Biodiesel B50 Mulai Berlaku 1 Juli 2026, Pemerintah Dorong Kemandirian Energi dan Tekan Impor Solar
Evan Saputra July 01, 2026 03:24 PM

 

POS BELITUNG -- Pemerintah resmi menjalankan kebijakan mandatori penggunaan Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Program ini menjadi langkah lanjutan dalam pengembangan energi berbasis bahan baku dalam negeri, khususnya minyak sawit.

Melalui kebijakan tersebut, bahan bakar solar akan menggunakan campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak sawit dan 50 persen solar konvensional.

Penerapan B50 merupakan kelanjutan dari program biodiesel yang telah berjalan secara bertahap di Indonesia. Sebelumnya, pemerintah telah menerapkan beberapa tingkat campuran biodiesel, mulai dari B20, B30, B35, hingga B40.

Dengan skema terbaru ini, penggunaan biodiesel tidak hanya menyasar kebutuhan industri, tetapi juga mulai diperluas melalui jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) agar dapat digunakan masyarakat.

Baca juga: HUB UMK PLN UIW Babel Bersama Bea Cukai Beri Pembekalan UMKM "Menuju Go Ekspor"

Pemerintah berharap program tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya energi dari dalam negeri.

Dorong Pengurangan Impor Solar

Presiden Prabowo Subianto menyebut penerapan Biodiesel B50 menjadi salah satu bagian penting dalam upaya Indonesia mencapai kemandirian energi.

Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Pemerintah menilai peningkatan campuran biodiesel dapat mengurangi kebutuhan impor solar sekaligus membuka peluang lebih besar bagi industri sawit nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga memastikan program B50 berjalan sesuai jadwal mulai 1 Juli 2026.

Beri Dampak Ekonomi hingga Lingkungan
Kementerian ESDM mencatat program biodiesel yang telah berjalan sejak 2015 hingga 2025 memberikan sejumlah manfaat bagi perekonomian nasional.

Implementasi biodiesel disebut mampu memberikan penghematan devisa sekitar Rp722,9 triliun. Selain itu, program ini juga menciptakan nilai tambah hingga Rp114,7 triliun melalui pengolahan crude palm oil (CPO) menjadi biodiesel.

Dari sisi tenaga kerja, rantai industri sawit dalam program biodiesel tercatat menyerap sekitar 10,9 juta pekerja.

Program tersebut juga disebut berkontribusi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 228,41 juta ton CO₂.

Dengan demikian, biodiesel tidak hanya dipandang sebagai alternatif bahan bakar, tetapi juga bagian dari strategi hilirisasi industri sawit dan penguatan ekonomi nasional.

BPDP: B50 Jadi Instrumen Ketahanan Energi
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menilai penerapan Biodiesel B50 memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, mengatakan program biodiesel mampu menciptakan pasar domestik bagi produk sawit Indonesia sekaligus mendukung penggunaan energi terbarukan.

"Program biodiesel telah menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menciptakan pasar domestik yang kuat bagi produk sawit Indonesia. Implementasi B50 menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya dalam negeri," ujarnya.

Menurut Eddy, keberhasilan program tersebut juga perlu didukung oleh penguatan sektor perkebunan melalui berbagai program, termasuk Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pengembangan riset, peningkatan kualitas SDM, serta pembangunan fasilitas pendukung.

Melalui PSR, BPDP mendorong peningkatan produktivitas kebun rakyat dengan penggunaan bibit unggul untuk menggantikan tanaman yang sudah tidak optimal.

Selain itu, pelatihan dan pendidikan bagi tenaga kerja sektor perkebunan terus dilakukan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Pakar: B50 Lebih Rendah Emisi

Pakar konversi energi sekaligus dosen senior Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menilai penggunaan B50 memiliki keuntungan dari sisi lingkungan.

Menurutnya, komposisi biodiesel yang lebih besar membuat emisi karbon dari bahan bakar dapat ditekan karena sebagian bahan bakunya berasal dari tanaman.

"Pakai B50 yang jelas adalah pengurangan emisi CO2. Karena B50 kan 50 persen berasal dari nabati," kata Yus di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan tanaman sawit memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida sebelum hasilnya diolah menjadi bahan bakar.

"Dan kalau nabati itu, karena pohon kelapa sawit misalnya ya, itu kan kalau siang dia menyerap CO2, sehingga lalu dia menghasilkan buah,” ucap Yus.

“Buahnya diproses menjadi bahan bakar. Jadi bahan bakar nabati itu dianggap CO2-nya nol, tidak menambah CO2 di udara. Sehingga bisa dibilang kalau dari sisi pengurangan CO2 turun banyak," ujarnya.

Yus memperkirakan penggunaan B50 dapat menurunkan emisi dari sektor bahan bakar secara signifikan.

"Ya kira-kira kalau dia 50 persen, nanti mulai dengan 1 Juli berarti kontur dari bahan bakar solar mengemisikan CO2 ya tinggal 50 persen juga turunnya," katanya.

Selain persoalan lingkungan, ia menilai B50 juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap solar impor.

"Selain itu, yang lain kan ada (tujuan) pemerintah adalah karena kita menggunakan produk nasional dalam negeri, maka impor solarnya kan bisa turun ya," ujarnya.

Digunakan untuk Banyak Sektor
Biodiesel B50 dirancang untuk kendaraan dan mesin diesel yang membutuhkan tenaga besar.

Penggunaannya mencakup berbagai sektor seperti transportasi, alat berat, pertambangan, perkeretaapian, pelayaran, alat mesin pertanian, hingga pembangkit listrik.

Kementerian ESDM sebelumnya juga melakukan pemantauan penggunaan awal B50 pada lokomotif kereta api CC 206 di PUK Lempuyangan, Yogyakarta.

Hasil pengujian menunjukkan performa mesin berada pada kisaran 80 hingga 90 persen dengan karakteristik bahan bakar yang dinilai lebih bersih dibandingkan campuran sebelumnya.

Kementerian ESDM memproyeksikan penerapan B50 pada semester II 2026 dapat menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun melalui pengurangan impor bahan bakar fosil.

Program ini juga ditargetkan mengurangi konsumsi solar fosil sekitar 4 juta kiloliter per tahun, meningkatkan nilai tambah industri sawit, menyerap tenaga kerja, serta menekan emisi karbon.

Sementara itu, berdasarkan skema yang disiapkan pemerintah, harga jual Biodiesel B50 kepada masyarakat diproyeksikan berada di kisaran Rp6.800 per liter.

(TribunTrends/Tribunnews/Pos Belitung)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.