Program MBG Disetop Peternak Ayam Menjerit: Ini Sudah Tidak Sehat
willy Widianto July 01, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Peternak di Solo, Jawa Tengah mengeluh karena harga daging ayam merosot dampak dari berhentinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama liburan sekolah berlangsung. Tekanan semakin bertambah karena Harga pakan justru meroket.

“Sebenarnya sudah sejak bulan Mei ya. Jadi Mei itu hampir semuanya, mau petelur maupun pedaging, juga sudah di bawah HPP (Harga Pembelian Pemerintah), harga jualnya ya. Sedangkan memang yang memperburuk lagi adalah naiknya harga pakan. Adanya MBG itu memang sedikit membantu pada saat belum distop, dan dengan distop kemarin memang memengaruhi penyerapan di masyarakat,” ujar Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Jawa Tengah, Parjuni dalam pernyataannya, Rabu(1/7/2026).

Menurut Parjuni Harga daging saat ini sudah turun ekstrem. Pada bulan Juni tercatat harganya menyentuh Rp 13 ribu. Padahal, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) semestinya berada di angka Rp19.500.

“Mei itu mungkin sudah di daging ya, daging terutama sudah di Rp16.000, Rp17.000, maksimal Rp18.000. Bulan Juni ini memang ekstrem ya, jadi ada yang Rp13.000, ada yang Rp14.000, ada yang Rp15.000. HPP Rp 21.000 lah ya untuk Jawa Barat, tapi kalau Jawa Tengah, Jawa Timur masih bisa masuk di Rp19.500,” tuturnya.

Sementara harga pakan memang harus dinaikkan lantaran karena nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) melemah. Ditambah bahan baku utama pakan ternak, yakni jagung, yang masih bergantung pada impor.

“Jagung pipil itu memang harus naik karena memang harganya sudah naik dengan pengaruh dolar juga yang tinggi. Itu juga komponen impor kan, pasti akhirnya naik. Dan yang sudah jalan itu, bulan Juni Rp600 sampai Rp800 per kg rata-rata,” terangnya.

Sayangnya, dengan menurunnya permintaan, hal ini tak membuat para peternak mengurangi populasi ternaknya. Hal inilah yang membuat pasokan berlebihan.

“Ini sudah enggak sehat ya karena sudah tahu harganya jelek pun banyak teman-teman yang masih menambah populasi atau bertahan dengan populasi lama. Mereka sudah jualnya murah, harganya jauh dari HPP, tetapi tetap menjual,” jelasnya.

Menurutnya, program MBG tak perlu menjadi masalah jika rantai pasok dikelola dengan baik. Bahkan semestinya program ini mengangkat perekonomian peternak.

“MBG tidak perlu menjadi masalah. Kalau MBG justru menjadi kambing hitam atau istilahnya menjadi masalah teman-teman ini, menurut saya konyol. Harusnya MBG ini kan mengangkat harga. Katakanlah memang harga sudah untung, menjadi lebih untung,” tuturnya.

Sayangnya, seiring berjalannya program, populasi ikut bertambah sehingga membuat pasokan tidak stabil.

“Jangan menambah populasi, membiarkan populasi ini tumbuh seenaknya. Begitu yang begitu tetap habis, terus menyalahkan program, menyalahkan kondisi. Lah ini cuma program, cuma ini politik kok dipikir,” jelasnya.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.