TRIBUNNEWS.COM – Krisis yang melanda sepak bola Jerman semakin dalam setelah Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) menjadi sasaran penggerebekan aparat kepolisian, hanya sekitar 36 jam setelah Die Mannschaft tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Penggerebekan dilakukan pada Rabu (1/7/2026) pagi waktu setempat.
Menurut laporan City AM, lebih dari 150 petugas polisi dikerahkan untuk menggeledah kantor pusat DFB di Frankfurt serta sejumlah balai kota di kota-kota yang menjadi tuan rumah Euro 2024.
Penyelidikan tersebut berkaitan dengan dugaan praktik penyuapan yang melibatkan pemberian fasilitas gratis kepada sejumlah pejabat pemerintah, seperti tiket pertandingan, perjalanan, dan akomodasi hotel selama penyelenggaraan Euro 2024.
Kasus ini mencuat hanya beberapa saat setelah Jerman mengalami kegagalan besar di Piala Dunia 2026 usai disingkirkan Paraguay melalui adu penalti pada babak 32 besar pada Selasa (30/6/2026).
Kekalahan tersebut sekaligus membuat Jerman kembali gagal melangkah jauh di Piala Dunia untuk edisi ketiga secara beruntun.
Mereka adalah juara 2014, namun di edisi 2018 dan 2022 Jerman hanya mentok tampil di babak fase grup.
Hasil tersebut bertolak belakang dengan prediksi seorang Football Enthusiast, Agung Iqbal Ramadhan, yang sebelumnya memperkirakan Jerman akan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Selain itu, superkomputer Opta juga memprediksi Jerman memiliki peluang lolos ke babak 16 besar sebanyak 79,50 persen.
"Jerman dan Paraguay, kemungkinan Jerman akan melaju ke babak 16 besar dan akan bertemu dengan Prancis," ujar Agung dalam podcast Super Taktik Tribunnews berjudul "Babak Baru Piala Dunia 2026: Eropa Saling Jegal, Argentina Mulus?" di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Mengenai penggrebekan tersebut, penyidik menduga terdapat pejabat panitia penyelenggara yang memberikan berbagai fasilitas kepada pejabat kota tuan rumah sebagai bentuk keuntungan yang tidak semestinya.
Menteri Dalam Negeri Jerman, Herbert Reul, menegaskan bahwa aparat akan menindak tegas setiap dugaan penyalahgunaan wewenang.
"Tiket sepak bola bukanlah bagian dari gaji. Siapa pun di layanan publik yang mengulurkan tangan dapat mengharapkan kunjungan dari kami," ujar Reul.
Polisi dan jaksa dalam pernyataan bersama menyebut penyelidikan juga mencakup dugaan pemberian tiket semifinal Euro 2024 antara Spanyol dan Prancis kepada sejumlah pejabat.
Baca juga: Tiga Piala Dunia Beruntun Gagal, Legenda Jerman Bongkar Dugaan Konflik Internal Die Mannschaft
Menurut penyidik, panitia penyelenggara diduga menawarkan hak prioritas pembelian tiket kepada kota-kota tuan rumah yang kemudian dimanfaatkan dengan berbagai cara.
"Subjek investigasi diduga menerima keuntungan yang tidak sah, termasuk hak menonton pertandingan sepak bola internasional, yang diberikan oleh pihak-pihak di dalam panitia penyelenggara," demikian isi pernyataan bersama kepolisian dan kejaksaan.
Selain itu, penyidik juga menelusuri mekanisme distribusi tiket yang diduga memberikan keuntungan kepada pihak tertentu di luar prosedur resmi.
Di sisi lain, perhatian publik juga masih tertuju pada kegagalan timnas Jerman di Piala Dunia 2026.
Pasukan Julian Nagelsmann harus mengakhiri langkah mereka di babak 32 besar setelah kalah adu penalti 3-4 dari Paraguay usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Adu penalti tersebut menjadi sorotan karena beberapa pemain Jerman disebut enggan menjadi eksekutor sebelum akhirnya bek Jonathan Tah maju sebagai penendang terakhir.
Tendangannya melambung di atas mistar gawang dan memastikan Paraguay lolos ke babak 16 besar.
Sorotan utama justru tertuju pada rapuhnya lini pertahanan Jerman sepanjang turnamen.
Timnas Jerman kembali gagal mencatatkan satu pun clean sheet, sebuah masalah yang terus menghantui Die Mannschaft dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir.
Akibatnya, Neuer kini tercatat telah kebobolan dalam 10 pertandingan Piala Dunia secara beruntun, menyamai rekor terburuk sepanjang sejarah yang sebelumnya dipegang legenda Meksiko, Antonio Carbajal, dikutip dari Sportbible.
Seusai pertandingan, Nagelsmann mengakui timnya memang pantas tersingkir.
"Jika Anda tidak bisa mengalahkan Paraguay selama 120 menit, maka Anda memang pantas tersingkir. Anda tidak boleh bergantung pada keberuntungan lawan atau ketidakberuntungannya," ujar Nagelsmann.
Pelatih berusia 38 tahun itu juga menilai performa timnya menunjukkan bahwa Jerman tidak lagi layak disebut sebagai kekuatan elite dunia.
"Jika Anda tersingkir oleh Paraguay, Anda bukanlah tim sepak bola kelas satu. Saya sangat kecewa," katanya.
Kegagalan tersebut memunculkan spekulasi mengenai masa depan Nagelsmann sebagai pelatih timnas Jerman.
Sejumlah laporan bahkan mengaitkan mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, sebagai kandidat yang berpotensi menggantikannya apabila DFB memutuskan melakukan pergantian pelatih setelah Piala Dunia 2026.
(Tribunnews.com/Ali)