Nobar Film Tanah Runtuh Jadi Refleksi Polres Trenggalek di Momen HUT Ke-80 Bhayangkara
Rendy Nicko July 01, 2026 07:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Puluhan personel Kepolisian Resor (Polres) Trenggalek bersama sejumlah tamu undangan memadati studio NSC Cinema Trenggalek.

Kehadiran mereka di bioskop tersebut dalam rangka nonton bareng (nobar) film berjudul 'Tanah Runtuh, sebuah karya sinema yang mengangkat latar belakang konflik kemanusiaan di Poso pada tahun 2005 silam.

Acara nobar ini digelar sebagai bagian dari refleksi berbangsa dan bermasyarakat dalam momentum menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara.

Film Tanah Runtuh menyuguhkan kisah menyentuh tentang keluarga, harapan, dan kemanusiaan yang tetap bertahan di tengah runtuhnya perdamaian.

Baca juga: Apresiasi Kinerja, Bupati Kediri Mas Dhito Terima Penghargaan di HUT Bhayangkara Ke-80

Lalu, cerita berfokus pada perjalanan dua orang kakak beradik, Ringgo (11) yang merupakan seorang anak penyandang down syndrome, dan adiknya, Kai (9).

Keduanya terpisah dari sang ibu berusia 40 tahun yang diperankan oleh Sigi Wimala saat kerusuhan pecah di Poso, Sulawesi Tengah. 

Dalam upaya pencarian ibunya, kakak beradik ini bertemu dengan Idham (Vino G. Bastian), seorang anggota kepolisian yang memilih teguh berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan di tengah situasi penuh ketegangan.

Film yang diproduseri oleh Denny Siregar dan disutradarai oleh Rudi Soedjarwo ini terbukti sukses menggugah emosi penonton. 

Selepas film berakhir, tidak sedikit dari puluhan penonton yang matanya berkaca-kaca karena haru.

Apresiasi mendalam terhadap karya ini salah satunya datang dari perwakilan organisasi pencak silat yang turut hadir dalam undangan tersebut.

Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Trenggalek, Teguh Wahyudi, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya atas inisiasi nobar yang dilakukan bersama jajaran kepolisian ini.

Teguh mengungkapkan betapa pentingnya menjaga persatuan, kesatuan, serta keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di mana pun berada.

"Dari film tadi menyiratkan untuk selalu menjaga Kamtibmas di wilayah masing-masing," ulas Teguh Wahyudi saat ditemui usai pemutaran film.

Ia menambahkan bahwa kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa amat sangat krusial. Sebab, jika konflik sampai pecah, seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali akan merasakan dampak buruknya.

"Sebab kalau tidak kita jaga, maka yang akan terjadi seperti itu, penyesalan yang terakhir," paparnya.

Kesan menarik juga diutarakan oleh perwakilan dari kalangan akademisi yang turut hadir dalam pemutaran film tersebut.

Sementara, Perwakilan dari STKIP PGRI Trenggalek, Lusnia Alin menerangkan, karya sinema ini memberikan sudut pandang yang kuat mengenai peran penting keluarga dan aparat penegak hukum dalam menjaga keutuhan negara.

"Dari film ini saya simpulkan bahwasanya kedua orang tua dan polisi itu sangat hebat sekali untuk memperjuangkan Indonesia maju," pungkasnya. 

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.