Terkuak Penyebab Perundungan Maut Siswa SMP Lumajang, Cuma Gara-gara Sampah
Cak Sur July 01, 2026 03:32 PM

SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Kasus perundungan berujung maut kembali terjadi di lingkungan sekolah. Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) berinisial IL di Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim), dilaporkan meninggal dunia setelah dianiaya oleh dua teman sekelasnya.

Tragisnya, penganiayaan brutal ini dipicu oleh masalah sepele, yaitu keberadaan sampah plastik di bawah meja kelas.

Ahmad Dani, kakak kandung korban, mengungkapkan bahwa peristiwa penganiayaan tersebut sebenarnya terjadi pada 18 Mei 2026.

Saat itu, sang adik tengah berada sendirian di dalam ruang kelas setelah menyelesaikan ujian nasional.

Baca juga: Perundungan Maut di Ruang Kelas, Siswa SMP Lumajang Meregang Nyawa di Tangan Teman Sekolah

Kronologi Penganiayaan: Dituduh Membuang Sampah

Menurut penjelasan Dani saat ditemui SURYA.co.id di kediamannya, di Desa Jatisari, Kecamatan Kedungjajang, Lumajang pada Rabu (1/7/2026), kejadian bermula saat jam istirahat sekolah.

"Pas lagi jam istirahat adik saya di dalam kelas sendirian. Kemudian di bawah meja adik saya ada sampah plastik," ujar Dani.

Dua orang siswa lain berinisial D dan Arf, yang bertugas sebagai piket kebersihan kelas hari itu, melihat sampah tersebut. Mereka langsung naik pitam dan memaksa IL untuk membersihkannya.

Namun, IL menolak perintah tersebut, karena merasa bukan dirinya yang membuang sampah plastik itu.

Penolakan korban memicu kemarahan kedua pelaku. Mereka langsung mengeroyok IL di dalam kelas yang sepi.

Usai kejadian, IL sempat mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp kepada kakaknya.

"Kedua pelaku mengira itu sampah adik saya, akhirnya adik saya dipukuli di kelas. Setelah itu kirim WhatsApp ke saya, katanya hampir mati," ungkap Dani dengan nada sedih.

Alami Pendarahan Otak di Kepala Belakang

Pasca-kejadian, keluarga tidak menyangka luka yang diderita IL sangat fatal.

Saat itu, Dani hanya melihat bibir adiknya membengkak tanpa ada luka luar yang mencolok di bagian tubuh lainnya.

Karena korban tidak mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa, keluarga memutuskan untuk melakukan rawat jalan saja.

Seminggu setelah penganiayaan, IL hanya mengeluhkan sariawan dan tetap bungkam mengenai rasa sakit lainnya, karena takut atau tidak ingin mencemaskan orang tuanya.

Nahas, kondisi kesehatan IL terus menurun hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Tim medis kemudian menemukan adanya pendarahan serius di bagian kepala belakang korban.

Setelah berjuang melawan masa kritisnya, IL dinyatakan meninggal dunia pada 24 Juni 2026.

Penyelidikan Polisi dan Status Pelaku

Pihak Kepolisian Resor (Polres) Lumajang langsung bergerak cepat menyelidiki kasus kekerasan anak di bawah umur ini.

Hingga kini, polisi baru mengamankan satu orang tersangka berinisial D.

Kasubsi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, mengonfirmasi bahwa penyidik masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui apakah ada pelaku lain yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut.

"Untuk penyebabnya masih ditangani oleh rekan-rekan yang ada di PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak). Karena ini pelaku adalah anak yang berhadapan dengan hukum, maka perlakuannya tentu dibedakan dengan orang dewasa," jelas Ipda Suprapto.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan Indonesia mengenai pentingnya pengawasan ketat terhadap aksi perundungan (bullying) di sekolah, terutama yang melibatkan anak di bawah umur.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.