setiap kemasan berisi kurang lebih 40 butir cilok yang praktis untuk disajikan di rumah.

Dengan konsep ini, Cilok Gajahan semakin mudah dijangkau dan dinikmati kapan pun oleh para pelanggannya.

5. Buka lapangan kerja

Seiring berkembangnya usaha yang ia jalankan, Syahrul mulai memperluas dampak positif dari bisnisnya.

Ia kemudian mempekerjakan karyawan yang berasal dari masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Langkah ini tidak hanya sekadar kebutuhan operasional, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dengan membuka kesempatan kerja tersebut, ia turut membantu mengurangi angka pengangguran di wilayahnya.

Tindakan ini sekaligus menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi.

Perkembangan usaha Cilok Gajahan pun perlahan menunjukkan dampak yang lebih luas dari sekadar keuntungan bisnis.

Akhirnya, usaha ini tidak hanya menguntungkan pemiliknya, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.