Renungan Harian Kristen 2 Juli 2026 - Berdalih Bukan Pilihan
Bacaan ayat: 1 Samuel 9:21 (TB) Tetapi jawab Saul: "Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?"
Oleh Pdt Feri Nugroho
Berdalih ialah mencari-cari alasan untuk tidak terlibat sesuatu atau menghindari sesuatu. Kadang alasan bisa dibuat demi menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
Kadang alasannya nyata, namun sengaja dibuat bombastis agar terlihat meyakinkan. Ujung-ujungnya mencari pihak lain yang bisa dipersalahkan demi membenarkan diri sendiri.
Umat Tuhan menghendaki seorang raja. Meskipun itu berarti umat Tuhan sedang menolak Tuhan sebagai Raja, Tuhan menyetujui dengan syarat Ia Sendiri yang memilih siapa yang akan dijadikan sebagai raja.
Pilihan jatuh kepada Saul, seorang muda yang berperawakan baik. Namun masalahnya, posisi raja akan membuatnya beralih status.
Melalui Samuel, Allah menetapkan Saul akan menjadi raja.
Namun Saul berdalih, "Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?"
Dalilnya cukup kuat, mengingat itulah realita yang sebenarnya. Meskipun demikian, motif tidak percaya diri, nampak lebih kuat dijadikan dalih untuk menolak penggilan dan pilihan tersebut.
Tanpa sadar, Saul sedang menyandarkan kekuatannya hanya pada diri sendiri. Ia fokus pada latar belakang keluarga, posisi kesukuan dan perasaan tidak layak untuk tampil sebagai raja.
Disinilah letak persoalannya! Dari dulu hingga hari ini, tanpa sadar hukum rimba masih berlaku. Bahwa yang kuat, yang mampu dan yang cakaplah yang akan bisa memimpin orang lain.
Dalam sistem demokrasi diperlukan kampanye untuk memperlihatkan kemampuan. Setiap orang berupaya unjuk kebolehan demi dapat dipercaya untuk memimpin.
Pola ini terekam baik dalam ingatan sejarah, sehingga mereka yang dinilai mampu, maka mereka akan memimpin.
Namun ini tidak berlaku bagi Tuhan. Dalam otoritas-Nya, Allah memilih.
Saul terpilih.
Dalam hal ini Saul diajak untuk percaya bahwa Tuhan akan memperlengkapi dengan pengetahuan yang cukup untuk memimpin. Allah hanya menghendaki Saul hidup dalam ketaatan sehingga selaras dengan kehendak Tuhan.
Gereja yang telah tertata secara organisasi juga memerlukan alur pikir yang sama. Prinsip theokrasi masih tetap dipegang.
Bahwa Tuhan lah yang memiliki otoritas mutlak dalam memimpin. Dalam praktek perwujudan kepemimpinan tersebut, Allah melibatkan orang percaya.
Penting untuk tidak berdalih. Tidak bisa dihindarkan, kesibukan dunia terlalu padat. Banyak situasi menuntut konsentrasi, waktu, daya dan dana yang tidak sedikit.
Jangan sampai gara-gara hal demikian, dijadikan dalih untuk tidak terlibat. Hanya perlu keyakinan dan pilihan sikap taat dan percaya bahwa Tuhan akan memperlengkapi dengan pengetahuan yang cukup untuk berkarya. Ini tentang Tuhan, bukan tentang kita. Amin
Renungan Kristen oelh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang