Potongan Aplikator Turun Jadi 8 Persen, Driver Ojol Malah Mengeluh Penghasilan Menyusut
Hironimus Rama July 01, 2026 07:35 PM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA — Kebijakan penurunan potongan aplikator ojek online (ojol) menjadi 8 persen yang mulai berlaku pada Rabu (1/7/2026) rupanya tidak serta-merta disambut gembira oleh para mitra pengemudi.

Alih-alih berharap pendapatan meningkat karena potongan aplikasi lebih kecil, sebagian pengemudi justru merasa khawatir penghasilan mereka justru kian tergerus.

Para pengemudi mendapati bahwa kebijakan ini dibarengi dengan penyesuaian tarif perjalanan bagi pelanggan yang ikut turun.

Baca juga: Kado Manis May Day! Prabowo Teken Perpres Baru: Potongan Ojol Resmi Turun Jadi 8 Persen

Akibatnya, pendapatan bersih yang diterima pengemudi dinilai tidak mengalami kenaikan, bahkan cenderung menyusut.

Driver: "Bukannya Untung, Malah Ketar-ketir"

Saripudin Asra (51), seorang pengemudi ojol di kawasan Tanah Abang, mengungkapkan kekecewaannya di hari pertama kebijakan tersebut berlaku.

Menurutnya, pendapatan yang ia terima terasa lebih kecil dibanding biasanya.

"Baru berjalan satu hari, saya ngerasain kayaknya terpuruk. Biasanya argo pendek Rp10.400, sekarang jadi Rp10.200," kata Saripudin saat ditemui di Tanah Abang, Rabu (1/7/2026).

Saripudin mengaku merasa pendapatannya saat sistem potongan aplikator masih berkisar hingga hampir 20 persen justru lebih baik dibanding saat ini.

"Sebelum yang 8 persen ini, lumayan pendapatan saya. Sekarang saya merasa kejepit," ujarnya.

Ia mencontohkan, untuk perjalanan jarak pendek, tarif yang sebelumnya mencapai Rp10.400 kini menjadi Rp10.200.

Sementara untuk rute langganannya ke arah Slipi atau S. Parman yang biasanya menghasilkan Rp15.000-Rp16.000, kini hanya bernilai sekitar Rp11.000.

"Nanti dibagi lagi 8 persen, makin kurang. Pendapatan saya sehari paling Rp150 ribu, kadang Rp100 ribu, enggak sampai Rp200 ribu," tuturnya.

Senada dengan Saripudin, Refli (27) mengaku kebingungan karena skema baru tersebut diterapkan pada layanan hemat, bukan layanan reguler atau standar seperti yang semula ia pahami.

"Awalnya saya senang karena saya kira yang 8 persen itu buat layanan standar. Ternyata malah diterapkan ke layanan hemat. Jujur saya merasa keberatan," kata Refli.

Refli menjelaskan, pada skema sebelumnya layanan standar dikenai potongan sekitar 20 persen. Sementara layanan hemat selama ini hanya dipotong sekitar 5 hingga 10 persen.

Ia khawatir mekanisme baru ini justru membuat total potongan yang dibebankan kepadanya menjadi lebih besar dari biasanya.

"Yang saya takutkan malah potongannya lebih besar dari biasanya. Kan nanti baru ketahuan pas tengah malam setelah diakumulasi," ujarnya.

Refli, yang mengandalkan motor listrik sewaan, kini harus memutar otak lebih keras untuk menutupi biaya operasional.

Biaya sewa motor Rp50 ribu per hari, baterai Rp25 ribu, ditambah biaya makan membuat pengeluaran hariannya mencapai sekitar Rp110 ribu.

Tuntut Transparansi Aplikator

Minimnya sosialisasi terkait perubahan skema ini membuat para mitra pengemudi merasa kebingungan. Refli berharap pihak aplikator lebih terbuka mengenai perubahan mekanisme tarif agar tidak timbul salah paham.

"Harapannya lebih transparan, potongan 8 persen ini tidak dijelaskan berubahnya seperti apa. Tahu-tahu diterapkan ke layanan hemat, padahal kami mengira berlaku untuk layanan standar," tuturnya.

Meski merasa terbebani, para pengemudi seperti Saripudin mengaku belum bisa menyimpulkan dampak kebijakan ini secara menyeluruh karena baru berjalan satu hari.

Mereka masih menunggu hasil akumulasi pendapatan hingga akhir hari, dengan harapan akan ada penyesuaian yang lebih adil ke depannya.

"Mudah-mudahan cuma awal-awal saja, mungkin nanti ada perubahan lagi. Soalnya sekarang saya merasa terpuruk," ucap Saripudin.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.