Harga Daging Ayam di Pasar Induk Metro Merosot Tajam, Buntut Libur Operasional Program MBG
soni yuntavia July 01, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Metro - Libur operasional program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan efek di daerah.

Di Pasar Induk Kota Metro, Provinsi Lampung, harga dua komoditas pangan krusial—yakni daging ayam potong dan kelompok bumbu dapur (hortikultura)—mengalami penurunan harga yang sangat drastis dalam satu pekan terakhir. 

Minimnya serapan pasar institusional menyusul liburnya aktivitas pengolahan makanan dituding menjadi faktor utama terjadinya penumpukan stok (over-supply) di tingkat pedagang tradisional.

Kondisi lesu ini diperparah oleh siklus musiman bulan Suro (penanggalan Jawa), di mana aktivitas hajatan besar dan pesta pernikahan di tengah masyarakat cenderung menurun drastis.

Kombinasi antara hilangnya pembeli skala besar dari ekosistem MBG serta melandainya permintaan domestik rumah tangga membuat para pedagang di pasar terbesar di Kota Metro ini harus memutar otak agar barang dagangan mereka tidak membusuk.

Di los basah Pasar Induk Kota Metro, pasokan daging ayam potong terpantau melimpah namun tidak dibarengi dengan volume penjualan yang memadai.

Mbah Kos, seorang pedagang daging ayam yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya di pasar tersebut, membeberkan dinamika fluktuasi harga yang terjadi sebelum dan sesudah program MBG diliburkan.

Menurut pemaparan Mbah Kos, ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) beroperasi secara penuh, stabilitas harga ayam potong di tingkat pedagang eceran dapat terjaga dengan sangat baik pada kisaran Rp32.000 hingga Rp33.000 per kilogram. Kontrak pasokan berkala untuk dapur-dapur umum pengolah MBG mampu menyerap kuota panen peternak lokal secara konsisten. Namun, situasi tersebut berbalik 180 derajat begitu program memasuki masa libur.

"Kalau waktu MBG jalan itu, harga stabil di Rp32.000 sampai Rp33.000 per kilo. Sekarang, semenjak libur ini, harga jatuh ke Rp30.000, bahkan kadang-kadang menyentuh Rp29.000 per kilo. Penurunan ini jelas karena barangnya melimpah, panenannya kelebihan gede di peternak tapi pembelinya yang biasa menyerap itu tidak ada," ujar Mbah Kos saat ditemui di lapak dagangannya.

Kelebihan pasokan (over-supply) ini memaksa para pedagang memotong margin keuntungan mereka demi memastikan perputaran modal tetap berjalan, mengingat daging ayam merupakan komoditas basah yang memiliki masa simpan sangat terbatas tanpa fasilitas pendingin skala besar.

Pemandangan serupa terlihat jelas di los sayur dan bumbu dapur. Udin, seorang pedagang bumbu dapur yang mengkhususkan diri pada komoditas aneka cabai dan bawang, mengeluhkan dampak berantai dari liburnya pasokan MBG ini.

Berdasarkan pengamatannya, pasar domestik kehilangan jangkar permintaan terbesarnya, yang berdampak langsung pada hancurnya harga komoditas hortikultura di pasaran.

Udin menjelaskan, pergerakan harga komoditas sayuran, khususnya cabai merah dan cabai caplak, terjun bebas dalam kurun waktu empat hari terakhir.

Fenomena ini diperparah dengan datangnya bulan Suro, yang secara tradisional dikenal sebagai bulan yang sepi dari kegiatan perayaan masyarakat.

"Sangat pengaruh, Mas. Penjualan langsung sepi semenjak program MBG ini libur. Ditambah lagi ini masuk bulan Suro, sudah empat hari ini pasar sepi sekali, tidak seperti biasanya. Kalau harga sayuran hampir semuanya turun semenjak MBG libur," keluh Udin.

Udin mengatakan, cabai merah biasa mengalami penurunan harga, dari kisaran semula Rp50.000 — Rp60.000 per kilogram, kini anjlok menjadi Rp35.000 — Rp40.000 per kilogram.

Kemudian cabai caplak (rawit Merah) mengalami penurunan mencapai Rp30.000, kini berada di angka Rp45.000 — Rp50.000 per kilogram dari harga puncaknya yang sempat menembus Rp70.000 — Rp80.000 per kilogram.

Selain komoditas cabai, bawang merah lokal mengalami koreksi harga yang cukup signifikan, turun menjadi Rp45.000 per kilogram dari harga normal sebelumnya yang berada di angka Rp55.000 per kilogram.

"Kalau bawang putih menjadi satu-satunya komoditas bumbu dapur yang stabil harganya, di mana harganya tertahan stabil pada harga standar Rp40.000 per kilogram," ujarnya.

Udin menegaskan, penurunan harga yang terjadi saat ini sama sekali bukan disebabkan oleh kendala atau kemacetan di jalur distribusi petani.

"Kalau untuk suplai atau stok barang dari tingkat petani ke pasar, semuanya lancar dan melimpah. Masalah utamanya adalah barangnya banyak tapi pembelinya yang tidak ada. Tidak ada pembeli besar yang menyerap pasokan harian kami semenjak dapur MBG berhenti masak sementara," imbuh Udin.

Menghadapi situasi pasar yang tidak menentu ini, Udin selaku pedagang tradisional di Pasar Induk Kota Metro hanya bisa berharap agar masa libur operasional program MBG tidak berlangsung terlalu lama. 

Menurutnya, keberadaan program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan konsumsi pangan harian massal dinilai sangat membantu urat nadi perekonomian di tingkat akar rumput.

Meskipun bagi konsumen rumah tangga penurunan harga pangan mendatangkan keuntungan jangka pendek, bagi ekosistem pasar secara keseluruhan, fluktuasi harga yang terlalu tajam dan hilangnya daya beli makro dapat memicu kerugian material yang besar di tingkat peternak, petani, hingga pedagang eceran. 

"Kalau pedagang berharapnya aktivitas jual beli tetap ramai, dan program pembelanjaan pangan skala besar dapat segera bergulir kembali guna menyelamatkan stabilitas harga pangan di Kota Metro," tutupnya.

( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq )

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.