Efek Domino Program Rp100 Juta per RW di Bekasi, Lurah Jatimurni: Warga Kini Makin Peduli Lingkungan
Hironimus Rama July 01, 2026 05:17 PM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEKASI — Program hibah dana 'Lingkar Keren' sebesar Rp100 juta per RW yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi kini mulai membuahkan hasil nyata.

Kebijakan yang mewajibkan pengelolaan sampah berbasis komunitas ini berhasil memicu antusiasme warga untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Lurah Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Mochamad Sunaryadi, mengungkapkan bahwa program ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam memandang sampah.

Baca juga: Program Rp100 Juta Per RW di Bekasi Berbuah Manis, Warga Kranji Sukses Ubah Jelantah Jadi Sabun

"Alhamdulillah, saya punya delapan RW di Kelurahan Jatimurni. Semua sangat antusias berkaitan dengan anggaran Rp100 juta yang diinisiasi oleh Wali Kota dan Wakil, sangat membantu banget. Warga-warga kami, RW, RT sangat bahagia dengan adanya program seperti ini," kata Sunaryadi di Bekasi, Rabu (1/7/2026).

Bank Sampah Jadi Syarat Utama

Pemerintah Kota Bekasi menetapkan syarat ketat bagi setiap RW untuk bisa mendapatkan dana hibah tersebut.

Salah satu kewajiban mutlak adalah memiliki dan mengaktifkan bank sampah. Syarat ini terbukti efektif menjadi pemantik bagi seluruh RW di Jatimurni untuk bergerak.

"Jatimurni delapan RW dibentuk Pokmas. Ada delapan-delapannya bank sampah sampai saat ini aktif. Bahkan penimbangan sampah kami laksanakan kurang lebih ada yang dua minggu sekali, ada yang sebulan dua kali. Rata-rata umumnya dua minggu sekali," jelas Sunaryadi.

Menurut Sunaryadi, kini warga semakin paham bahwa sampah rumah tangga memiliki nilai ekonomis jika dikelola dengan benar.

"Memang faktor mereka memanfaatkan Rp100 juta itu sangat lebih paham terhadap pengolahan lingkungan, pemanfaatan sampah. Yang mana sampah tadinya tidak bermanfaat jadi bermanfaat dan bernilai uang," tuturnya.

Lingkungan Lebih Bersih dan Tertata

Selain aspek ekonomi, dampak positif lain yang dirasakan warga adalah lingkungan yang lebih sehat. Program ini juga diperkuat dengan kebijakan pembuatan biopori di setiap rumah untuk mengolah sampah organik.

"Pasti impact dan dampaknya yang pertama lingkungan jadi bersih, pengolahan sampah tertata. Yang tadi saya bilang, sampah yang dianggap tidak bernilai jadi bernilai, sampah yang tidak bermanfaat jadi bermanfaat," ucap Sunaryadi.

Di akhir penjelasannya, Sunaryadi memberikan apresiasi kepada pimpinan daerah atas inisiatif yang mampu meningkatkan partisipasi masyarakat ini.

"Terima kasih Pak Wali, Pak Wakil, atas program ini masyarakat Jatimurni lebih aware terhadap pengolahan sampah dan lingkungan Jatimurni," tutupnya.

Kurangi Beban TPA Bantargebang

Sebagai informasi, program dana hibah yang cair sejak Oktober 2025 ini merupakan langkah nyata Pemkot Bekasi untuk mengurangi tumpukan sampah di TPA Bantargebang.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menekankan bahwa dana tersebut wajib digunakan untuk inovasi pengelolaan lingkungan, termasuk pemilahan sampah dari rumah dan pengumpulan minyak jelantah.

"Dana hibah ini berlaku untuk semua RW, baik di perumahan maupun kampung. Tapi ada syarat, RW harus melaksanakan pemilahan sampah dan pengumpulan minyak jelantah. Ini langkah nyata mengurangi tumpukan sampah di TPA Bantargebang yang setiap hari makin menggunung," ujar Tri beberapa waktu lalu.

Selain dana hibah lingkungan, Pemkot Bekasi juga memberikan perhatian pada kesejahteraan perangkat RT/RW dengan menaikkan honor sebagai bagian dari peningkatan kualitas pelayanan publik di tingkat dasar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.