TRIBUNNEWS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berhasil mengawali hari pertama di kuartal III tahun 2026 dengan pergerakan yang cukup memuaskan.
Pada perdagangan yang berlangsung hari Rabu (1/7/2026), indeks acuan nasional tersebut ditutup di zona hijau dengan penguatan tipis namun meyakinkan di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.
Berdasarkan data konsolidasi bursa pada penutupan sesi sore, IHSG parkir di level 5.695,12, mencatatkan kenaikan bersih sebesar 51,92 poin atau setara dengan 0,92 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Jika dicermati secara saksama melalui pergerakan grafik sepanjang hari, performa indeks saham domestik sebenarnya sempat menunjukkan riak-riak tekanan pada paruh pertama perdagangan.
Sesaat setelah pasar dibuka, IHSG sempat mengalami tekanan jual jangka pendek yang membawanya masuk ke zona merah di sekitar pukul 10.00 WIB.
Luapan aksi ambil untung sesaat dari para pelaku pasar domestik sempat menguji kekuatan level psikologis indeks di area bawah baseline merah.
Kendati demikian, tekanan tersebut tidak berlangsung lama karena aksi borong saham oleh investor institusi dan retail segera memberikan dorongan pembalikan arah yang solid.
Selepas pukul 10.30 WIB, grafik bergerak menanjak secara konsisten dan menembus area resisten harian.
Sepanjang tengah hari hingga memasuki pukul 14.00 WIB, laju indeks bergerak relatif stabil di zona hijau dan terus mempertahankan momentum akumulasi positif hingga menjelang lonceng penutupan pasar dibunyikan pada sore hari.
Baca juga: Peternak Menjerit Rugi: Harga Ayam Hidup Anjlok, Tapi Biaya Pakan Melonjak Tak Terkendali
Kondisi bursa yang bergairah ini turut memberikan dampak positif bagi sejumlah indeks acuan sektoral dan kelompok saham likuid lainnya.
Indeks LQ45 yang menjadi tolok ukur bagi 45 saham dengan likuiditas tertinggi dan kapitalisasi pasar besar di Indonesia, sukses menutup hari dengan kenaikan sebesar 3,64 poin atau menguat 0,66 persen menuju posisi 556,75.
Performa ini membuktikan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi penopang utama kestabilan pasar di awal bulan ini.
Apresiasi yang tidak kalah menarik juga dicatatkan oleh sektor pasar modal syariah melalui Indeks Saham Syariah Indonesia atau ISSI.
Indeks ISSI melaju kencang dengan membukukan pertumbuhan sebesar 1,89 poin atau menguat 0,96 persen, dan bertengger dengan mantap di level 198,48 pada akhir sesi.
Di sisi lain, potret pergerakan data dari beberapa indeks sektoral pelengkap seperti IDX30 dan IDX80 sepanjang hari juga memperlihatkan geliat optimisme serupa dengan masing-masing mengamankan posisi hijau di area 316,30 dan 83,64.
Perdagangan hari ini didominasi oleh pergerakan positif dengan rincian total volume saham yang ditransaksikan mencapai angka 18,61 miliar lembar saham.
Aktivitas perdagangan yang masif ini menghasilkan total nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp10.279,20 miliar, sebuah angka perputaran modal yang cukup likuid untuk pembukaan bulan baru.
Frekuensi transaksi harian tercatat sangat padat, di mana para pemodal melakukan aktivitas jual-beli sebanyak 1,57 juta kali.
Kepercayaan pasar juga tercermin jelas dari bentangan peta emiten, di mana sebanyak 573 saham berhasil melesat naik, berbanding terbalik dengan 423 saham yang terpaksa melemah.
Baca juga: Listrik Sering Dipadamkan PLN: Warga Kecewa, Industri Terhambat, Pedagang Rugi, Investor Was-was
Melihat lebih dalam pada peta perdagangan emiten secara individu, beberapa saham raksasa tercatat menjadi motor penggerak utama sekaligus magnet perputaran dana terbesar bagi para investor.
Posisi pertama saham paling teraktif berdasarkan nilai transaksi ditempati oleh emiten terafiliasi Barito Group, yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk dengan kode emiten TPIA.
Saham TPIA mencatatkan nilai perdagangan fantastis senilai Rp828,88 miliar dengan total volume mencapai 484,09 juta lembar saham, ditutup pada level harga Rp1.680 per lembar.
Sektor perbankan pelat merah juga tidak mau ketinggalan dalam mengamankan arus modal masuk.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan kode BBRI menguntit ketat di posisi kedua dengan total nilai transaksi mencapai Rp814,48 miliar, memperdagangkan 302,06 juta lembar saham dan berakhir di harga Rp2.670.
Menyusul di belakangnya, bank swasta terbesar tanah air PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA sukses membukukan nilai transaksi sebesar Rp702,70 miliar untuk 124,09 juta lembar saham yang berpindah tangan, ditutup di harga Rp5.600.
Emiten perbankan lainnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI, turut menorehkan transaksi likuid sebesar Rp542,80 miliar pada harga akhir Rp3.810 per lembar.
Di luar saham-saham berkapitalisasi jumbo, panggung perdagangan hari ini juga diwarnai oleh lompatan harga yang sangat masif dari sejumlah emiten lapis kedua dan ketiga yang masuk dalam kategori pencetak keuntungan tertinggi atau top gainers.
Saham PT Logisticsplus International Tbk dengan kode COCO sukses memimpin klasemen penguatan dengan meroket sebesar 34,375 persen.
Kenaikan drastis sebesar 44 poin ini dicapai dengan volume perdagangan 176,55 juta lembar saham.
Menyusul kesuksesan tersebut, emiten transportasi PT Batavia Prosperindo Trans Tbk dengan kode BBRM bertengger di urutan kedua setelah menguat 28,713 persen menuju level perubahan positif 29 poin.
Perhatian pasar juga tersedot pada saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk atau PADI yang melesat 28,333 persen.
Saham PADI mencatatkan volume perdagangan yang sangat masif hingga menyentuh 596,62 juta lembar saham.
Melengkapi daftar papan atas emiten berkinerja gemilang, saham BEEF tercatat naik 25,984 persen, disusul oleh emiten CSMI yang menguat 23,729 persen.
Tidak ketinggalan, emiten RATU melonjak 20,13 persen dengan lompatan nominal harga sebesar 930 poin, serta emiten tambang PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN yang naik 16,981 persen dengan volume perdagangan likuid sebesar 425,41 juta lembar saham.
Berbagai penguatan di sektor ini menyuntikkan sentimen positif tambahan bagi para pelaku pasar dalam menatap prospek investasi di sepanjang kuartal ketiga tahun ini.
(Tribunnews.com/Bobby)