Curhat Ibu Korban Kekerasan Seksual di Panti Kota Bengkulu: Titipkan untuk Sekolah, Kini Anak Trauma
Hendrik Budiman July 01, 2026 07:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Air mata tak mampu lagi dibendung seorang ibu saat menceritakan kondisi anaknya yang kini mengalami trauma berat, setelah diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh salah seorang pengurus panti asuhan di Kota Bengkulu. 

Anak yang semula dititipkan di panti agar tetap bisa bersekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga, kini justru enggan kembali ke sekolah dan lebih sering mengurung diri akibat trauma yang dialaminya.

Dengan didampingi kuasa hukumnya, Tarmeizi, ibu korban mendatangi Polresta Bengkulu, Rabu (1/7/2026), untuk mempertanyakan perkembangan penanganan perkara yang telah dilaporkan hampir tiga bulan lalu. 

Mereka berharap proses hukum terhadap tersangka segera dituntaskan agar korban memperoleh keadilan sekaligus dapat menjalani pemulihan psikologis.

"Saya titipkan anak agar bisa sekolah," sesalnya.

Di hadapan wartawan, ibu korban mengaku tidak pernah membayangkan anaknya mengalami peristiwa yang begitu menyakitkan di tempat yang selama ini dipercaya dapat memberikan perlindungan.

Dengan suara bergetar, ia mengatakan keputusan menitipkan anaknya di panti asuhan semata-mata karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. 

Harapannya sederhana, yakni agar sang anak tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus putus sekolah.

Baca juga: Keluarga Pertanyakan Kelanjutan Kasus Kekerasan Seksual Anak Asuh Oleh Pengurus Panti di Bengkulu

"Atas kejadian ini saya sangat sakit, karena saya mengirim anak saya ke panti itu atas dasar ketidakmampuan saya, dengan harapan dia tidak putus sekolah," ujar ibu korban, Rabu (1/7/2026).

Namun harapan tersebut, menurutnya, justru berubah menjadi luka mendalam setelah mengetahui anaknya diduga menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh salah seorang pengurus panti asuhan tempat korban tinggal.

Korban Kini Lebih Sering Menyendiri dan Menangis

Ibu korban mengungkapkan, kondisi psikologis anaknya kini berubah drastis. Korban yang sebelumnya aktif, kini lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.

Tak jarang, korban tiba-tiba menangis tanpa sebab yang diketahui keluarga.

"Atas kejadian ini anak saya benar-benar trauma. Sekarang anak saya lebih sering menyendiri, kemudian sering tiba-tiba menangis. Saya sangat tidak menerima jika anak saya seperti itu, yang dalam hal ini dilakukan oleh pengurus di panti itu sendiri," katanya.

Trauma tersebut, lanjutnya, juga berdampak terhadap pendidikan anaknya. Hingga kini korban disebut tidak lagi memiliki semangat untuk kembali bersekolah.

"Saya sangat sedih melihat kondisi anak saya ini. Sekarang dia sudah tidak mau sekolah lagi karena masih trauma. Jika ini berlangsung terus saya khawatir dengan masa depan anak saya," ucapnya.

Dugaan Terungkap Setelah Korban Bercerita kepada Guru

Dugaan peristiwa itu baru terungkap setelah anaknya tidak lagi sanggup menahan beban yang selama ini dipendam.

Korban akhirnya memberanikan diri menceritakan dugaan perbuatan yang dialaminya kepada seorang guru di sekolah.

"Pertama kali mengetahui hal itu, anak saya ini sudah tidak tahan lagi atas perbuatan terduga pelaku yang diduga lebih dari satu kali melakukan perbuatannya kepada guru di sekolah," tuturnya.

Setelah mendengar pengakuan korban, guru tersebut kemudian melaporkan dugaan kekerasan seksual yang dialami siswanya kepada pihak terkait sehingga perkara tersebut akhirnya diproses secara hukum.

Berharap Pelaku Segera Diproses

Sebagai seorang ibu, ia mengaku hanya menginginkan keadilan bagi anaknya. Ia berharap terduga pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai proses hukum yang berlaku.

"Keinginan saya ke depan agar terduga pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan terduga pelaku dapat diproses cepat," katanya.

Sementara itu, kuasa hukum korban, Tarmeizi, menyampaikan pihaknya bersama keluarga mendatangi Polresta Bengkulu untuk mempertanyakan perkembangan perkara.

Karena hingga hampir tiga bulan sejak laporan dibuat, keluarga mengaku belum memperoleh kepastian, meski penyidik telah menetapkan pengurus panti asuhan berinisial JS sebagai tersangka.

Di sisi lain, PS Kasat Reskrim Polresta Bengkulu, AKP Frengki Sirait, memastikan proses penyidikan masih berjalan. 

Menurutnya, penyidik kini tengah merampungkan berkas perkara dan dalam waktu dekat akan melimpahkannya kepada jaksa penuntut umum untuk penelitian lebih lanjut. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.