DIY Alami Inflasi Bulanan 0,37 Persen pada Juni 2026, Pemicunya Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
Yoseph Hary W July 01, 2026 07:14 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami inflasi bulanan sebesar 0,37 persen pada Juni 2026. Secara bulanan, inflasi Juni 2026 lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 0,15 persen.

Kendati demikian, inflasi DIY pada Juni 2026 lebih rendah dibanding nasional yang mencapai 0,44 persen. 

Pemicu inflasi DIY: kenaikan harga BBM nonsubsidi

Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan penyumbang inflasi bulanan DIY adalah kelompok transportasi yang mengalami inflasi 2,43 persen dan memberikan andil inflasi 0,31 persen.

"Kalau kita lihat, penyumbang utama inflasi month to month (bulanan) adalah kelompok transportasi, utamanya disebabkan oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi," katanya, Rabu (1/7/2026).

Ia menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau relatif stabil, meski harga beberapa komoditas mengalami gejolak.

Sementara pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,35 persen, dan memberikan andil sebesar 0,02 persen.

Ia menerangkan komoditas utama yang mendorong inflasi Juni 2026 ialah bensin yang memberikan andil 0,24 persen. Hal ini karena PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.  

Selain bensin, komoditas lainnya yang mendorong inflasi ialah bawang merah dan bawang putih, masing-masing memberikan andil 0,04 persen. Kemudian wortel juga turut mendong inflasi dengan andilnya 0,03 persen. Tarif kereta api turut memberikan andil sebesar 0,02 persen. 

"Inflasi biasanya itu perubahan terjadi pada administered price (harga yang dikendalikan pemerintah), antara lain listrik. Beberapa waktu lalu listrik ada diskon, malah terjadi deflasi. Nah sekarang penyesuaian harga BBM nonsubsidi, Pertamax juga mengalami kenaikan. Ya ini pengaruhnya luar biasa, menjadi komoditas pertama (penyumbang inflasi)," terangnya.

"Inflasi ini kan sangat tergantung pada konsumsi dan harga. Kalau bahan bakar itu kan hampir semua digunakan, sebagai transportasi. Dampaknya biasanya spiral, transportasi ke harga barang. Tapi inflasi kita masih rendah dan masih sesuai target, kalau target kan  2,5 plus minus 1, artinya 1,5 persen hingga 3,5 persen," sambungnya.

Komoditas penahan laju inflasi

Sedangkan komoditas yang menahan laju inflasi ialah daging ayam ras dengan andil deflasi 0,05 persen, emas perhiasan dan cabai rawai memberikan andil deflasi masing-masing 0,03 persen, serta sawi hijau dan terong yang masing-masing memberikan andil deflasi 0,02 persen.

"Daging ayam ras mengalami penurunan harga pada Juni 2026. Kemudian harga emas mengalami penurunan di tingkat global, sehingga memberikan deflasi di DIY," ujarnya.

Secara tahunan DIY mengalami inflasi sebesar 2,91 persen pada Juni 2026. Meski masih terjaga, namun masih lebih tinggi dibanding sebelumnya yang hanya 2,77 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil tertinggi yaitu 0,98 persen. Komoditas penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil inflasi yang cukup tinggi yaitu 0,72 persen. Komoditas penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah beras dan minyak goreng. (maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.